Pemerintahan

Bongkar Strategi Kepemimpinan di Unair, Wali Kota Eri: Pancasila Harus Dipraktikkan, Bukan Sekadar Hafalan

74
×

Bongkar Strategi Kepemimpinan di Unair, Wali Kota Eri: Pancasila Harus Dipraktikkan, Bukan Sekadar Hafalan

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi kembali menekankan bahwa esensi kepemimpinan sejati bukan terletak pada deretan penghargaan atau popularitas di media sosial, melainkan pada kemampuan pemimpin menggerakkan semangat gotong royong untuk menyejahterakan rakyat.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Eri Cahyadi saat menjadi salah satu pembicara pada “Seminar Sehari: Kepemimpinan Nusantara” di Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair), Selasa (12/5/2026).

Dalam paparannya, Wali Kota Eri mengungkapkan bahwa Surabaya telah meraih berbagai pengakuan internasional, mulai dari Kota Layak Anak tingkat dunia hingga menjadi bagian dari UNESCO Learning City. Namun, ia menegaskan bahwa semua itu bukanlah tujuan akhir.

“Penghargaan apa pun yang diberikan kepada wali kota atau jajaran Pemkot Surabaya, jika tujuh indikator utama seperti kemiskinan, pengangguran, stunting, dan angka kematian ibu tidak berubah, maka sejatinya pemimpin itu gagal,” tegas Wali Kota Eri.

Wali Kota Eri menjelaskan bahwa kepemimpinan yang ia terapkan di Surabaya berakar pada nilai Pancasila yang selaras dengan ajaran agama, yakni tolong-menolong. Menurutnya, Pancasila tidak boleh hanya menjadi hafalan saat upacara, tetapi harus dipraktikkan dalam kebijakan ekonomi dan sosial.

“Gotong royong adalah inti Pancasila. Saya ingin membangkitkan kembali kekuatan ini melalui Kampung Pancasila. Contoh kecilnya, mari beli kebutuhan pokok di tetangga sendiri, di toko kelontong sekitar rumah, jangan hanya ke toko modern. Itulah cara kita saling menghidupi,” ujarnya.

Di periode kepemimpinannya, Wali Kota Eri memilih fokus pada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) sebelum infrastruktur fisik. Beberapa inovasi yang ia kembangkan antara lain, Aparatur Sipil Negara (ASN) Surabaya diwajibkan berkantor di Balai RW agar lebih dekat dan mengenali masalah warga secara langsung sejak 2020.

“Kota Surabaya ini, menjadi satu-satunya kota di Indonesia di mana seluruh ASN muslim mengeluarkan zakat profesi secara kolektif, yang kini dikelola untuk membantu warga miskin,” jelasnya.

Selain itu, pada sektor pelayanan publik, Wali Kota Eri juga membuat pelayanan tidak lagi kaku pada struktur birokrasi, melainkan mengikuti siklus hidup manusia, mulai dari masa kehamilan untuk pencegahan stunting hingga masa tua.

Wali Kota yang akrab disapa Cak Eri ini juga menyampaikan bahwa sebuah kepemimpinan harus dilakukan secara kolaboratif. Ia berharap warga tidak lagi melihat wali kota sebagai sosok tunggal di Balai Kota.

“Saya ingin bergerak bersama warga untuk membangun kota ini. Sehingga ada Kader Surabaya Hebat (KSH) yang siap menolong warga, RW yang bergerak, pengusaha yang menjadi orang tua asuh bagi anak yatim, dan kampus yang turun langsung ke masyarakat. Jika masyarakat sudah merasakan itu, barulah saya berhasil menjadi pemimpin,” pungkasnya. (q cox)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *