Gubernur Khofifah Ajak Seluruh Pimpinan dan Anggota Fatayat NU Jatim Dakwah Wujudkan Hidup Rukun dan Damai

SURABAYA (Suarapubliknews) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh pimpinan dan anggota Fatayat Nahdatul Ulama (NU) Jatim menguatkan dakwah digital dengan pesan  mewujudkan hidup damai, rukun dan menyemai kasih antar sesama umat manusia.

Hal ini diungkap dalam acara Fatayat NU Award bertema ‘Simfoni Cinta untuk Ibu’ di Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya, Selasa (27/12). “Ini harus tumbuh dari lini manapun dan ini sudah menjadi komitmen dari seluruh pengurus Fatayat NU,” katanya.

Menurutnya, dakwah face to face atau tatap muka menjadi hal biasa, akan tetapi dakwah secara virtual akan terus hidup di berbagai media  akan terekam dan tersemai sepanjang waktu. “Dakwah virtual bisa dikuatkan Fatayat NU sehingga ketika muncul narasi tidak pro perdamaian, Fatayat melakukan penetrasi, ketika ada narasi yang ingin membangun cara pandang Indonesia yang tidak Pancasila, Fatayat melakukan penetrasi. Bahkan Fatayat secara pro aktif mendorong pola dakwah penuh kasih dan penuh damai,” tuturnya.

Upaya penetrasi tersebut, juga bisa dilakukan ketika menerapkan format dakwah  rahmatan lil alamin. Perspektif  tersebut harus disemai oleh seluruh struktur dari tingkat ranting hingga pucuk pimpinan Fatayat NU.

“Persemaian secara digital itu borderless (tanpa batas) bisa di akses di seluruh dunia dan dari generasi ke generasi bagaimana perspektif dakwah mewujudkan kerukunan, kasih dan damai. Mari kita jaga Jatim, kita jaga  Indonesia, dan jaga Fatayat menjadi pilar kuat membangun masyarakat makin perperadaban,” tegasnya.

Sementara itu Ketua Pengurus Wilayah Fatayat NU Jatim Dewi Winarti menanggapi, pesan Gubernur Khofifah terkait toleransi keagamaan untuk menjaga kerukunan, kedamaian dan menyemai kasih.

Menurutnya, pesan tersebut menjadi semangat serta atensi dari kelompok Fatayat NU. Bahwasannya NKRI harga mati dan nilai-nilai keberagaman menjadi bagian kekayaan Jatim dan Indonesia yang harus dijaga. “Dakwah yang inklusif dan dakwah yang bisa menebar satu kecintaan kepada banyak kelompok menjadi bagian yang penting untuk dilakukan secara kolektif,” tuturnya.

Tentu, para Fatayat NU juga mendorong gerakan dakwah kedamaian dan kerukunan melalui sentuhan teknologi. Melalui daiyah platform digital yang diisi generasi milenial, mereka menyerukan kebangsaan dan kedamaian.

“Lahir dari sebuah pemikiran dan gerakan yang strategis dan dukungan sehingga melahirkan generasi yang insyaallah bisa menghantarkan negara menjadi bangsa yang santun dan moderat,” ungkapnya.

Mengambil tema, ‘Simfoni Cinta untuk Ibu’, Dewi menjelaskan, Simfoni sendiri dapat dianalogikan seperti musik orkerstra yang dimainkan atau dikelola bersama- sama secara baik. Hasilnya, sentuhan perempuan Fatayat NU melahirkan kader-kader perempuan yang mampu menggerakkan masyarakat untuk mewujudkan nilai keberkahan melalui wujud nyata dari sebuah proses.

“Melalui sentuhan perempuan-perempuan, Fatayat NU melahirkan beberapa program diantaranya pembuatan modul Gerakan Sehat Fatayat Santri Nusantara (Gafantara) bidang kesehatan dan bidang dakwah melalui dakwah Islam dan antalogi karya seni dari Fatayat NU,” ungkapnya.

Pembuatan modul di tahun 2022, lanjutnya, digerakkan dan melahirkan kader-kader yang cukup membuat kawan-kawan di daerah membangun pesan kesehatan melalui gerakan sehat fayatayat NU dan santri NU.

“Ada apresiasi bagi kader bagaimana pesantren yang dianggap tidak bersih menjadi bersih, anak-anak yang tidak mengerti reproduksi mengerti reproduksi serta proses pengendalian stunting menjadi bagian penting,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Ketua Umum Fatayat Nahdatul Ulama Pusat Margaret Aliyatul Maimunah menegaskan bahwa melalui kegiatan ini menunjukkan bahwa program- program fayatayat NU memenuhi serta memberikan manfaat tidak hanya untuk kader dan pengurus Fatayat NU saja, akan tetapi juga memberikan manfaat kepada masyarakat. “Saya mengajak seluruh sahabat saya mari kita menguat bersama dan maju bersama untuk Indonesia dan peradaban dunia,” tegasnya.

Adapun di akhir acara dilakukan penyerahan cinderamata dari dewan pembina Fatayat NU kepada Gubernur Khofifah. Acara dilanjutkan  penyerahan pemenang lomba Gafantara Award. Masing-masing berasal dari Kab. Blitar, Kab. Nganjuk dan Kab. Madiun dengan menerima hadiah berupa uang yang diserahkan dewan pembina Fatayat NU.

Selain itu, penyerahan NU Award 2022 yang diraih PC Fatayat Kab. Pasuruan, PC Fatayat Kab. Probolinggo, PC Fatayat Kab. Nganjuk, PC Kab. Bawean, PC Fatayat Madiun dan PC Fatayat Ponorogo yang diserahkan Ketua Umum Fatayat NU Pusat Margaret Aliyatul Maimunah.

Terakhir penyerahan awarding pemenang video dokumenter budaya khas religi khas Jatim, antara lain Kab Sidoarjo, Kab Lamongan, Kab Malang, Kab. Bawean. Masing-masing pemenang mendapat trofi yang diserahkan oleh Ketua Pengurus Wilayah Fatayat Nahdatul Ulama (PWNU) Jatim Dewi Winarti. (Q cox, tama dini)

Reply