Peristiwa

Seni di Tengah Era AI, Kreator Didorong Tetap Menjaga Orisinalitas dan Berani Bereksplorasi

61
×

Seni di Tengah Era AI, Kreator Didorong Tetap Menjaga Orisinalitas dan Berani Bereksplorasi

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI) membawa perubahan terhadap proses kreatif, termasuk di dunia seni. Di tengah kemudahan teknologi menghasilkan berbagai bentuk visual maupun karya, pengalaman, kejujuran, orisinalitas, dan keberanian untuk bereksplorasi tetap dinilai menjadi bagian penting yang tidak dapat begitu saja digantikan.

Hal tersebut menjadi salah satu gagasan yang muncul dalam rangkaian sesi IdeaFest SUB 2026. Penulis dan musisi Reda Gaudiamo, seniman visual Popo Mangun, serta seniman Nyoman Nuarta melihat perkembangan teknologi sebagai bagian dari perubahan zaman, tetapi kreativitas manusia tetap memiliki ruang yang tidak kalah penting.

Reda Gaudiamo menilai karya yang memiliki daya tahan tidak semestinya hanya mengikuti tren. Menurutnya, terutama dalam penulisan, seorang kreator perlu memiliki hubungan yang kuat dengan apa yang ditulisnya. “Yang penting adalah kita punya kejujuran, kita punya akar, dan kita punya relation dengan apa yang kita tulis,” ujarnya.

Ia mendorong generasi muda untuk berani menulis mengenai apa yang mereka rasakan, pikirkan maupun cemaskan, dibanding sekadar mengikuti karya yang sedang populer. Menurut Reda, pengalaman personal justru dapat menjadi sumber cerita yang relevan bagi orang lain.

Meski setiap orang memiliki latar dan situasi berbeda, manusia memiliki pengalaman emosional yang dapat saling terhubung. Karena itu, ia mengingatkan kreator untuk kembali pada dirinya sendiri ketika berkarya. “Come back to yourself and share what you think, what you feel,” katanya.

Karya Membutuhkan Proses

Reda juga melihat salah satu tantangan kreator muda saat ini adalah keinginan untuk mendapatkan hasil secara cepat. Keinginan agar karya segera dikenal dan menghasilkan kesuksesan, menurutnya, dapat membuat proses kreatif terlewatkan. Padahal, khususnya untuk buku dan film, dibutuhkan waktu untuk melakukan observasi, berpikir, riset, hingga menyusun berbagai temuan menjadi sebuah karya.

Menurutnya, AI seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu dalam proses tersebut. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan riset, tetapi bukan untuk mengambil alih proses penciptaan karya. “AI itu adalah tools. Gunakan itu untuk research, tapi tidak untuk menghasilkan karya,” tegasnya.

Bagi Reda, pengalaman, kegelisahan, rasa ingin tahu, serta inisiatif merupakan bagian dari proses yang berasal dari manusia.

Pandangan mengenai posisi AI dalam proses kreatif juga disampaikan Popo Mangun. Seniman visual tersebut melihat AI sebagai salah satu alat yang dapat dimanfaatkan dalam proses berkarya, terutama untuk membantu memvisualisasikan gagasan.

Dalam pekerjaannya, AI misalnya dapat digunakan sebagai mock-up atau blueprint untuk membayangkan bagaimana sebuah gambar dua dimensi dapat diterjemahkan menjadi karya tiga dimensi.

Namun, penggunaan teknologi tersebut juga membawa persoalan lain, terutama menyangkut orisinalitas, penggunaan karya atau gaya seniman, hingga kebutuhan terhadap regulasi yang lebih jelas. Popo menilai batas penggunaan AI pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan teknologinya, tetapi juga kesadaran dari penggunanya.

Seniman Tidak Harus Berhenti di Satu Medium

Selain membahas AI, Popo melihat peluang seniman untuk memperluas ruang berkarya masih sangat besar. Menurutnya, profesi seniman tidak harus berhenti pada karya fine art atau lukisan. Sebuah karya dapat dikembangkan menjadi instalasi, produk, fashion, hingga berkolaborasi dengan industri otomotif maupun olahraga. “Output-nya tuh bisa beragam dan eksplorasi itu yang sebenarnya tadi coba disampaikan,” katanya.

Ia melihat seniman di Surabaya memiliki potensi untuk melakukan eksplorasi lebih luas. Menurutnya, sebagian seniman masih banyak mengarahkan karya ke sektor UMKM dan F&B, padahal terdapat peluang kolaborasi dengan industri lain. > Pers SPN Tama Dinie: Salah satu hambatannya adalah rasa takut mencoba sesuatu yang belum familiar. Padahal, menurut Popo, ketika seniman berani masuk ke medium atau industri baru, mereka sekaligus menciptakan contoh baru yang dapat membuka peluang berikutnya.

Ia juga mengingatkan seniman otodidak agar tidak menjadikan keterbatasan pendidikan formal sebagai alasan untuk berhenti bereksplorasi. “Dengan tidak tahu bukan berarti bodoh atau tidak bisa melakukan, justru itu dijadikan trigger untuk mendorong,” tegasnya.

Kreativitas Jangan Dikotak-kotakkan

Sementara itu, Nyoman Nuarta menyoroti pentingnya memberikan ruang seluas-luasnya bagi kreativitas. Menurutnya, seni dan desain tidak seharusnya dibatasi oleh pengotakan bidang yang terlalu kaku.

Ia menilai seseorang yang belajar dalam satu bidang tidak harus selamanya bekerja hanya di bidang tersebut. Kebebasan untuk mengeksplorasi berbagai disiplin justru dapat membuka ruang kreativitas yang lebih luas. “Kreativitas itu semua orang memiliki,” ujarnya.

Menurutnya, berbagai aturan dan batasan yang berlebihan berpotensi membuat seseorang menjadi takut untuk berkarya. Terlebih di tengah persaingan yang semakin terbuka, generasi muda perlu memiliki keberanian untuk belajar, bekerja keras, dan mengembangkan kemampuan tanpa terlebih dahulu merasa minder.

Dalam konteks perkembangan AI, Nyoman melihat teknologi tersebut sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari. Namun, ia tetap membedakan antara hasil yang dihasilkan teknologi dengan karya yang lahir dari bakat, pengalaman, dan proses kreatif manusia. Baginya, pengalaman hidup menjadi bagian penting dalam membentuk karya dan kemampuan seseorang untuk mewujudkan gagasan.

Perbedaan pandangan ketiga pelaku kreatif tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak harus dilihat sebagai pertentangan antara manusia dan mesin. AI dapat digunakan sebagai alat bantu, tetapi proses kreatif tetap membutuhkan manusia yang memiliki pengalaman, rasa ingin tahu, perspektif, serta keberanian untuk menghasilkan sesuatu yang personal.

Di tengah kemudahan menghasilkan karya secara cepat, tantangannya justru bagaimana kreator tetap memiliki alasan dan identitas di balik karya yang dibuat, sekaligus berani membuka kemungkinan baru melalui eksplorasi lintas medium dan disiplin. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *