Bisnis

BEI Soroti Free Float Rendah, ETF Dinilai Jadi Instrumen Hybrid untuk Investor Modern

83
×

BEI Soroti Free Float Rendah, ETF Dinilai Jadi Instrumen Hybrid untuk Investor Modern

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mendorong peningkatan kualitas perdagangan saham melalui penguatan porsi free float emiten di pasar modal. Di sisi lain, instrumen Exchange Traded Fund (ETF) mulai semakin dilirik karena dinilai mampu menggabungkan fleksibilitas saham dengan diversifikasi layaknya reksa dana.

Kepala Perwakilan BEI Jawa Timur, Cita Mellisa, mengatakan free float memiliki peran penting dalam menjaga likuiditas dan kualitas perdagangan saham di pasar modal.

Menurutnya, rendahnya free float berpotensi membuat aktivitas transaksi menjadi minim hingga memunculkan fenomena saham tidur. “Porsi saham publik yang cukup akan meningkatkan frekuensi dan volume transaksi sehingga harga saham lebih mencerminkan mekanisme pasar,” ujarnya.

BEI sendiri telah menetapkan ketentuan minimum free float bagi perusahaan tercatat sebagai bagian dari penguatan struktur pasar modal Indonesia. Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan transparansi, tata kelola perusahaan, dan perlindungan investor.

Dalam materi Workshop Wartawan Daerah BEI Jawa Timur, disebutkan reformasi integritas pasar modal juga difokuskan pada peningkatan likuiditas, transparansi, tata kelola, serta sinergi antar pemangku kepentingan. Salah satunya melalui kebijakan bare free float untuk menjaga kualitas perdagangan saham.

Dalam kesempatan yang sama, Branch Manager IndoPremier Surabaya, Marco Rijkaard Pereira, menjelaskan bahwa ETF menjadi alternatif investasi yang menarik karena memiliki karakteristik gabungan antara saham dan reksa dana.

“ETF ini merupakan perpaduan saham dan reksa dana. Investor bisa membeli dan menjualnya seperti saham, mengikuti jam bursa, namun tetap mendapatkan manfaat pengelolaan profesional,” ujarnya.

ETF diperdagangkan secara real time di bursa seperti saham, namun portofolionya dikelola oleh manajer investasi seperti reksa dana. Produk ini juga memiliki diversifikasi aset sehingga risiko dinilai lebih tersebar dibanding membeli satu saham individual.

Menurut Marco, ETF cocok bagi investor yang ingin tetap fleksibel dalam bertransaksi namun tidak memiliki banyak waktu untuk memantau pergerakan saham setiap saat. “ETF cocok bagi investor yang ingin diversifikasi seperti reksa dana, tetapi tetap membutuhkan fleksibilitas dan kecepatan transaksi seperti saham,” katanya.

ETF memiliki sejumlah keunggulan seperti transaksi real time, portofolio terdiversifikasi, dikelola profesional, hingga transparansi isi portofolio yang dipublikasikan setiap hari. Selain itu, ETF dinilai lebih praktis bagi investor pasif karena dapat mereplikasi pergerakan indeks tertentu tanpa perlu melakukan analisis saham secara intensif.

BEI Jawa Timur mencatat jumlah investor pasar modal di Jawa Timur telah mencapai sekitar 2 juta investor hingga akhir 2025. Surabaya menjadi kota dengan kontribusi investor terbesar di Jawa Timur. Sementara secara nasional, jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai 26,4 juta investor dengan total 957 perusahaan tercatat di BEI hingga Mei 2026.

Menurut Marco, perkembangan ETF juga menunjukkan tren positif seiring meningkatnya minat investasi pasif berbasis indeks di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa ETF tetap memiliki risiko seperti perubahan kondisi ekonomi, volatilitas pasar, hingga risiko konsentrasi sektor tertentu. “Seperti instrumen investasi lainnya, ETF juga memiliki risiko. Karena itu investor tetap perlu memahami profil risiko sebelum berinvestasi,” pungkasnya.

Melalui penguatan free float dan peningkatan literasi terhadap instrumen ETF, pasar modal Indonesia diharapkan semakin likuid, inklusif, dan mampu menarik lebih banyak investor ritel maupun institusi. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *