Sikapi Insiden Asrama Mahasiswa Papua, Gabungan Elemen Arek Suroboyo Gelar Diskusi Publik

SURABAYA (Suarapubliknews) – Sejumlah elemen mesyarakat Surabaya menggelar diskusi publik dengan tema ‘Rembug Suroboyoan Mengawal Merah Putih’, yang bertujuan untuk turut mengawal pemerintahan Jokowi-Maruf Amin dengan cara turut menjaga stabilitas nasional. Sabtu (31/08/2019)

Tema ini diangkat, karena belakangan NKRI mulai kembali tercabik akibat munculnya insiden di asrama mahasiswa Papua jl Kalasan Surabaya, yang akhirnya merembet ke berbagai daerah hingga Manukwari-Papua (Irian Jaya).

Hadir sebagai narasumber, arek-arek Suroboyo seperti Bambang Budiono (akademimis Fisip Unair), Teddy Wibisana (Dewan Penasehat Almisbat), Teguh Prihandoko (Koordinator Ksatria Airlangga), Chrisman Hadi Ketua DKS), dan Heru Hendatmoko (manatan ketu AJI)

Dalam paparannya, Teddy Wibisana mengatakan bahwa dirinya bersama elemen lain di Surabaya ingin melihat kondisi politik dan ekonomi pasca Pemilu (Pilpres dan Pileg), yang ternyata diwarnai gerakan ekstrim.

“Terbaru insiden di asrama papua. Yang reaksional terhadap insiden perobohan tiang bendera maupun aksi balasan di Papua itu dua-duanya merupakan tindakan ekstrim yang menurut kami tidak bisa dibenarkan, karena dampaknya instabilitas nasional,” ucapnya di Komplek Balai Pemuda.

Terkait ekonomi, Teddy tetap berharap agar peningkatannya sesuai target karena sangat mempengarui kebutuhan kesempatan kerja. “Jika kemarin itu targetnya 5,4%, ternyata hanya mencapai 5,17%. Maka kami berharap di periode kedua ini bisa melampauinya,” tandas Komisaris BUMN PT.Indofarma ini.

Tidak hanya itu, Teddy juga sempat menyampaikan kritik kepada Menteri BUMN agar tidak lagi membuat statemen atau kebijakan yang berpotensi memunculkan kegaduhan, karena bagaimanapun akan menyangkut wibawa Presiden Jokowi. “Sebagai Menteri seharusnya bisa menjaga marwah Presiden,” pesannya.

Sementara menurut Teguh Prihandoko Kordinator Ksatria Airlangga, pemerintah seharusnya bertindak tegas terhadap pelaku aksi di beberapa lokasi di tanah air. Baik di Malang, Surabaya, Makasar, dan Papua sendiri, terkait insiden Asrama Mahasiswa Papua.

“Terutama kepada mereka yang terindikasi kuat menjadi provokator, dan yang dengan sengaja menunggangi kasus tersebut. Ini sudah bukan jamannya,” tegasnya.

Oleh karenanya, 10 elemen relawan Jokowi menyampaikan pernyataan sikap terhadap inseden asrama mahasiswa Papua, yakni sbb:

1. Papua adalah kita. Luka Papua adalah luka kita semua.

2. Kita sedih dengan peristiwa yang terjadi di Papua hari-hari ini. Kita berduka atas jatuhnya korban, baik dari kalangan masyarakat sipil maupun aparat keamanan.

3.Tapi kita juga marah atas pemicu awal munculnya rentetan peristiwa yang mengakibatkan terjadinya kekerasan dan perusakan fasilitas publik di Papua.

4. Kita pun mengutuk keras pihak-pihak yang menunggangi kerusuhan di Papua demi syahwat politik. Termasuk mereka yang justru bergembira dan bersorak atas peristiwa kerusuhan yang terjadi.

5.Kita tahu, tragedi ini berawal dari peristiwa yang terjadi di Kota Malang dan Surabaya. Dua kota di Provinsi Jawa Timur yang selama ini dikenal sangat toleran terhadap keberagaman. Malang dan Surabaya bahkan telah menjadi benteng kokoh pluralisme. Kebhinekaan menjadi makanan sehari-sehari warganya yang terkenal bersifat egaliter ini.

6. Namun tindakan rasisme yang ditunjukkan oleh segelintir orang di dua kota itu, baik sipil maupun aparat, telah merusak suasana damai yang selama ini terjaga kuat.

7. Karena itu, sebagai bagian dari elemen masyarakat sipil di Jawa Timur, kita meminta Presiden Jokowi tegas menindak siapa pun yang secara sengaja melakukan tindakan rasisme dan intoleran terhadap sesama warga negara. Jangan jadikan Papua sebagai proyek politik yang membahayakan kehidupan bersama.

8. Cukup sudah bangsa ini dikoyak intoleransi dan radikalisme yang selama ini terkesan dibiarkan. Jangan ditambah lagi dengan memberi ruang terhadap sikap dan tindakan berbasis rasisme. Negara harus hadir di sini.

9.Kita adalah Papua. Kita semua adalah saudara. Merah darahku, putih tulangku! (q cox)

Reply