Peristiwa

UK Petra Surabaya Gelar PICCE 2026, Bahas Pendidikan Karakter di Era Smart Society

166
×

UK Petra Surabaya Gelar PICCE 2026, Bahas Pendidikan Karakter di Era Smart Society

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Di tengah pesatnya perkembangan Kecerdasan Buatan (AI), dunia pendidikan diingatkan untuk tak hanya mengejar teknologi itu sendiri akan tetapi juga memperkuat fondasi karakter. Hal inilah yang menjadi inti dari Petra International Conference on Christian Education (PICCE) 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Kristen Petra (UK Petra).

Acara yang mengusung tema “From Character to Competence: Preparing Early Childhood and Elementary Education for Smart Society,” ini terdiri dari plenary sessions, call for papers, dan student symposium yang mana mempertemukan para pendidik dan peneliti dari berbagai negara, mulai dari Amerika Serikat, Kanada, Australia, Kenya, Taiwan, hingga Indonesia.

Dekan FKIP UK Petra, Ricky, S.E., M.R.E., Ed.D., menekankan bahwa pentingnya fondasi spiritual dalam pendidikan. Mengutip filsuf Aristoteles, mendidik pikiran tanpa mendidik hati bukanlah pendidik yang sejati.

“Bagi kami pembentukan karakter tidak dapat dipisahkan dari pembentukan spiritual. Sebab karakter yang kokoh akan melahirkan kompetensi yang utuh dan berintegritas dalam diri siswa. Sehingga menghasilkan kompetensi utuh dalam diri siswa,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, salah satu dosen FKIP UK Petra yang juga menjadi pembicara utama, Judith Grace Moulds, Ph.D., menekankan pentingnya peran guru sebagai figur sentral dalam transformasi karakter. Menurutnya, guru diharapkan memiliki kedalaman nilai pribadi agar mampu membimbing murid dalam menemukan jati diri dan integritas di tengah arus perubahan zaman.

Sementara itu, Paul Richardson, pendiri Charis National Academy, menyoroti pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam membentuk karakter anak. Ia mengungkapkan bahwa anak-anak masa kini menghadapi tantangan kompleks seperti paparan konten negatif, depresi, hingga krisis identitas. “Karakter bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir, tetapi dibentuk melalui disiplin, tantangan, kegagalan, refleksi, dan pertumbuhan,” jelasnya.

Sejalan dengan Judith, penekannya ada pada sinergi antara sekolah dan orang tua sebagai benteng pertahanan emosional anak. Komunikasi yang terbuka menjadi kunci deteksi dini terhadap perkembangan karakter anak di era informasi yang sangat terbuka ini.

Selain sesi utama, konferensi ini juga menghadirkan berbagai presentasi ilmiah melalui call for papers yang menjadi ruang berbagi riset dari akademisi internasional. Topik yang diangkat mencakup inovasi pembelajaran, integrasi teknologi, hingga praktik pendidikan dalam konteks iman Kristen. Mahasiswa FKIP Universitas Kristen Petra turut berpartisipasi melalui student symposium, menunjukkan kontribusi generasi muda dalam pengembangan pendidikan.

Konferensi ini mencerminkan suasana akademik yang kuat dalam menggabungkan nilai-nilai iman Kristen dengan perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan. Para peserta diajak untuk tidak hanya mengikuti tren teknologi, tetapi juga memiliki landasan yang kokoh agar mampu mengajar secara bijak, efektif, dan berintegritas.

Melalui PICCE 2026, UK Petra menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pengembangan model pendidikan yang transformatif dan relevan secara global. Konferensi ini membuktikan bahwa semakin tinggi teknologi yang diadopsi, semakin kuat pula kebutuhan manusia akan fondasi moral yang teguh. (q cox, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *