Jatim RayaPemerintahanPeristiwa

DKPP Kota Kediri Intensifkan Pemeriksaan Hewan Kurban, Temukan Kasus Scabies dan Penyakit Mata

98
×

DKPP Kota Kediri Intensifkan Pemeriksaan Hewan Kurban, Temukan Kasus Scabies dan Penyakit Mata

Sebarkan artikel ini

KEDIRI KOTA (Suarapubliknews) — Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah lokasi penjualan hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan hewan yang diperjualbelikan dalam kondisi sehat serta bebas dari penyakit menular.
Pemeriksaan kesehatan hewan kurban atau ante mortem berlangsung mulai 18 hingga 26 Mei 2026 di berbagai titik penjualan di Kota Kediri, mulai lapak dadakan di pinggir jalan, Pasar Hewan Muning, hingga kandang milik pedagang rumahan.

Kepala DKPP Kota Kediri, Un Achmad Nurdin, menjelaskan pemeriksaan dilakukan oleh dua tim dari Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang melibatkan 11 personel. Tim pertama bertugas di wilayah Kecamatan Mojoroto, sedangkan tim kedua melakukan pemeriksaan di Kecamatan Kota dan Kecamatan Pesantren.

“Pemeriksaan dilakukan melalui pengamatan fisik, mulai kondisi mata, bulu, hingga memastikan tidak terdapat cacat tubuh. Tujuannya memastikan ternak yang diperjualbelikan sehat dan bebas penyakit, terutama penyakit zoonosis,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).

Pada hari ketiga pemeriksaan, Rabu (20/5), petugas menemukan satu ekor ternak mengalami gangguan penyakit mata dan satu ekor lainnya terindikasi scabies di wilayah timur Kecamatan Pesantren. Kedua hewan tersebut diminta segera diisolasi untuk mencegah penularan ke ternak lain.

“Penyakit mata dan scabies ini bersifat menular sehingga harus segera dipisahkan dan tidak dicampur dengan ternak sehat karena penularannya cukup cepat,” tambah Un Achmad Nurdin.

Sementara itu, petugas kesehatan hewan DKPP, Indra Sukma Putra, menyampaikan secara umum kondisi hewan kurban di Kota Kediri masih dalam kategori aman. Beberapa temuan seperti dugaan scabies, iritasi mata, hingga ternak yang tampak lesu masih dapat ditangani.

“Secara keseluruhan aman dari penyakit zoonosis yang sangat diwaspadai seperti antraks. Untuk PMK maupun LSD juga terkendali karena vaksinasi rutin terus dilakukan,” jelasnya.

DKPP juga mengimbau para pedagang untuk menjaga kebersihan kandang, memastikan kebutuhan air minum hewan terpenuhi, serta menghindari pemberian pakan hijauan muda yang berpotensi memicu diare pada ternak.
Selain pemeriksaan ante mortem sebelum penyembelihan, DKPP berencana melakukan pemeriksaan post mortem setelah penyembelihan dengan memeriksa organ-organ hewan kurban. Lapak yang dinyatakan lolos pemeriksaan akan diberikan label khusus sebagai tanda bahwa hewan telah menjalani pemeriksaan kesehatan.
Salah seorang pedagang ternak di wilayah Banjarmlati, Juni, mengaku hewan yang dijualnya didatangkan dari Trenggalek.

Ia memastikan perawatan dilakukan secara rutin melalui kebersihan kandang, pemberian pakan ramban, serta pemenuhan kebutuhan air minum.

Menurutnya, permintaan hewan kurban tahun ini mengalami peningkatan meski harga jual sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Harga ternak yang dijual berkisar antara Rp2,7 juta hingga Rp4 juta per ekor.

“Semoga hewan-hewan di sini tetap sehat sehingga layak dijadikan kurban dan dagingnya aman dikonsumsi masyarakat,” pungkasnya. (q cox, Iwan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *