Peristiwa

Profesor ITS Kembangkan Metode Jaga Stabilitas Listrik di Era Energi Terbarukan

40
×

Profesor ITS Kembangkan Metode Jaga Stabilitas Listrik di Era Energi Terbarukan

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Meningkatnya penggunaan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) menghadirkan tantangan baru bagi sistem kelistrikan nasional. Menjawab kondisi tersebut, Guru Besar ke-252 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Eng. Ir. Ardyono Priyadi, S.T., M.Eng., mengembangkan berbagai metode untuk menjaga stabilitas sistem tenaga listrik agar tetap andal dan mampu meminimalkan risiko gangguan hingga blackout.

Ardyono menjelaskan meningkatnya penetrasi pembangkit energi terbarukan berbasis inverter menyebabkan inersia sistem kelistrikan menurun sehingga jaringan menjadi lebih rentan terhadap gangguan. Karena itu, diperlukan sistem pemantauan dan pengendalian otomatis berbasis smart grid agar gangguan dapat direspons secara cepat dan tepat. “Sistem tenaga listrik dituntut merespons gangguan secara cepat, tepat, dan tetap andal,” ujarnya.

Salah satu kebaruan riset yang dikembangkannya adalah metode perhitungan critical clearing time (CCT), yakni batas waktu yang dimiliki sistem untuk mengatasi gangguan sebelum kehilangan kestabilan. Menurut Ardyono, semakin panjang nilai CCT, semakin besar peluang sistem mengisolasi gangguan sehingga jaringan listrik tetap dapat beroperasi.

Untuk meningkatkan nilai CCT tersebut, tim peneliti ITS mengembangkan sejumlah pendekatan, mulai dari pemanfaatan superkapasitor sebagai peredam energi, penggunaan Superconducting Fault Current Limiter (SFCL) untuk membatasi arus gangguan, hingga integrasi Virtual Synchronous Generator (VSG) pada sistem microgrid berbasis energi terbarukan. “Berbagai pendekatan tersebut mampu memperpanjang toleransi sistem sebelum kehilangan sinkronisasi,” katanya.

Selain itu, Ardyono juga mengembangkan metode koordinasi relai proteksi berbasis analisis stabilitas transien yang mengintegrasikan relai arus lebih dan reverse power relay. Metode tersebut telah diterapkan pada sistem kelistrikan industri sejak 2016 dan mampu menjaga generator tetap beroperasi ketika jaringan utama mengalami gangguan.

Menurutnya, koordinasi relai tersebut dapat meningkatkan stabilitas sekaligus keandalan sistem, terutama di tengah meningkatnya pemanfaatan pembangkit energi terbarukan berbasis inverter.

Rangkaian hasil penelitian tersebut telah diterapkan di berbagai industri besar, di antaranya PT PLN, PT Pupuk Kaltim, PT Kaltim Daya Mandiri, hingga Medco Energi. Penerapan tersebut menunjukkan bahwa riset yang dikembangkan tidak berhenti pada tataran akademik, tetapi telah dimanfaatkan sebagai solusi untuk mendukung keandalan sistem kelistrikan di sektor industri.

Melalui penelitiannya, Ardyono berharap Indonesia semakin siap menghadapi transisi menuju sistem kelistrikan yang modern, tangguh, dan berkelanjutan. Kontribusi tersebut sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan energi bersih dan terjangkau serta pembangunan industri dan infrastruktur yang berkelanjutan. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *