Legislatif Jatim Nilai Program OPOP yang Diinisiasi Gubernur Khofifah Belum Efektif

SURABAYA (Suarapubliknews) – Program One Pesantren One Product (OPOP) yang diinisiasi Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, dinilai belum efektif dalam penguatan ataupun mendorong pertumbuhan ekonomi umat.

Hal ini disampaikan oleh Anggota Komisi B DPRD Jatim, Ahmad Athoillah saat menggelar jumpa pers “Refleksi Akhir Tahun Gerakan Santri Millenial” di Satu Atap Co-Working Space, Jalan Pacar No. 2 Surabaya, Minggu (29/12/2019).

“Kita sebenarnya di teman-teman santri umumnya di Jatim, belum merasakan apa-apa terkait dengan OPOP. Mungkin yang merasakan, terkait dengan pameran yang ada,” kata Ahmad Athoillah yang akrab disapa Gus Atho ini.

Namun demikian, Gus Atho menghargai program OPOP dalam rangka mengenalkan produk-produk pesantren tersebut. Tapi, menurut dia, yang paling penting dari program tersebut, tak hanya sekadar pameran produk yang sudah ada.

“Tapi pondok-pondok pesantren yang ada, komunitas yang ada, yang belum punya produk itu mestinya yang lebih didorong,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap, melalui program tersebut, pesantren-pesantren yang belum memiliki produk juga didorong, diberi pendampingan hingga pelatihan bagaimana menghasilkan sebuah produk.

“Tidak hanya dilatih, ditinggal. Tapi juga pendampingan sampai pada pembrandingan, itu yang paling penting kita inginkan di program OPOP itu,” katanya.

Pasalnya, Fraksi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) ini menilai, selama ini masih banyak pesantren-pesantren atau desa-desa di Jatim yang belum memiliki produk. Namun, menurutnya, yang dikenalkan pihak Pemprov Jatim justru pesantren yang sudah memiliki produk. Oleh karenanya, ia ingin agar program OPOP itu juga menyasar ke sana.

“Banyak sekali desa yang belum punya produk, tapi yang dipamerkan yang sudah punya produk. Belum ada hasilnya (OPOP, red) mulai dari awal,” ungkap dia.

Makanya, Gus Atho juga mendorong pihak Pemprov Jatim agar di tahun 2020 nanti, program OPOP tak hanya  sekadar ceremony berupa pameran. Akan tetapi, bagaimana memberdayakan pesantren melalui pelatihan-pelatihan membuat produk dalam rangka penguatan ekonomi umat.

“Kami semua menginginkan tahun 2020 itu, mulai dari pelatihan, pendampingan, pembrandingan, manajemen, dengan bekerjasama dengan teman-teman seperti yang di Satu Atap (Co-Working Space) ini,” tandasnya. (q cox, And)

Reply