SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Pertumbuhan industri kreatif tidak cukup hanya mengandalkan munculnya ide dan talenta baru. Penguatan ekosistem, kemampuan mengubah kreativitas menjadi aset bernilai, kolaborasi lintas pelaku, hingga keberanian untuk mengeksekusi ide menjadi bagian penting agar industri kreatif dapat berkembang secara berkelanjutan.
Sejumlah pelaku industri kreatif yang hadir dalam IdeaFest SUB 2026 melihat Surabaya memiliki peluang besar untuk membangun kekuatan kreatifnya sendiri. Namun, peluang tersebut membutuhkan jejaring dan kolaborasi antarpelaku, sekaligus keberanian untuk membawa kreativitas ke ranah bisnis.
Co-founder dan CEO New Media Builder, Hadi Ismanto menilai industri kreatif tidak dapat berkembang secara terpisah. Menurutnya, setiap subsektor membutuhkan ekosistem yang saling mendukung agar pertumbuhannya dapat berlangsung lebih kuat. “Industri ini enggak bisa berdiri sendiri, membutuhkan ekosistem yang kuat di sekitar industri tersebut,” ujarnya.
Menurutnya, pelaku industri perlu ikut membangun ekosistem tersebut, bukan hanya berfokus pada perkembangan bisnis atau karya masing-masing. Ia melihat IdeaFest Surabaya sendiri dapat menjadi salah satu bagian dari ekosistem yang mempertemukan berbagai pelaku dan membantu pertumbuhan industri kreatif di daerah.
Kreativitas Perlu Diterjemahkan Menjadi Nilai Bisnis
Persoalan berikutnya adalah bagaimana kreativitas yang dimiliki pelaku industri dapat memberikan nilai yang lebih luas. Content Creator, Matthew Samudro, yang membahas pengalaman mengubah personal taste menjadi aset bisnis, menilai kreativitas personal dapat memiliki nilai ketika mampu diterjemahkan menjadi sesuatu yang relevan bagi audiens maupun brand.
Menurutnya, konsistensi bagi kreator juga tidak semata-mata diukur dari seberapa sering konten dipublikasikan. Ada tanggung jawab lain untuk memastikan kebutuhan audiens dan klien tetap terpenuhi. “Bukan hanya konsisten dalam ritme kerja, tetapi juga konsisten memastikan klien dan audience puas,” katanya.
Perspektif mengenai kreativitas sebagai aset juga berkaitan dengan intellectual property (IP). Founder dan Group CEO INFIA Corp, Aji Pratomo menilai kesadaran terhadap IP di Indonesia telah mengalami perkembangan dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Namun, ia menilai pemahaman tersebut tetap perlu diperkuat karena IP bukan sekadar sesuatu yang perlu didaftarkan, melainkan aset yang harus dijaga, dilindungi, dan ditingkatkan nilainya. “Intellectual property itu sebagai aset yang harus kita jaga, protect, sama kita tingkatkan value-nya,” ujarnya.
Menurutnya, generasi muda juga perlu mampu membaca peluang dan mengembangkan potensi secara kreatif. Kemampuan tersebut menjadi semakin penting ketika kreativitas tidak lagi hanya menghasilkan karya, tetapi dapat berkembang menjadi aset ekonomi.
Surabaya Perlu Membangun Identitas Kreatif Sendiri
Dorongan untuk membangun ekosistem juga datang dari Fakhruddin Ar’razi, yang melihat Surabaya memiliki peluang untuk menciptakan karakter industri kreatifnya sendiri. Menurutnya, pelaku industri kreatif Surabaya perlu memperkuat jejaring dan membuka lebih banyak ruang kolaborasi, baik dengan sesama pelaku di kota tersebut maupun dengan industri kreatif dari daerah lain.
Ia juga mengingatkan pelaku jasa kreatif agar tidak hanya melihat pekerjaannya sebagai aktivitas menjual desain, konsep, atau strategi pemasaran. Kreativitas seharusnya digunakan untuk membantu menyelesaikan persoalan bisnis klien.
Dalam sesi IdeaFest SUB 2026, Fakhruddin membawa kerangka dari Maha Visual mengenai bagaimana seni atau desain dapat digunakan untuk solving business problem. “Jangan sampai mindset kita adalah menjual desain, menjual konsep, menjual strategi marketing dan lain sebagainya hanya untuk kepentingan kita, tapi untuk kepentingan klien,” katanya. > Pers SPN Tama Dinie: Menurut Fakhruddin, Surabaya tidak harus terus menjadikan Jakarta sebagai satu-satunya acuan perkembangan industri kreatif. Kota ini memiliki potensi dan identitas sendiri yang perlu ditemukan oleh para pelaku industrinya. “Ciptain wave industri kreatif Surabayanya sendiri, jangan cuma look up sama Jakarta,” ajaknya.
Ia menilai kekuatan tersebut hanya dapat dirumuskan oleh pelaku kreatif Surabaya sendiri melalui pemetaan potensi dan kolaborasi yang lebih luas.
Dari Ide Menjadi Builder
Sementara itu, Program Initiator Diplomat Success Challenge (DSC), Edric Chandra melihat persoalan lain yang tidak kalah penting: keberanian untuk mengeksekusi ide. Menurut Edric, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan ide. Tantangannya adalah bagaimana seseorang berani masuk ke arena dan membangun sesuatu secara nyata.
Ia mendorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengamat atau komentator terhadap orang yang sedang membangun bisnis dan karya, tetapi ikut mengambil peran sebagai builder. “Indonesia enggak butuh ide baru. Karena ide itu sebenarnya udah banyak. Artificial Intelligence bisa membantu kita untuk nge-craft yang namanya ide. Saya hanya mengajak teman-teman untuk berani menjadi builder atau pembangun,” ujarnya.
Menurutnya, kegagalan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses tersebut. Ketika seseorang mulai membangun, kegagalan justru dapat menjadi bagian dari proses belajar dan membentuk kemampuan untuk berkembang.
Karena itu, ia mengingatkan generasi muda agar tidak menunggu sampai merasa sepenuhnya siap. “Jangan membangun ketika teman-teman merasa sudah siap. Tapi bangunlah bahkan ketika teman-teman merasa belum siap,” katanya.
Dalam konteks DSC yang memasuki season ke-17, Edric juga menekankan pentingnya ekosistem dalam perjalanan seorang founder. Menurutnya, bisnis dapat berubah atau bahkan gagal, tetapi karakter orang yang membangunnya menjadi bagian yang lebih penting untuk dikembangkan.
Pertumbuhan industri kreatif Surabaya pada akhirnya tidak hanya bergantung pada banyaknya talenta maupun ide baru. Dibutuhkan ekosistem yang memungkinkan pelaku saling terhubung, kreativitas yang mampu diterjemahkan menjadi nilai bisnis, serta keberanian untuk mengembangkan ide menjadi sesuatu yang nyata.
Dengan membangun jejaring dan kolaborasi dari dalam kota, Surabaya memiliki peluang untuk tidak sekadar mengikuti perkembangan industri kreatif dari kota lain, tetapi menciptakan karakter dan gelombang pertumbuhannya sendiri. (feb, tama dini)












