ITS Surabaya Rancang Pendeteksi Gempa Via SMS

Berawal dari saran yang diberikan dua dosennya, seorang mahasiswa ITS Jurusan Teknik Sipil membuat alat pendeteksi gempa. Software buatan mahasiswa angkatan 2010 ini, langsung mengirimkan data gempa via Short Message Service (SMS).

SURABAYA (SPNews) – Adalah Robiy ‘Ul ‘Ars Al-Maliki, nama mahasiswa ITS Jurusan Teknik Sipil yang merancang software peringatan gempa tersebut. Dengan dibimbing Nisfu Asrul Sani SKom MSc, mahasiwa yang biasa dipanggil Robi ini terus mengembangkan idenya itu.

Inisiasi kemunculan ide membuat alat pendeteksi gempa dan sebuah software yang akan mengirimkan data peringatan via SMS itu berawal dari sebuah tantangan yang diberikan Dr Ir Amien Widodo MS dan Data Iranata PhD, dua dosen Robi di Teknik SIpil, ketika Robi akan membuat tugas akhir.

Robi pun mempertimbangkan ide itu dan langsung melakukan riset. Akhirnya, Robi pun mencoba untuk mewujudkan ide kedua dosennya tersebut dengan pertimbangan alat itu masih baru dan hingga saat ini softwarenya belum memiliki nama.

“Softwarenya sendiri belum memiliki nama dan hingga saat ini belum ada nama yang dipatenkan untuk alat dan software tersebut. Jadi, karya ini masih terbilang masih baru. Namun saat ini semuanya masih membutuhkan uji coba, “ ujar Robi.

Ketertarikan RObi untuk bisa menyelesaikan tugas akhirnya itu karena ia mengamati jika gempa yang sering terjadi selama ini selalu saja memakan korban jiwa. Selain itu kerugian materiil yang ditanggung juga cukup besar.

“Hal itu disebabkan kurang cepatnya peringatan yang diberikan kepada masyarakat. Dengan mengamati fenomena ini, kami dari Teknik Sipil ITS mencoba untuk mengurangi dampak terburuk jika terjadi sebuah gempa pada sebuah bangunan, “ ungkap Robi.

Lalu bagaiman dengan alat yang diciptakannya ini? Robi pun mengatakan jika alat yang dibuatnya ini dapat digunakan pada bangunan berstruktur beton. Karya Tugas Akhir (TA)-nya yang berjudul Aplikasi Sistem Peringatan Dini pada Komponen Struktur Beton ini dapat digunakan pada bangunan gedung maupun jembatan.

“Alat ini menggunakan sensor straingauge untuk mendeteksi keretakan beton. Sensor straingauge sendiri merupakan sensor yang digunakan untuk membaca seberapa besar perpindahan yang terjadi pada material bangunan. Data yang diterima oleh sensor tersebut akan di-record menggunakan alat yang bernama Data Logger, sebuah alat penghitung kondisi bangunan yang dipengaruhi oleh lingkungan, khususnya beban pada permasalahan kali ini, “ papar Robi saat mendemonstrasikan alatnya di Laboratorium Struktur Jurusan Teknik Sipil ITS.

Data yang terekam oleh Data Logger tersebut, sambung Robi, juga akan terekam otomatis ke software yang dibuatnya itu. Sofware tersebut yang nantinya akan menentukan antisipasi apa yang harus dilakukan oleh pihak yang berkaitan dengan permasalahan tersebut juga masyarakat sekitarnya.

“Misalkan saja di suatu apartemen ada indikasi terjadinya gempa berbahaya, maka akan disampaikan permasalahan itu kepada para penghuni apartemen melalui SMS untuk menyelamatkan diri,” kata Robi.

Menyikapi karya Robi ini, Nisfu Asrul Sani SKom MSc, salah satu dosen yang ikut mengembangkan software pemberitahuan gempa ini menambahkan Kalau tempat-tempat umum seperti itu pasti sudah ada pendataan, sehingga tidak sulit untuk memprogram nomor handphone siapa saja yang akan dikirimi pesan peringatan tersebut.

“Khusus untuk jembatan, pesan peringatan melalui SMS langsung dikirim ke pemerintah untuk dapat mengambil kebijakan dengan cepat. Hal tersebut sebagai upaya untuk meminimalkan korban atas terjadinya gempa yang terjadi, “ ungkap Nisfu Asrul Sani.

Asrul Sani menambahkan, nantinya kemungkinan ITS juga akan bekerja sama dengan perusahaan provider untuk menyampaikan pesan peringatan ini karena alat yang digunakan untuk gedung dan jembatan ini pun berbeda.

“Gedung menggunakan alat sensor yang disebut akselerometer yang harus diletakkan di bagian atas atau atap bangunan, sedangkan jembatan menggunakan Lateral Vertical Displacement Transducer (LVDT) yang dipasang di besi maupun beton tepat di tengah bentang jembatan, “ paparnya.

Diakhir pembicaraannya, Sani mengatakan bahwa posisi pemasangan sensor tersebut memperhitungkan momen ultimate atau besar perpindahan terbesar yang terjadi pada benda. Kalau gedung yang lebih mudah goyah kan bagian tertingginya utuk itu dipasang di atap. Sedangkan kalau jembatan titik beratnya ada di tengah, lendutan terbesarnya ada di bagian tengah.(q coz, Elang)

Reply