Peristiwa

Akademisi Unair Sebut MetaPanji Jadi “Cerita Carangan” yang Dekatkan Budaya Panji dengan Generasi Muda

55
×

Akademisi Unair Sebut MetaPanji Jadi “Cerita Carangan” yang Dekatkan Budaya Panji dengan Generasi Muda

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Upaya menghidupkan kembali cerita Panji melalui novel MetaPanji mendapat apresiasi dari kalangan akademisi. Pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (Unair), Dr. Puji Karyanto, S.S., M.Hum., menilai pendekatan yang dilakukan kreator MetaPanji, Reno Halsamer, dapat dipahami sebagai bentuk cerita carangan, yakni pengembangan kreatif dari sebuah kisah yang telah memiliki pakem dalam tradisi budaya Nusantara.

Pandangan tersebut disampaikan Puji dalam webinar bertajuk “Relevansi dan Aktualisasi Budaya Panji”, yang membahas peluang aktualisasi cerita Panji melalui karya-karya kreatif di era digital.

Menurut Puji, dalam tradisi pewayangan dikenal istilah carangan, yaitu pengembangan cerita yang tetap berpijak pada kisah utama atau pakem, namun menghadirkan interpretasi baru sesuai kebutuhan zamannya.

“Kalau dalam pewayangan ada cerita pakem dan cerita carangan. Menurut saya, apa yang dilakukan Reno melalui MetaPanji bisa dipahami sebagai bentuk carangan dari cerita Panji,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keberadaan cerita carangan justru menjadi salah satu alasan mengapa wayang mampu bertahan lintas generasi. Berbagai pengembangan cerita membuat warisan budaya tetap hidup, relevan, dan terus memiliki ruang di tengah perubahan masyarakat.

Menurut Puji, pendekatan serupa dapat diterapkan pada cerita Panji. Ia menilai interpretasi baru melalui novel fantasi tidak serta-merta menghilangkan nilai budaya yang terkandung dalam kisah aslinya, melainkan menjadi cara untuk menghadirkannya kembali kepada generasi masa kini.

“Bagi saya, justru pendekatan seperti ini membuat budaya menjadi lebih membumi. Generasi muda bisa mengenal akar budayanya melalui medium yang lebih dekat dengan kehidupan mereka,” katanya.

Puji menilai pelestarian budaya tidak cukup dilakukan hanya dengan menjaga naskah atau manuskrip lama. Kekayaan budaya Nusantara juga perlu dihadirkan melalui karya-karya kreatif yang mampu mengikuti perubahan cara masyarakat mengonsumsi informasi dan hiburan.

Menurutnya, jika generasi muda tidak lagi diperkenalkan dengan tokoh-tokoh budaya Nusantara melalui pendekatan yang relevan, maka mereka berisiko kehilangan figur-figur yang menjadi bagian dari identitas sejarah dan kebudayaannya sendiri. Karena itu, ia menyambut baik berbagai upaya kolaborasi antara dunia akademik dengan pelaku industri kreatif dalam mengembangkan karya berbasis budaya Nusantara.

Sebagai bentuk dukungan, Puji menyatakan kesiapannya memfasilitasi peluncuran novel The Last Guardian of Java di lingkungan Universitas Airlangga. Menurutnya, perguruan tinggi perlu membuka ruang bagi karya-karya kreatif yang tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga memberi pengalaman baru bagi mahasiswa dalam melihat potensi industri kreatif berbasis kearifan lokal.

Ia berharap semakin banyak karya yang menjadikan budaya Nusantara sebagai sumber inspirasi tanpa kehilangan akar cerita yang menjadi fondasinya. “Kalau karya seperti ini bisa membuat anak muda kembali mengenal Panji, menurut saya itu sesuatu yang patut diapresiasi. Saya sendiri menantikan ketika MetaPanji diluncurkan secara resmi kepada publik,” pungkasnya. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *