Ini Hasil Diskusi Soal Bahaya Laten PKI di Kantor MPC Pemuda Pancasila Surabaya

SURABAYA (Suarapubliknews.net) – Maraknya peredaran kaos dengan gambar palu arit yang identik dengan simbol Partai Komunis Indonesia (PKI) memang terus menjadi perbincangan hampir seluruh bangsa ini, termasuk warga Kota Surabaya.

Bertempat di Kantor MPC Pemuda Pancasila Kota Surabaya jl Jagung Soeprapto Surabaya, Ormas binaan La Nyalla Matalitti ini menggelar acara diskusi santai dengan tema “ Indonesia Darurat Komunis”. Sabtu (28/5/2016)

Hadir sebagai narasumber, Drs Arulkhan (tokoh pergerakan dan pelaku sejarah), Agus Muslim (wakil dari ormas PP), serta Kompol Mahmud Kepala SPK Polrestabes yang hadir mewakili undangan Kapolrestabes Surabaya. Sementara pemadu acara dipercayakan kepada Rini Kusuma presenter salah satu stasiun televisi regional yang berkantor pusat di Surabaya.

Sebagai ketua penyelenggara, Nurdin Longari dalam sambutannya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut serta menghentikan semua gerakan komunis, bila perlu turut menangkap oknumnya dimanapun berada.

“Kini Indonesia tidak hanya darurat narkoba dan pencabulan, tetapi juga darurat komunis, untuk itu kami akan turut berperan aktif menghentikan seluruh gerakan kaum dan pendukung PKI yang mulai mencoba bangkit di wilayah Kota Surabaya,” tegasnya.

Sementara Drs Arulkhan salah satu pembicara mengaku jika dirinya menjadi salah satu anak bangsa yang mengetahui (saksi sejarah tahun 1965-red) bahkan sempat terlibat didalam gerakan salah satu ormas underbow PKI, yang kemudian memutuskan untuk menarik diri setelah mengetahuinya, lantaran kecewa.

“Komunis terus berusaha meracuni negara ini melalui berbagai lini, baik UU maupun Hukum, silahkan komunis muncul kembali, mumpung kami dan kita semua masih kuat untuk melawan dan menghancurkannya,” paparnya.

Hal senada juga dikatakan oleh Agus Salim, bahwa saat ini komunis telah berganti baju dan atribut, masuk melalui berbagai jalur, utamanya dibidang pendidikan.

“Makanya mulai banyak anak sekolah yang berani memakai kaos palu arit, tanpa mengetahui arti dan maknanya, karena mendapat doktrin bahwa kondisi di negara ini sudah cair, sudah tidak ada lagi perbedaan antara komunis dengan faham yang lain, harusnya pendidikan PMP itu kembali digalakkan” jelasnya.

Mewakili intitusi Kepolisian, Kompol M Mahmud menyatakan bahwa pihaknya sangat siap bahkan sudah bergerak dengan sistem kiri dan kanan, namun sebagai aparat penegak hukum tidak boleh keluar dari koridornya, yakni berpedoman kepada KUHP.

Namun Mahmud juga mengingatkan kepada semua pihak termasuk Ormas di Kota Surabaya agar tidak melakukan tindakan diluar koridor hukum, manakala mendapati hal-hal yang bernuansa PKI.

“Karena sekarang eranya berbeda, jadi harus melihat dari sisi hukum, serahkan penindakannya kepada pihak yang terkait, jangan bertindak masing-masing, dan salah satu antisipasi kepolisian adalah soal perijinan tempat-tempat pertemuan yang sifatnya mengumpulkan massa ” terangnya.

Menanggapi telah banyaknya pemuda yang memakai kaos bergambar palu arit di kota Surabaya, Mahmud mengatakan jika dasar penindakannya tetap KUHAP dan KUHP, jadi masih diperlukan proses termasuk syarat yakni dua alat bukti atau saksi juga pendapat ahli.

Ada yang menarik di diskusi ini, karena salah satu mahasiswa Unitomo Surabaya menyampaikan pertanyaan yang cukup menggelitik para narasumber. Apa benar PKI itu sama sekali tidak ada gunanya bagi negara ini, padahal katanya melakukan pembelaan terhadap kaum buruh dan petani? Karena kami hanya mendengar paparan soal buruk dan kejamnya PKI dari narasumber.

Mendengar pertanyaan ini, semua narasumber terlihat keki, demikian juga dengan undangan yang hadir, karena terkesan ada pembelaan terhadap PKI.

Terkesan emosi, Arulkhan menjawab bahwa kekejaman komunis di Indonesia adalah fakta historis yang tak bisa dipungkiri, solusinya kembali ke rumah yakni ke agama dan Pancasila sebagai falsafah negara.

Menanggapi hal ini, Agus salim mengatakan bahwa semua organisasi itu awalnya pasti bertujuan baik karena berkaitan dengan rekrutmen, tetapi jika sejarah PKI itu hanya keburukan, itu memang faktanya. Jadi persoalannya bukan tentang manfaat atau tidak, tetapi endingnya seperti apa.

Sepertinya diskusi dengan waktu hanya satu setengah jam ini tidak cukup untuk mengupas seluruh materi yang sedang diperbincangkan, sehingga penyelenggara berniat akan mengadakan diskusi lanjutan. (q cox)

Reply