Pemerintahan

Bangun Generasi Kreatif, Pemkot Surabaya Gerakkan Orang Tua Mendongeng Lewat CERIA 2026

88
×

Bangun Generasi Kreatif, Pemkot Surabaya Gerakkan Orang Tua Mendongeng Lewat CERIA 2026

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menghadirkan Program CERIA (Cerita Ayah Eri dan Bunda Rini Itu Asyik) Tahun 2026 sebagai upaya memperkuat literasi keluarga. Program yang diinisiasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Surabaya ini difokuskan untuk melatih sekaligus mendorong para orang tua muda agar mampu membangun komunikasi dan kedekatan emosional dengan anak sejak usia dini.

Pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) CERIA dibagi menjadi dua gelombang, yakni pada 6 Mei dan 11 Mei 2026 di Gedung Wanita Candra Kencana Surabaya. Setiap gelombang diikuti sekitar 300 peserta yang terdiri dari para orang tua muda. Para peserta diberikan beragam pelatihan mencakup penguatan ketahanan keluarga hingga teknik bercerita yang efektif bagi anak-anak.

Bunda Literasi Kota Surabaya, Rini Indriyani, menekankan literasi perlu dibangun sejak usia dini melalui pendekatan sederhana, salah satunya melalui kegiatan mendongeng. “Jadi literasi itu kan dibangun mulai usia dini, dan literasi itu bisa dilakukan oleh semua orang sebenarnya. Contohnya dengan mendongeng,” ujar Bunda Rini usai membuka Bimtek Program CERIA di Gedung Wanita Candra Kencana Surabaya, Rabu (6/5/2026).

Ia menjelaskan, aktivitas mendongeng tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kosakata dan imajinasi anak, tetapi juga menjadi sarana penting dalam membangun ikatan emosional antara orang tua dan anak. Menurutnya, keterlibatan ayah maupun ibu dalam mendongeng akan memberikan dampak ganda bagi perkembangan anak, baik dari sisi bahasa maupun kedekatan hubungan.

“Mendongeng ini ketika dilakukan oleh seorang ibu, dilakukan seorang ayah, itu selain anak ini nanti bisa mempunyai kosakata yang banyak, mempunyai imajinasi yang banyak, tapi juga akan bisa membangun bonding antara orang tua dengan anak,” jelasnya.

Lebih jauh, Bunda Rini menilai proses mendongeng menghadirkan unsur komunikasi, interaksi, hingga sentuhan yang menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan keluarga yang kuat. Menurutnya, aktivitas ini tidak memerlukan biaya besar dan dapat dilakukan dalam keseharian. “Karena pada saat cerita itu kan ada komunikasi, ada interaksi, ada sentuhan yang dilakukan oleh orang tua kepada anak-anak,” tuturnya.

Bunda Rini pun mengapresiasi tingginya antusiasme peserta Bimtek CERIA 2026. Khususnya para orang tua muda yang dinilai masih memiliki komitmen untuk membangun kedekatan dengan anak melalui cara-cara sederhana. “Jadi saya terima kasih, antusiasnya luar biasa, berarti seorang ibu, wabil-khusus ibu-ibu muda di Kota Surabaya, itu masih punya ketertarikan atau mempunyai motivasi untuk bisa membangun bonding dengan anaknya,” tuturnya.

Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya itu meyakini kebiasaan mendongeng secara rutin akan memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan bahasa anak. Dengan paparan cerita setiap hari, anak dinilai mampu menyerap kosakata lebih banyak dibandingkan orang tuanya.

“Kosakata kita misalnya berdongeng 100, bisa dipastikan ketika anak itu mendengar dongeng kita setiap hari, dia akan mempunyai kosakata 200, 300, atau lebih banyak dari kita,” ungkap Bunda Rini.

Selain itu, ia menilai bahwa mendongeng juga berperan dalam menumbuhkan imajinasi anak, yang pada akhirnya akan mendorong lahirnya inovasi ketika mereka dewasa. “Dan dia akan lebih mudah berkomunikasi dengan orang lain,” imbuhnya.

Meski demikian, Bunda Rini mengakui masih terdapat tantangan dalam mengajak orang tua meluangkan waktu untuk mendongeng di tengah kesibukan. Karenanya, ia mendorong orang tua agar memanfaatkan momen seperti waktu libur atau malam hari, untuk berinteraksi dengan anak melalui cerita. “Kita bisa mencari time-time tertentu. Misalnya pada saat orang tua ini libur, pada saat misalnya malam hari ketika bertemu dengan anak-anak. Kita harus cari momen,” pesannya.

Bahkan, menurutnya, mendongeng tidak harus selalu menggunakan buku cerita, melainkan dapat dilakukan dari benda sederhana di sekitar. “Misalnya ketika kita makan bersama ada jeruk, dia bisa berdongeng dari jeruk itu. Bagaimana ekspresi menceritakan jeruk itu, warnanya oranye, rasanya apa, manfaatnya apa. Itu bisa dilakukan kapan saja,” paparnya.

Bunda Rini berharap, program CERIA mampu memperkuat ketahanan keluarga sekaligus membentuk karakter anak-anak Surabaya. Menurutnya, keluarga yang harmonis dengan peran ayah dan ibu yang seimbang akan melahirkan generasi yang berkualitas.

“Jadi harapan saya semua itu bergerak, bukan hanya ibunya saja, bukan hanya ayahnya saja, tapi kolaborasi antara ayah dan ibu untuk bisa membuat keluarga ini menjadi keluarga yang harmonis. Dan tentu anak-anak akan merasa nyaman punya orang tua yang luar biasa,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dispursip Kota Surabaya, Yusuf Masruh, menyampaikan bahwa Program CERIA merupakan bagian dari upaya memperkuat literasi masyarakat. Program ini secara khusus menyasar keluarga pemula agar mampu meningkatkan kualitas pengasuhan anak sejak dini. “Harapannya keluarga pemula itu bisa nanti bercerita, (memberi) wawasan kepada putra-putrinya masing-masing,” ujar Yusuf.

Untuk itu, Yusuf memastikan ke depan program ini direncanakan akan diperluas hingga tingkat kecamatan dan kelurahan untuk menjangkau lebih banyak keluarga. “Harapannya nanti memang semakin banyak, nanti kita bimtek kembangkan di wilayah-wilayah kecamatan, kelurahan,” jelasnya.

Yusuf juga menekankan pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak sebagai bagian dari pembentukan karakter yang seimbang. Baginya, aktivitas bercerita dapat dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu hari kerja. “Kita sempatkan cerita untuk anak, kan tidak harus hari kerja, mungkin sore, ini kan perlu,” tambahnya.

Menurutnya, kebiasaan mendongeng sejak dini akan mempermudah anak dalam mengikuti pembelajaran formal di sekolah karena penguasaan kosakata yang lebih baik. “Nanti waktu sekolah jadi tinggal teks dan numeriknya saja. Karena kosakatanya sudah banyak,” katanya.

Yusuf berharap peserta bimtek CERIA 2026 dapat menjadi agen awal atau embrio yang menyebarkan praktik baik ini ke lingkungan masing-masing. “Hari ini pesertanya 300 yang nanti sebagai embrio. (Gelombang 2) tanggal 11 (Mei) juga 300 peserta. Nah, nanti kemudian kita kembangkan bimtek di wilayah-wilayah,” pungkasnya. (q cox)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *