Ingin Bertahan di Bisnis Kuliner, Inovasi Dan Kreatifitas Kuncinya

SURABAYA (Suarapubliknews) – Kreativitas pelaku bisnis kuliner terus meningkat seiraing perkembangan di bisnis kafe dan restoran. Menariknya bisnis ini diisi kaum milineal, Mereka melihat bahwa pasar segmen fod and beverage dengan konsumen anak muda juga cukup gemuk.

Chef & Kitchen Consultant, Mandif Warokka, tren bisnis food and beverage terus berkembang. Jika saat ini rata-rata masih dalam tahap life style oriented atau berorientasi pada gaya hidup, namun pada 5-10 tahun ke depan diperkirakan akan berubah ke product oriented.

“Saat ini tren bisnis kafe dan resto di Tanah Air masih berkiblat pada Singapura, Hongkong, Jepang, dan Korea. Namun ini akan terus berubah. Makanya kalau pebisnis food and beverage hanya diam saja, dalam tiga tahun ke depan akan tergilas,” katanya.

Perubahan yang cepat akan tren tersebut tak lepas dari perkembangan teknologi dan informasi terutama di kalangan kaum milenial. Dia menyebut, ada tiga hal yang melekat pada diri anak muda saat ini, yakni sosial media, travelling, dan aplikasi di gawai yang mudah didapat untuk memenuhi kebutuhan mereka.

“Namun bagi bisnis food and beverage semua itu bisa melingkupi. Karena apa, di industri ini butuh experience. Namun masing-masing kota trennya berbeda-beda. Jika di Surabaya lebih ke lisfe style, di Jakarta beda lagi, karena sudah mendekati ke product oriented. Beda tipis dengan Bali,” lanjut Mandif.

Owner Restomart, Damian Pius menjelaskan, inovasi di bidang usaha kuliner bukan saja mencakup layanan dan produk, namun juga semua hal termasuk perlengkapan pendukung. “Saat ini tren kafe dan resto adalah space tak terlalu besar dan lebih efisien seiring kian mahalnya harga lahan di kota besar, namun tetap mengakomodir kebutuhan konsumen. Misalnya saat ini tren cenderung ke showing kitchen, dan sebagainya,” terangnya.

Selain ke arah standardisasi peralatan dan sumber daya manusia, ke depan restoran dan kafe berteknologi tinggilah yang akan menjadi tren. ’’Orang-orang masa kini sudah tidak bisa dijauhkan dari teknologi. Itu cara paling efektif untuk mempertahankan pelanggan sekaligus menambah yang baru,’’ ungkap Pius.

Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restauran (Apkrindo) Jawa Timur, Tjahjono Haryono menuturkan, pada tahun 2018 lalu pertumbuhan bisnis kafe dan restoran di Jawa Timur mencapai sekitar 20 persen.

“Setiap tahun banyak bermunculan pemain baru di bisnis ini. Kami pun di Apkrindo Jatim selalu menerima pengajuan anggota baru setiap tahunnya. Dan yang mecengangkan adalah pelaku bisnis ini didominasi anak muda dengan usia 20-30 tahun,” katanya.

Dengan makin ramainya pelaku bisnis tersebut, menuntut setiap pengelola untuk terus kreatif dan berinovasi. ’’Kalau ingin bertahan lama, ya harus rajin berinovasi. Mulai menu, teknologi, hingga equipment,’’ ungkapnya.

Tjahjono menambahkan, konsumen zaman now tidak ragu merogoh kocek dalamdalam demi makanan atau minuman yang sedang tren. Asalkan harga yang mereka bayar sebanding dengan yang mereka dapatkan. Karena itu, para pebisnis restoran dan kafe harus selalu meng-update wawasan mereka soal kuliner.

Menurut Tjahjono, nilai transaksi industri food and beverage di Indonesia cukup besar. Sepanjang tahun lalu saja nilai pasar industri yang bergerak di food and beverage mencapai lebih dari Rp 800 triliun. Di Surabaya, nilai PAD dari sektor restoran berkisar Rp 450 miliar. ’’Itu angka yang besar. Artinya, prospek bisnis industri ini masih sangat cerah,’’ ungkapnya.

Meski pada semeser I tahun 2019 ini pasar kafe dan restoran di Tanah Air cenderung stagnan, namun dia melihat peluang bisnis ini masih sangat terbuka. “Oleh karena itu jangan takut berionasi, tapi terpenting adalah pebisnis harus bisa spending money dengan pandai melihat pasar dan tren yang ada. Makanya kami dari Apkrindo Jatim selalu update dan akif menggelar edukasi dan pertemuan antar anggota seperti ini,” pungkasnya. (q cox, Tama Dinie)

Reply