Kontes Ayam Bekisar ke 15 Terselenggara di Surabaya

Kompetisi ayam Bekisar tingkat nasional tahun 2013 kembali digelar. Dalam kompetisi ke 15 ini, Surabaya dipilih sebagai tuan rumah. Tercatat 200 ayam bekisar dari berbagai kota ambil bagian dalam kontes ini.

SURABAYA (SPNews) – Terpilihnya Surabaya sebagai tuan rumah dalam kontes ayam Bekisar tingkat nasional yang digagas Paguyuban Ayam Bekisar Arek Suroboyo (PABAS) ini, karena Surabaya sudah menjadi barometer dan makin banyaknya penggemar ayam Bekisar.

Bertempat di Lapangan Bogowonto Surabaya, kontes kali ini hanya melombakan suara saja. Meski demikian, ada 3 tingkatan suara yang dilombakan dalam kontes yang digelar Minggu (06/10) mulai pukul 09.00 Wib ini.

Nanang Mujiharto, pengurus Keluarga Penggemar Bekisar Indonesia (KEMARI) menjelaskan, terpilihnya Surabaya sebagai tempat kontes ayam bekisar tingkat nasional ke-15 ini, selain penggemar ayam bekisar di Surabaya jumlahnya sangat banyak, Surabaya mudah dijangkau para peserta dari daerah lain.

“Kami menyebutnya daerah tengah. Daerah yang dimaksud itu adalah Jawa Tengah, Daerah Khusus Yogyakarta (DIY) dan Madura. Para peserta yang ikut dalam kontes ini berasal dari Jakarta, Jambi, Bogor, Bandung, Purwokerto, Temanggung, Magelang, Jogja, Solo, Madiun, Trenggalek, Malang, Madura, Bondowoso, Situbondo dan Bali, “ kata Nanang.

Ayam Bekisar sendiri, lanjut Nanang, hasil persilangan antara ayam hutan jantan hijau dengan ayam kampong. Persilangan alamiah ini menghasilkan keunikan fisik maupun suara yang berbeda pada setiap ayam.

“Awalnya, orang mengenal Pulau Kangean sebagai barometer dan pusat perkembangbiakan ayam bekisar. Begitu juga dengan komunitas penggemarnya. Sekarang, seiring dengan perkembangan waktu, daerah-daerah lain bahkan lebih maju dalam hal mengembangbiakkan ayam bekisar, begitu juga dengan komunitas penggemarnya, “ ungkap Nanang.

Masih menurut Nanang, daerah yang saat ini sudah mengalahkan Kangean dalam hal pembudidayaan dan banyaknya komunitas pecinta ayam bekisar yang terbentuk itu misalnya Surabaya, Trenggalek, Probolinggo dan Situbondo.

Lebih lanjut Nanang menjelaskan, sebelumnya, kontes ayam bekisar tingkat nasional ke-14 digelar di Bondowoso dengan jumlah peserta 140 ayam. Disana, yang dilombakan adalah suara ayam bekisar. Kompetisi ke-15 di Surabaya ini, juga melombakan suara, dengan jumlah peserta 200 ayam.

“Untuk kategori lomba suara ini, dibagi menjadi tiga kelas. Utama diikuti 43 ayam, kelas Madya diikuti 70 ekor ayam dan sisanya untuk kelas Pratama. Biaya pendaftarannya pun berbeda. Untuk kelas utama dikenakan biaya Rp. 150 ribu per ayam satu kali lomba, kelas Madya Rp. 125 ribu dan kelas Pemula dikenakan biaya Rp. 100 ribu, “ ungkap Nanang.

Nanang pun berpendapat, sejauh ini minat masyarakat untuk menjadi penghobi ayam bekisar masih cukup tinggi karena mereka bisa menggantungkan perekonomian mereka, juga dari ayam bekisar. Mengapa bisa seperti itu? Jika seekor ayam bekisar seringkali menjuarai kontes, harga ayam itu akan melambung.

“Kami mencatat, dulu pernah ada seekor ayam Bekisar yang diberi nama Sultan milik seorang warga Madura, diberi Ali Badri dengan harga Rp. 85 juta. Kini, ayam itu sudah mati. Ketika masih sering berlaga di setiap kontes, Sultan 10 kali meraih gelar juara, “ pungkasnya.

Terpisah, Ketua Panitia Hariadi menjelaskan, setelah menggelar kompetisi di Surabaya ini, kompetisi ayam bekisar tingkat nasional selanjutnya akan digelar di Jogjakarta, Jakarta dan diperkirakan akan kembali ke Jakarta.

“Kami mentargetkan, di tahun 2013 ini, 22 kompetisi ayam bekisar tingkat nasional harus digelar. Namun, kami belum memikirkan untuk mengundang para juara di tiap kompetisi, untuk diadu kembali dalam sebuah kompetisi akbar untuk mencari siapa juaranya, “ ujar Hariadi.

Rencana itu nampaknya akan sulit direalisasikan, karena tidak semua para juara kompetisi terdahulu, bisa seluruhnya hadir dan mengikuti kompetisi khusus untuk para juara ini. Faktor lain yang menjadi kendala adalah factor iklim atau cuaca.(q cox, Elang)

Reply