JAKARTA (Suarapubliknews) ~ Tantangan tumbuh kembang anak di era modern semakin kompleks dan tidak hanya berkaitan dengan akses layanan kesehatan. Kesiapan keluarga dalam mendampingi anak, pemahaman orang tua, serta dukungan lingkungan juga menjadi bagian penting dalam memastikan anak tumbuh secara optimal.
Hal tersebut menjadi perhatian PT Bundamedik Tbk (BMHS/RS Bunda Group) melalui penyelenggaraan Bunda Parenting Convention 2026 di Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (8/8). Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Anak Internasional dan Pekan Menyusui Sedunia ini mengusung tema From The First Heartbeat to a Bright Future, Every Step Matters.
Melalui kegiatan tersebut, BMHS mendorong penguatan ekosistem pengasuhan yang tidak hanya melibatkan orang tua, tetapi juga tenaga kesehatan, lingkungan pendidikan, tempat kerja, serta komunitas. Pendekatan ini dinilai semakin penting di tengah derasnya informasi mengenai kesehatan dan pengasuhan yang belum semuanya dapat dipastikan kredibilitasnya.
Presiden Komisaris BMHS Dr. dr. Ivan Rizal Sini mengatakan kesehatan ibu dan anak tidak berhenti pada layanan medis, tetapi perlu didukung edukasi dan keterlibatan keluarga. “Selama lebih dari lima dekade, BMHS terus memperkuat ekosistem keluarga agar mampu mendampingi tumbuh kembang anak sejak awal kehidupan hingga tumbuh optimal. Komitmen ini kami wujudkan dengan mengintegrasikan layanan klinis, edukasi, dan pendampingan keluarga,” ujarnya.
Salah satu pendekatan yang diterapkan RSIA Bunda Jakarta adalah Family Integrated Care (FICare) di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU), yang melibatkan orang tua sebagai bagian dari tim perawatan bayi. Pendekatan tersebut dipadukan dengan Kangaroo Mother Care (KMC), serta edukasi antenatal dan pascapersalinan untuk membekali orang tua sejak masa kehamilan hingga setelah kelahiran.
Bunda Parenting Convention 2026 menghadirkan sejumlah sesi edukasi dan workshop yang membahas persoalan pengasuhan dari masa kehamilan hingga anak memasuki usia sekolah. Materi yang diberikan mencakup persiapan kehamilan melalui hypnobirthing, perawatan bayi baru lahir, pemahaman tumbuh kembang anak untuk mendukung deteksi dini gangguan perkembangan, hingga penanganan masalah makan pada bayi dan anak usia dini.
Edukasi juga mencakup pencegahan obesitas pada anak dengan melibatkan tenaga pendidik dari jenjang TK dan SD. Langkah ini menempatkan sekolah sebagai salah satu lingkungan yang dapat membantu membangun kebiasaan hidup sehat dan mendukung aktivitas fisik anak sejak dini.
Selain itu, terdapat sesi talkshow Ayah ASI yang mempertemukan para ayah untuk berbagi pengalaman dalam mendukung keberhasilan menyusui. Sesi tersebut menekankan bahwa pemberian ASI eksklusif selama enam bulan dan dilanjutkan hingga usia dua tahun membutuhkan dukungan bersama, termasuk dari ayah.
Komisaris Independen BMHS Retno Marsudi menekankan bahwa keluarga memiliki posisi penting dalam membentuk nilai dan karakter anak sejak awal kehidupan. “Sebagai seorang ibu, saya percaya bahwa ibu adalah arsitek kehidupan. Nilai dan prinsip tidak pertama kali disemai di institusi pendidikan, tetapi dari rumah sejak dini, dan ibu adalah penyemai pertama,” katanya.
Menurut Retno, peran sebagai ibu sekaligus perempuan yang bekerja dapat dijalankan dengan dukungan lingkungan dan kerja sama dalam keluarga. Ia menilai teamwork menjadi salah satu kunci agar kedua peran tersebut dapat berjalan secara optimal.
Dokter Spesialis Anak RSIA Bunda Jakarta dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, Sp.A., MARS, atau dr. Tiwi, mengatakan tantangan tumbuh kembang anak kini mencakup aspek medis sekaligus kesiapan keluarga dan komunitas dalam memperoleh informasi serta dukungan yang tepat.
“Tantangan tumbuh kembang anak di era modern tidak lagi hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga kesiapan keluarga serta komunitas dalam mendapatkan dukungan dan edukasi yang tepat bagi tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Sementara itu, Dokter Anak Konsultan Neonatologi RSIA Bunda Jakarta Dr. dr. R. Adhi Teguh Perma Iskandar, Sp.A., Subsp.Neo., menyoroti pentingnya keterlibatan keluarga dalam perawatan bayi prematur.
Menurutnya, perawatan bayi prematur tidak berhenti ketika bayi diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Keterlibatan keluarga tetap dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan, dan kesiapan bayi menghadapi berbagai tantangan pada awal kehidupannya.
Melalui Bunda Parenting Convention 2026, BMHS menempatkan edukasi dan kolaborasi sebagai bagian dari upaya memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak. Pendekatan tersebut diharapkan membantu keluarga memperoleh pengetahuan dan dukungan yang relevan sejak awal kehidupan anak, sekaligus membangun ekosistem yang mendukung tumbuh kembang anak secara berkelanjutan. (feb, tama dini)












