BisnisNasionalPeristiwa

Reni Wulandari, Perempuan Pertama Direktur Operasi SIG yang Tembus Industri Semen

87
×

Reni Wulandari, Perempuan Pertama Direktur Operasi SIG yang Tembus Industri Semen

Sebarkan artikel ini

JAKARTA (Suarapubliknews) ~ Reni Wulandari menorehkan sejarah sebagai perempuan pertama yang menjabat Direktur Operasi di PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), perusahaan semen terbesar di Indonesia. Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di industri semen, Reni membangun kariernya dari level operasional hingga posisi strategis, di sektor yang selama ini identik didominasi laki-laki.

Lulusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro dan Magister Bisnis dari Swiss German University ini memulai perjalanan kariernya sebagai General Manager di pabrik Tuban dan Narogong milik anak usaha SIG, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk.

Kariernya terus berkembang hingga dipercaya menjadi Direktur Operasi di PT Semen Gresik, sebelum akhirnya diangkat sebagai Direktur Operasi SIG melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada April 2023.

Dalam menjalankan perannya, Reni mengusung pendekatan Visible-Felt Leadership, yaitu kepemimpinan yang menekankan kehadiran langsung di lapangan dan interaksi dengan karyawan.

Menurutnya, pendekatan ini penting, terutama di lingkungan kerja operasional yang mayoritas diisi oleh tenaga kerja laki-laki. “Kesetaraan gender di SIG bukan sekadar slogan, tetapi sudah terimplementasi dalam praktik kerja sehari-hari,” ujarnya.

Sebagai penerima penghargaan The Most Extraordinary Women Business Leaders 2024, Reni menegaskan bahwa kesetaraan di dunia kerja tidak cukup hanya diperjuangkan melalui wacana.

Menurutnya, pembuktian melalui kinerja menjadi kunci utama. “Kesetaraan gender justru dapat meningkatkan profitabilitas, inovasi, dan produktivitas melalui keberagaman perspektif,” katanya.

Di sisi lain, SIG juga menegaskan komitmennya terhadap kesetaraan gender melalui kebijakan internal.

Direktur Human Capital SIG, Hadi Setiadi, menyebut perusahaan menerapkan kebijakan Fair Employment Opportunity Policy, yang menjamin proses rekrutmen dan pengembangan karier dilakukan secara transparan berbasis kompetensi. “Tidak ada diskriminasi dalam proses seleksi, semua berdasarkan kinerja dan profesionalisme,” ujarnya.

Sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan kerja inklusif, SIG juga menyediakan berbagai fasilitas untuk karyawan perempuan, seperti: cuti melahirkan, ruang laktasi, dispensasi haid.

Selain itu, perusahaan juga membentuk komunitas internal Srikandi SIG sebagai wadah pengembangan dan pemberdayaan karyawan perempuan. SIG juga menerapkan kebijakan Respectful Workplace Policy untuk memastikan lingkungan kerja yang aman dari diskriminasi dan kekerasan.

SIG menilai kesetaraan gender bukan hanya isu sosial, tetapi juga bagian dari strategi bisnis. Dengan lingkungan kerja berbasis merit—yang menekankan kompetensi, kualifikasi, dan kinerja—perusahaan optimistis dapat meningkatkan daya saing sekaligus menciptakan organisasi yang lebih produktif. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *