GIIAS 2019, Sajikan Perkembangan Otomotif Terkini

SURABAYA (Suarapublinews) – Sebagai kota terbesar kedua, Surabaya memiliki potensi besar untuk memperkenalkan model dan teknologi baru dari kendaraan terkini. Hal ini yang melatarbelakangi GIIAS The series 2019 memilih Surabaya sebagai kota pertama penyelengaraan.

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, Yohannes Nangoi mengatakan penjualan otomotif di Indonesia dalam setahun terakhir semakin merata. Jika selama ini penjualan didominasi di pulau Jawa, namun saat ini tidak lagi.

“Pertama adalah Jawa Barat, kedua DKI Jakarta dan ketiga Jawa Timur. Dan ini presentasenya 13,12 persen. Jadi cukup besar. Apalagi kalau kita lihat dari 8 tahun yang lalu penjualan otomotif itu terkonsentrasi di pulau Jawa sebesar 82 persen. 18 persennya di luar Jawa,” kat

Gaikindo memiliki keyakinan bahwa GIIAS Surabaya yang mengangkat tema Future in Motion menjadi awal yang baik untuk permulaan GIIAS The Series.

“Jawa Timur memiliki sejarah yang baik dalam penjualan kendaraan bermotor terutama mobil penumpang dan komersial. Melalui GIIAS Surabaya kami ingin mengajak masyarakat Jawa Timur untuk bisa menikmati perkembangan kendaraan motor terkini,” paparnya Nangoi.

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terus mendorong industri kendaraan bermotor di Tanah Air. Pasalnya, sektor ini telah menjadi salah satu andalan industri manufaktur dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

“Pemerintah bertekad untuk terus menciptakan iklim usaha yang kondusif agar dapat mendorong penambahan investasi baru maupun perluasan usaha di sektor industri otomotif,” kata pada Opening Ceremony Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS 2019).

Saat ini produk kendaraan bermotor diakui telah mampu bersaing di pasar internasional. Daya saing ini tidak terlepas dari pengoptimalan komponen lokal yang semakin meningkat. “Tekad ini yang menjadi kunci keberhasilan dari sektor industri otomotif nasional, yang diharapkan mampu menjadi hub bagi pasar Asean bahkan di tingkat Asia,” lanjutAirlangga.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, mencatat ekspor mobil sebanyak 346.000 unit atau senilai 4,78 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Terbagi menjadi mobil CBU di angka 264.000 unit dan yang bentuk CKD sekitar 82.000 unit. Di tahun 2019 ini, ekspor mobil digenjot dengan target mencapai 400 unit – 450 unit.

Kenaikan juga dialami ekspor komponen yang tercatat di angka 86,6 juta pcs pada 2018 atau tumbuh 6,6 persen dibanding tahun sebelumnya sebanyak 81,2 juta pcs. Kinerja positif lainnya ditunjukkan melalui capaian produksi kendaraan roda empat atau lebih pada tahun 2018 yang memembus hingga 1,34 juta unit atau setara 13,76 miliar dolar AS.

“Kalau pasar domestik, kita lebih unggul dari Thailand. Kami menargetkan, produksinya nanti bisa mencapai 1,5 juta unit pada tahun 2020,” jelas Airlangga.

Apalagi, saat ini industri otomotif di Indonesia telah berkembang menjadi basis produksi kendaraan jenis MPV, truck, dan pick-up yang pengembangannya diarahkan untuk meningkatkan ekspor ke pasar global dengan target besarnya sebagai pemasok kendaraan jenis sedan dan SUV.

“Kami juga mendorong agar manufaktur-manufaktur otomotif dalam negeri dapat merealisasikan program pengembangan kendaraan rendah emisi atau Low Carbon Emission Vehicle (LCEV),” imbuhnya.

Melalui program tersebut, ditargetkan pada tahun 2025 kendaraan berbasis energi listrik dapat mencapai sekitar 20 persen.

Terkait pengembangan industri otomotif nasional, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menuturkan, wilayah Jawa Timur memiliki potensi yang cukup besar untuk semakin menumbuhkan IKM komponen kendaraan.

“Apalagi, adanya Trans-Jawa yang sudah terhubung. Ini dapat mengimbangi Detroitnya Indonesia yang ada di Bekasi, Karawang dan Purwakarta,” katanya.

Bahkan, adanya industri bahan baku baterai lithium di Morowali, Sulawesi Tengah, juga menjadi peluang bagi Jawa Timur untuk menarik investor pembuatan baterai yang bisa digunakan kendaraan listrik.

“Nanti bisa dikembangkan kawasan industri baru di sini. Jadi banyak potensi industrialisasi di Jawa Timur. Kami siap memfasilitasinya,” ujar Emil yang menyebut pihaknya sudah memetakan kawasan industri baru yang akan terintegrasi dengan infrastruktur pendukung di Jawa Timur. (q cox, Tama Dinie)

Reply