BisnisPeristiwa

Mahasiswa ITS Kembangkan Pawukon Jewelry, Angkat Zodiak Jawa ke Desain Perhiasan Modern

98
×

Mahasiswa ITS Kembangkan Pawukon Jewelry, Angkat Zodiak Jawa ke Desain Perhiasan Modern

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menunjukkan inovasi di bidang desain melalui pengembangan Pawukon Jewelry Collection, koleksi perhiasan yang mengangkat nilai budaya lokal ke dalam karya modern.

Karya ini dikembangkan oleh mahasiswa Departemen Desain Produk Industri ITS, Bhirawa Kusuma Wijaya, yang memadukan teknik material modern dengan konsep astrologi Jawa kuno atau wuku.

Berbeda dari tren perhiasan yang banyak mengadopsi zodiak Barat, koleksi ini menghadirkan interpretasi visual dari sistem penanggalan Jawa sebagai identitas budaya lokal. “Zodiak Barat sudah sering digunakan dalam perhiasan, sehingga saya mencoba mengangkat zodiak Jawa kuno ke dalam bentuk desain modern,” ujar Bhirawa.

Dalam koleksi ini, Bhirawa memilih Wuku Watugunung sebagai inspirasi utama, yang juga merupakan wuku kelahirannya. Ia mengusung konsep storytelling yang merepresentasikan karakter dan perjalanan hidup seseorang melalui elemen desain.

Tiga elemen utama yang diangkat meliputi: Lakuning Rembulan, melambangkan pribadi yang mudah berbaur dan membawa kebahagiaan; Bunga Wijaya Kusuma, simbol proses pertumbuhan; Sang Hyang Antaboga, berbentuk naga yang merepresentasikan semangat inovasi dan seni.

Ketiga elemen tersebut diterjemahkan ke dalam detail perhiasan seperti kepala naga berlapis emas 18 karat, mutiara air tawar, hingga batu moissanite dengan efek dancing stone yang bergerak mengikuti aktivitas pengguna.

Keunikan lain dari Pawukon Jewelry terletak pada penggunaan material tembaga dengan teknik blue patina copper. Proses ini dilakukan melalui metode oksidasi terkontrol selama 24 jam untuk menghasilkan warna biru khas pada permukaan logam.

Menariknya, teknik ini justru memanfaatkan patina—yang umumnya dianggap sebagai kerusakan material—sebagai elemen estetika utama dalam desain. “Patina biasanya dianggap cacat, tapi dalam karya ini justru menjadi nilai artistik,” jelas mahasiswa asal Ponorogo tersebut.

Karya ini berawal dari proyek perkuliahan berbasis material-driven design, yang mendorong mahasiswa melakukan eksplorasi material secara mendalam. Dalam prosesnya, Bhirawa menghadapi berbagai tantangan, mulai dari eksperimen warna, keamanan material untuk kulit, hingga ketepatan detail desain. Seluruh proses pengembangan dilakukan selama satu semester, mulai dari riset hingga produksi handmade.

Departemen Desain Produk Industri ITS turut mendukung pengembangan karya ini melalui fasilitas laboratorium, peralatan, serta pameran untuk memperkenalkan hasil karya mahasiswa ke publik.

Pengembangan Pawukon Jewelry dinilai sejalan dengan upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan industri kreatif berbasis kearifan lokal.

Ke depan, Bhirawa berharap karyanya dapat dikembangkan menjadi produk komersial yang lebih luas, sekaligus memperkenalkan kembali sistem penanggalan Jawa kepada generasi muda. “Harapannya, semakin banyak orang mengenal karya ini sekaligus budaya Indonesia yang mulai jarang diketahui,” tutupnya. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *