Jatim RayaPemerintahan

Gubernur Khofifah Optimis MCC Lahirkan Pelaku Ekonomi Kreatif Handal

53
×

Gubernur Khofifah Optimis MCC Lahirkan Pelaku Ekonomi Kreatif Handal

Sebarkan artikel ini

MALANG, (Suarapubliknews) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa optimis hadirnya Malang Creative Center (MCC) mampu menjadi wadah bagi pelaku ekonomi kreatif yang juga terintegrasi dengan Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Dunia Kerja (Dudika) sehingga bisa turunkan tingkat pengangguran terbuka.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Khofifah saat ngobrol bareng para pelaku ekonomi kreatif didampingi Walikota Malang Sutiaji di MCC. “Sekarang kan eranya gig economy (kontrak pendek pegawai). Misalnya dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja memerlukan kameramen, fotografer serta profesi yang membutuhkan skill lainnya bisa mencari talent melalui  MCC,” ungkapnya.

Kemudian, Gubernur Khofifah menyampaikan, MCC juga bisa menjadi wadah bagi siswa-siswi SMK sesuai jurusan yang digeluti. Sehingga akan ada program-program yang dapat disinergikan dengan prodi-prodi di SMK.

“Karena di sini sudah ada banyak ruang untuk skill spesifik  yang dipersiapkan untuk kreatifitas dan profesi tertentu, jadi nanti diskrupkan dengan jurusan yang ada di SMK-SMK di berbagai daerah di Jawa Timur. Termasuk SMA double track sehingga melengkapi kualifikasi sesuai kebutuhan dudika,” katanya.

Lebih lanjut Ia menyampaikan harapannya agar fasilitas yang memberikan pelatihan-pelatihan untuk menambahkan skill bagi para pekerja kreatif di MCC ini terkoneksi dengan Balai Latihan Kerja dan SMK serta SMA double track sehingga pebyiapan tenaga betjetrampilan khusus mendekati kebutuhan pasar. 

“Jadi harapannya Dudika punya pilihan opsi  selain  dari perguruan tinggi. Mereka  bisa langsung mencari ke MCC. Nah kalau sudah dibekali sertifikasi mulai dari tingkat pemula hingga advance, Dudika tinggal pilih saja di sini. Jadi sentranya ya di MCC ini,” pungkasnya

Sementara itu, Walikota Malang Sutiaji menyampaikan bahwa kehadiran MCC ini memiliki tujuan untuk mengurangi angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) baik di Malang maupun Jawa Timur. “Terbukanya ruang kreatifitas ini diharapkan mampu mengurangi Tingkat Pengangguran Terbuka,” katanya.

MCC menjadi wujud visi Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan dalam mengelola dan menjaga ekosistem Ekonomi Kreatif di Kota Malang. Hal tersebut juga bisa dilihat dari filosofi bentuk bangunan MCC. 

Sementara itu, Manajer Pemasaran dan Kerja Sama MCC Frishanti Yuan, dalam paparannya menyampaikan bahwa sejak soft launching pada Desember lalu, total sudah terdapat 550 event, 243 pelaku ekonomi kreatif, dan 121+17 kolaborator yang telah menggunakan MCC. 

“MCC bukan hanya sekadar co working space, namun lebih kompleks dari itu. Di sini kami menaungi 17 sub sektor kreatif. Melalui MCC kami ingin terciptanya Creative Universe di Kota Malang ini,” ujarnya. 

Pada kesempatan yang sama, Anggota Bidang Pemasaran dan Komunikasi (Komite Ekonomi Kreatif) Dadik menuturkan bahwa design gedung yang berlantai 8 ini terinspirasi dari Candi Badut yang merupakan Candi tertua di Jawa Timur dan merupakan titik yang tepat untuk menyerukan kebangkitan budaya Malang. 

Pemilihan Candi Badut dalam pembangunan Gedung MCC, mengacu pada beberapa nilai yang dinilai cocok untuk perkembangan MCC. “Salah satu nilai yang ada dalam Candi Badut adalah swasembada pangan,” ujarnya.

Dadik juga menceritakan bahwa MCC bermula dari diskusi di warung kopi hingga terlahirlah sebuah kebutuhan dalam forum komunikasi lintas komunitas, asosiasi, ikatan dan stakeholder kreatif dalam membangun sinergitas dan kolaborasi. 

“Kebutuhan tersebut kemudian dikomunikasikan dengan Pemkot Malang hingga di tahun 2016 terbentuklah Komite Ekonomi Kreatif (KEK). KEK kemudian menghasilkan roadmap pembangunan ekonomi kreatif di Kota Malang. Dan gedung MCC ini adalah bagian dari pemenuhan infrastrukturnya,” jelasnya. 

Kini MCC diharapkan bisa mewujudkan pertumbuhan setiap sektor ekonomi kreatif yang merata sehingga perekonomian industri kreatif tumbuh dengan baik di era modern tanpa membuang budaya sebagai sebuah nilai sejarah dan warisan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *