NasionalPeristiwa

ParagonCorp Perkuat Smart Lab Berbasis AI untuk Percepat Inovasi Produk Kecantikan

99
×

ParagonCorp Perkuat Smart Lab Berbasis AI untuk Percepat Inovasi Produk Kecantikan

Sebarkan artikel ini

JAKARTA (Suarapubliknews) ~ ParagonCorp memperkuat pengembangan Smart Lab 2.0, ekosistem riset dan pengembangan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk mempercepat inovasi produk sekaligus memahami kebutuhan konsumen Indonesia secara lebih presisi dan relevan.

Langkah tersebut dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan konsumen terhadap produk kecantikan yang semakin personal, presisi, dan sesuai karakteristik kulit masing-masing.

Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp, Sari Chairunnisa, mengatakan transformasi tersebut menjadi bagian dari penguatan sistem riset perusahaan yang kini mengelola lebih dari 17 brand dan 2.000 portofolio produk aktif.

“Kami tidak lagi berada pada tahap digitalisasi dasar, tetapi mulai membangun lapisan AI di atas infrastruktur R&D yang telah terintegrasi. Tujuannya bukan hanya mempercepat inovasi, tetapi juga membantu proses riset menjadi lebih adaptif, sistematis, dan scalable,” ujarnya dalam forum Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI) 2026 di JIExpo Kemayoran Jakarta.

ParagonCorp menjelaskan transformasi R&D dilakukan secara bertahap, mulai dari sistem berbasis logbook manual, berkembang ke Smart Lab 1.0 berbasis web, hingga kini memasuki Smart Lab 2.0 yang mulai mengintegrasikan AI dalam proses formulasi dan pengembangan produk.

Dalam implementasinya, AI telah digunakan di berbagai lini riset dan pengembangan. Salah satunya melalui teknologi AI Color Matching yang digunakan dalam formulasi warna produk kosmetik.

Dengan pendekatan berbasis kalibrasi spektrofotometer dan colorant tinting database, sistem tersebut disebut mampu menghasilkan formula warna prediktif dengan tingkat akurasi lebih dari 95 persen. Teknologi itu juga mampu memangkas waktu formulasi hingga sekitar 60 persen dibandingkan metode konvensional.

Selain formulasi warna, AI juga dimanfaatkan untuk ingredient discovery dan intelligent experiment design melalui pengolahan biological big data seperti skin genomics, metabolomics, hingga skin microbiome.

Pendekatan tersebut membantu tim peneliti mengidentifikasi bahan aktif yang lebih relevan untuk berbagai kebutuhan kulit seperti brightening, anti-acne, hingga penguatan skin barrier. ParagonCorp juga membangun dataset warna kulit dari lebih dari 1.000 perempuan Indonesia untuk mengembangkan shade produk yang lebih representatif bagi konsumen lokal.

“AI membantu kami memahami konsumen Indonesia secara lebih mendalam, bukan hanya dari sisi preferensi, tetapi juga karakteristik biologis kulitnya. Dari sanalah inovasi yang benar-benar relevan dapat lahir,” katanya.

Meski memperkuat pemanfaatan AI, ParagonCorp menegaskan teknologi tersebut tidak dimaksudkan menggantikan peran manusia dalam proses riset dan pengembangan produk.

Menurut dr. Sari, AI diposisikan sebagai co-pilot yang membantu peneliti bekerja lebih cepat dan lebih terarah. “AI bagi kami adalah co-pilot, bukan autopilot. AI membantu mempercepat proses dan membuka kemungkinan baru, tetapi sentuhan manusia tetap menjadi penentu utama dalam menghadirkan inovasi yang bertanggung jawab,” tegasnya.

ParagonCorp menilai pemanfaatan AI secara bertanggung jawab dengan tetap memperhatikan keamanan, etika, dan kebutuhan konsumen menjadi fondasi penting dalam membangun industri kosmetik nasional yang lebih personal, inklusif, dan berdaya saing global. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *