SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Proyek MetaPanji tidak sekadar menghadirkan tokoh Panji ke dalam cerita fantasi, tetapi juga berupaya membangun ketertarikan generasi muda terhadap akar sejarah dan budaya Nusantara melalui pendekatan yang lebih dekat dengan selera masa kini.
Ilustrator sekaligus pakar gim yang terlibat dalam pengembangan MetaPanji, Austin Octafianus, mengatakan pendekatan tersebut dipilih setelah melihat bagaimana sejumlah gim internasional mengangkat tokoh-tokoh Indonesia tanpa banyak mendorong pemain untuk mengenal kisah aslinya.
Menurutnya, tokoh seperti Gajah Mada maupun Gatotkaca memang pernah muncul dalam berbagai gim internasional dan mendapat sambutan positif dari pemain Indonesia. Namun, kehadiran mereka lebih banyak sebatas representasi karakter, sehingga belum mampu mengajak audiens menggali latar sejarah maupun budaya yang melatarbelakanginya.
“Orang tahu ada Gajah Mada dari Indonesia atau Gatotkaca sebagai karakter gim. Tetapi setelah bermain, ketertarikan untuk mencari tahu kisah aslinya belum tentu muncul karena fokusnya hanya pada karakter di dalam permainan,” ujarnya.
Berangkat dari pengalaman tersebut, tim MetaPanji memilih pendekatan yang berbeda. Alih-alih langsung menonjolkan nilai sejarah, mereka ingin lebih dulu membangun kedekatan emosional antara audiens dengan tokoh Panji.
Menurut Austin, ketika pembaca maupun pemain sudah merasa peduli terhadap karakter, rasa ingin tahu terhadap sejarah dan budaya yang menjadi latar cerita akan tumbuh dengan sendirinya.
“Percuma kalau tokoh budaya terus dipromosikan tetapi audiens tidak peduli dengan tokohnya. Yang harus dibangun lebih dulu adalah ketertarikan terhadap karakter Panji. Setelah itu, mereka akan mencari tahu sendiri cerita dan sejarah di baliknya,” katanya.
Pendekatan tersebut menjadi dasar dalam penyusunan The Last Guardian of Java, novel pertama dalam semesta MetaPanji. Cerita dirancang dengan nuansa fantasi dan petualangan yang terinspirasi dari struktur gim action-adventure, sehingga pembaca diajak mengikuti perjalanan Panji melalui pengalaman yang lebih imersif.
Austin menilai strategi serupa telah diterapkan oleh sejumlah waralaba internasional. Ia mencontohkan seri Fate yang mengadaptasi tokoh sejarah dan mitologi dengan interpretasi baru sehingga memancing rasa penasaran penggemarnya untuk mempelajari kisah asli tokoh tersebut.
Hal yang sama juga terlihat pada seri Assassin’s Creed, di mana banyak pemain akhirnya tertarik mempelajari sejarah Renaisans Italia maupun tokoh-tokoh bersejarah setelah menikmati alur cerita dalam gim.
Menurut Austin, MetaPanji ingin membangun efek yang serupa terhadap budaya Nusantara. “Harapannya ketika orang melihat Panji dalam versi MetaPanji, mereka penasaran. Setelah itu mereka akan mencari tahu seperti apa sebenarnya cerita Panji yang menjadi warisan budaya Nusantara,” ujarnya.
Ia optimistis pendekatan tersebut memiliki peluang besar diterima masyarakat, selama mampu menjaga keseimbangan antara unsur hiburan dan nilai sejarah. “Audience sekarang tidak bisa diabaikan. Karena itu kami berusaha menjaga keseimbangan antara entertainment dan historical agar keduanya bisa berjalan bersama,” pungkasnya. (feb, tama dini)












