Batik Kesayangan, Tak Hanya Makna Namun Juga Kenangan

SURABAYA (Suarapubliknews) – Sebagai salah satu khasanah kekayaan bangsa Batik selalu memiliki kisah menarik. Baik bercerita tentang makna batik itu sendiri maupun bagi pemiliknya. Hal ini yang melatarbelakangi terselengaranya pameran bertajuk “Batik Kesayangan” di Galeri Paviliun House of Sampoerna.

Ketua KIBAS, Lintu mengatakan sejak pertama kali bekerjasama dengan KIBAS pada tahun 2010, Galeri Paviliun House of Sampoerna juga tidak berhenti mengedukasi masyarakat luas tentang berbagai ragam dan motif batik di Jawa Timur.

Gelaran yang sekaligus menandai 10 tahun perjalanan KIBAS ini, diharapkan dapat menunjukkan nilai lebih selain nilai ekonomis dari kain batik itu sendiri. Latar belakang kepemilikan koleksi menjadi lebih berharga bagi para kolektor.

“Harapannya bahwa batik akan lebih popular dan disayangi oleh generasi jaman sekarang untuk perkembangan selanjutnya. Banyak cerita cerita lucu, mengharukan dan lainnya akan muncul pada pameran kali ini,” katanya.

Pameran yang diselenggarakan oleh House of Sampoerna bersama Komunitas Batik Jawa Timur (KIBAS) ini menghadirkan 30 kolektor dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka bercerita tentang makna batik bagi pemiliknya.

Pada gelaran ini tidak hanya membahas tentang teknik pembuatan dan ragam motifnya. Namun lebih mengenai sejarah dibalik kain batik sehingga menjadi harta atau kesayangan bagi pemiliknya.

Batik motif Penyoh Tang Bintang, koleksi Bupati Pamekasan, Baddaruttamam, misalnya. Kain warisan sang bunda dan digunakan sebagai selimut sewaktu masih kecil ini menggunakan pewarna alam dan diperkirakan berusia 100 tahun.

Cerita unik lainnya dari koleksi milik kolektor asal Pamekasan Lerem Pundilaras. Batik motif Merak Latar Kar Jagat ini merupakan kain peningset pemberian seorang pemuda yang melamarnya saat malam midodareni sekitar 28 tahun lalu.

Ada juga koleksi milik Nanik Djojo yang memamerkan kain batik kesayangannya berwarna coklat muda, khas batik Sidoarjo. Yang merupakan kepunyaan dari sang eyang. Batik ini memiliki kesan mendalam untuknya, karena membawa memori masa kecil.

“Batik ini selalu saya pakai sebagai selimut saat berkunjung di rumah eyang. Dulu ketika SD, sepulang sekolah, saya dan cucu-cucu nenek yang lain selalu berebut tidur di kamar nenek. Nah batik ini yang selalu saya pakai selimut,” terangnya.

Tak hanya menyimpan memori baginya, batik ini juga memiliki kenangan yang magis. Kolektor batik asal Surabaya ini mengakui benar, bahwa batik akan kembali kepada pemiliknya.

Manager House of Sampoerna, Rani Anggraini, berharap, masyarakat semakin menghargai koleksi batik yang dimiliki. Selain sebagai warisan budaya, batik sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan memiliki makna lebih bagi setiap pemiliknya.

“Semoga pameran ini juga menjadi penyemangat bagi para pembatik untuk terus berinovasi dan bagi pecinta batik dapat terus ikut serta melestarikan batik sebagai warisan kain nusantara,” harapnya. (q cox, Tama Dinie)

Reply