FESyar Jawa 2021, Didominasi Pengunjung Dari Generasi Z

SURABAYA (Suarapubliknews) – Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa, 27 September-2 Oktober 2021 berakhir dengan capaian yang menggembirakan. Hasil kegiatan yang digelar secara hybrid ini cukup positif.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur, Budi Hanoto, mengatakan, jumlah pengunjung FESyar Regional Jawa, mencapai 149.230 orang atau naik sebesar 98,14 persen dibandingkan tahun sebelumnya yakni 75.315 orang.

Capaian tersebut terdiri dari 3.786 pengunjung offline kegiatan Syariah Fair di Atrium Tunjungan Plaza 1, 47.535 peserta Syariah Forum (Opening Ceremony, Seminar, Talkshow, Business Coaching melalut Zoom, Instagram dan Youtube), serta 97.909 orang pengunjung platform www. fesyarjawa.com. “Khususnya pada sisi peranan aktifitas, seperti kegiatan yang semakin banyak dan total jumlah pengunjung FESyar 2021 juga semakin meningkat,” katanya.

Hal menggembirakan lainnya, sekitar 60 hingga 70 persen pengunjung FESyar Regional Jawa berusia sekitar 18-24 tahun atau disebut generasi Z. “Artinya, mereka adalah generasi muda yang akan menjadi pemegang tampuk kebijakan. Dengan pelaksanaan FESyar Regional Jawa yang digelar secara rutin dan berkesinambungan ini akan menjadi pembelajaran generasi milenial di masa mendatang,” terang Budi Hanoto

Volume penjualan pada FESyar Regional Jawa 2021 juga meningkat. Kegiatan ini diikuti 90 UMKM Syariah Jawa. Dimana 42 UMKM menyuguhkan karya fashion mutakhir, 37 UMKM menyajikan Halal Food yang higienis dan sehat.

Serta 11 UMKM memamerkan karya Wastra berkelas. Sinergi ini juga melibatkan Hebitren, 10 Perbankan Syariah, 2 e-commerce, 3 Fintech Syariah, 5 PJSP, dan 4 Ziswaf. ”Ini adalah pertanda bagus. Karena kami menyelenggarakan FESyar ini secara Hybrid. Artinya, ada yang dilakukan secara online dan offline, dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat di lokasi Tunjungan Plasa,” ungkapnya.

Selama enam hari penyelenggaraan, FESyar Regional Jawa 2021 menghasilkan Transaksi sekitar Rp845 juta, atau meningkat 12,71% dibandingkan tahun lalu. Dengan stand penjualan tertinggi diraih oleh Jawa Timur, Jawa Barat, dan Tegal. Pelaksanaan business matching yang diawali dengan talkshow business matching sebanyak 8 (delapan) kelas sebagai pre event.

Untuk capaian pembiayaan dalam business matching dengan fokus utama kepada project UMKM, sebesar Rp6.965.945.410.199 atau meningkat 99,03 persen. Rinciannya, 10 perbankan syariah  dengan total pembiayaan Rp2.871.155.534.575; 4 lembaga Ziswaf dengan total pembiayaan Rp1.642.930.000; Fintech Syariah total pembiayaan Rp593.398.847.727;  E-Commerce dengan total transaksi penjualan Rp3.485.766 685.285 dan potential buyer dengan total transaksi perdagangan Rp13.981.415 613

Dalam business matching  yang perlu menjadi perhatian adalah total pembiayaan 10 perbankan syariah sebesar Rp2,8 triliun. Ini menunjukkan intermediasi perbankan syariah sudah membaik. Kemudian,  4 lembaga Ziswaf dengan total pembiayaan Rp1,6 miliar untuk UMKM yang produktif. Selama ini, lembaga seperti Amil Zakat atau Baznas maupun stakeholder lainnya, jika  mempunyai dana besar kalau tidak disalurkan, nanti tidak amanah.

“Dengan outlet UMKM yang mungkin saja dari kalangan dhuafa namun punya semangat tinggi untuk memiliki usaha, bisa dibiaya dengan Ziswaf. Ini potensi besar Ziswaf  untuk membiaya UMKM yang produktif. Tahun pertama bisa saja dhuafa tersebut menerima bansos dan pada tahun ketiga, dia akan menjadi pembayar Ziswaf,” papar Budi Hanoto .

Hal lain yang masih menjadi PR, adalah bagaimana mengkomunikasikan One Pesantren One Product (OPOP) jadi produk yang bisa diandalkan baik di regional maupun nasional.

“Kami akan membangun image produk Jawa Timur yang bisa dipertanggungjawabkan kontinuitas dan kualitas produknya dari OPOP. Di Jawa Timur ada 6000 pesantren dengan skala yang berbeda-beda seperti pesantren besar, menengah dan kecil serta produk yang dihasilkan dengan kualitas premium maupun menengah,” tambahnya.

Capaian dari FESyar Regional Jawa yang melebihi harapan Bank Indonesia, menunjukkan antusiasme dari seluruh masyarakat untuk terus mempelajari dan menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam seluruh sendi kehidupan, utamanya dalam mewujudkan usaha yang halal dan toyib. Selain itu, juga didukung pelaksanaan secara hybrid. (q cox, tama dinie)

Reply