Penjual Gorengan yang Kemalingan dapat Atensi Serius dari Pemkot Surabaya

SURABAYA (Suarapubliknews) – Mbah Hawati (73), penjual gorengan keliling yang viral di media sosial beberapa waktu, rupanya mendapat atensi serius dari Pemkot Surabaya. Kala itu, uang hasil jualan Mbah Hawati yang ditaruh di gerobak hilang dicuri saat menunaikan salat dzuhur di sebuah halaman masjid di Surabaya.

Peristiwa pencurian itupun sempat terekam oleh kamera CCTV yang kemudian sempat diunggah oleh seseorang melalui media sosial.

Tak perlu waktu lama, rupanya Pemkot Surabaya melalui jajaran di tingkat kecamatan dan kelurahan langsung bergerak cepat untuk melakukan penjangkauan atau outrech ke rumah Mbah Hawati.

Camat Wonokromo Surabaya, Tomi Ardianto mengatakan, mendengar informasi tersebut, ia langsung menginstruksikan TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan) untuk berkoordinasi dengan pihak kelurahan agar dilakukan penjangkauan.

“Saya langsung instruksikan kepada TKSK untuk melakukan penjangkauan terhadap klien (Mbah Hawati, red) beserta keluarganya,” kata Tomi melalui pesan tertulis.

Dari hasil penjangkauan yang dilakukan, diketahui suami Mbah Hawati meninggal pada tahun 2006 dan tidak dikaruniai anak. Selama ini, ia tinggal bersandingan rumah bersama kakak kandungnya di Jalan Upa Jiwa, Kelurahan Ngagel, Kecamatan Wonokromo Surabaya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ternyata Mbah Hawati tidak ingin menggantungkan kepada saudaranya. Meski dengan kondisi fisik yang sudah lanjut usia, ia lebih memilih bekerja dengan berjualan gorengan keliling menggunakan gerobak. Gorengan yang ia jual pun merupakan titipan dari orang. Dengan keuntungan satu gorengan Rp 200.

Tomi mengungkapkan, dari hasil outrech yang dilakukan, Mbah Hawati sudah mendapat bantuan BPJS PBI dari APBN. Namun begitu, Tomi juga menginstruksikan jajarannya agar intervensi dari pemkot yang belum tercukupi bisa diakomodir. Diantaranya, bantuan permakanan hingga modal usaha toko klontong, agar Mbah Hawati bisa usaha di rumah.

“Mengingat kondisi Mbah Hawati yang sudah lansia, rawan untuk bekerja di luar dengan gerobak dorong,” ujar Tomi.

Kendati demikian, Lurah Ngagel, Kecamatan Wonokromo Surabaya, Lilik Suryani memastikan untuk mengupayakan berkoordinasi dengan dinas terkait agar Mbah Hawati bisa mendapatkan intervensi yang belum tercukupi.

“Kami upayakan berkoordinasi dengan dinas terkait, agar klien (Mbah Hawati, red) ini bisa mendapatkan intervensi yang belum tercukupi,” katanya. (q cox, and)

Reply