Wabup Rahmat Santoso Dorong Bangkitnya Sektor Wisata di Kabupaten Blitar

BLITAR (Suarapubliknews) – Setelah terpuruk akibat dampak pandemi COVID-19, kini Wakil Bupati Blitar Rahmat Santoso mendorong kebangkitan kembali sektor pariwisata di wilayah Kabupaten Blitar.

Rahmat Santoso mengungkapkan, berdasarkan Instruksi Dalam Negeri (Inmendagri), status PPKM di wilayah Kabupaten Blitar saat ini masih tercatat di level 3. Namun asesmen Kementerian Kesehatan telah menempatkan Kabupaten Blitar ke dalam level 1 PPKM COVID-19.

“Untuk kebangkitan kembali sektor pariwisata, sebenarnya kita sudah di level 1 PPKM tapi masih dalam tahap uji coba. Yaitu tempat pariwisata boleh buka dengan protokol kesehatan serta syarat-syarat lainnya,” ujarnya ke sejumlah awak media yang tergabung dalam KOMPAK. Jumat (5/11/2021) lalu.

Sebagai orang nomer dua di Kabupaten Blitar, Rahmat menegaskan jika vaksinasi COVID-19 terhadap masyarakat di wilayah Kabupaten Blitar telah mencapai 69 persen untuk masing-masing dosis 1 dan 2.

Wabup Rahmat meyakini jika destinasi wisata di Kabupaten Blitar tidak kalah dengan daerah-daerah lain, yang salah satunya adalah Wisata edukasi di Kampung Coklat, Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar.

“Silahkan dilihat sendiri, begitu bagusnya tempat ini. Hasil dari perkebunan itu sendiri, terutama coklat, diekspor sampai ke Swiss,” tuturnya. “Sekarang mulai dibuka kembali dalam tahap uji coba,” imbuh Direktur Pengembangan Bisnis Kampung Coklat Akhsin Al Fata, saat mendampingi Wabup Rahmat Santoso.

Akhsin Al Fata mengungkapkan, salah satu alasan tempat ini sejak 2014 dibuka sebagai destinasi wisata adalah untuk menunjukkan salah satu komoditas ekspor Indonesia kepada masyarakat.

“Indonesia adalah tiga terbesar produsen kakao di dunia. Tapi belum banyak masyarakat mengetahui itu. Di situlah kami ingin membagikan ilmu yang kami miliki sehingga masyarakat tahu kalau Indonesia penghasil coklat dari kakao,” katanya.

Tercatat selama ini ekspor biji kakao terbanyak dari Kampung Coklat Blitar adalah ke negara Malaysia yang kemudian diolah menjadi berbagai produk makanan.

“Produk-produk makanan olahan coklat dari Malaysia itu selanjutnya dipasok ke pasar Eropa, Timur Tengah dan berbagai belahan dunia lainnya,” ujarnya.

Akhsin menandaskan, demi memenuhi pasar ekspor tersebut, Kampung Coklat di Blitar juga bekerja sama dengan menerima hasil panen dari para petani kakao asal daerah lain, seperti dari Madiun, Jember, Banyuwangi, Jawa Timur dan Gunung Kidul, Yogyakarta. (q cox)

Wartawan Komunitas Media Pengadilan dan Kejaksaan (KOMPAK) Surabaya saat berkunjung ke Kampung Coklat. Jumat (5/11/2021)

Reply