Warga Surabaya Sudah Budidaya Tanaman Obat Sebelum Virus Corona Muncul

SURABAYA (Suarapubliknews) – Sebelum Virus Corona muncul, ternyata warga Kota Surabaya sudah membudidayakan tanaman obat asli Indonesia seperti jahe, kunyit, temulawak, hingga sambiloto (empon-empon).

Tanaman tersebut, bermanfaat untuk menamengi imunitas tubuh dari serangan virus. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Universitas Airlangga (Unair) yang menyatakan bahwa empon-empon berkhasiat mencegah Virus Corona.

Kasi Pengembangan Pertanian Perkotaan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, Antin Kusmira mengatakan, Pemkot Surabaya melalui DKPP telah lama memberikan bantuan bibit tanaman toga dan pembinaan kepada masyarakat. Bibit tanaman toga itu, termasuk di dalamnya berupa temulawak, jahe dan kunyit (empon-empon).

“Dari bibit bantuan itu, warga kemudian membudidayakannya. Ada yang berupa di hamparan ada yang di media polybag,” kata Antin saat dihubungi, Sabtu (07/03/2020).

Menurutnya, budidaya tanaman herbal yang dilakukan masyarakat, sudah berlangsung sejak lama. Bahkan, sebelum Virus Corona muncul, beberapa perkampungan di Kota Surabaya sudah melakukan budidaya tanaman herbal tersebut.

“Masyarakat sudah membudidayakan tanaman ini karena itu memang termasuk tanaman obat keluarga. Jadi sebelum ada virus corona pun mereka sudah menanam,” katanya.

Antin mengungkapkan, awalnya warga itu mengajukan permohonan ke DKPP agar dibantu tanaman toga dan diantaranya terdapat empon-empon. Dari bibit bantuan tersebut, kemudian dibudidayakan oleh mereka.

“Jadi kita kasih beberapa bibit tanaman empon-empon itu, ada jahe, temulawak, kunyit, kemudian mereka membudidayakan di kampungnya,” jelasnya.

Menariknya, selain hasil panen yang bisa dikonsumsi sendiri, ternyata warga juga mengolah tanaman tradisional tersebut menjadi minuman herbal yang kemudian dijual untuk menambah income pendapatan. Bahkan, warga juga mengolah hasil panen empon-empon menjadi minuman instan berupa bubuk.

“Kalau hasil mereka memang selain untuk diri sendiri juga ada yang dijual untuk bahan dasar minuman. Ada juga yang diolah menjadi serbuk minuman instan berupa bubuk jahe instan, atau temulawak instan,” ungkapnya.

Salah satu kampung yang membudidayakan tanaman empon-empon ini berada di wilayah Kelurahan Nginden Jangkungan Surabaya. Sejak lama, warga RT 09 RW 05 Kelurahan Nginden Jangkungan Surabaya, membudidayakan tanaman toga yang dipercaya mampu meningkatkan imunitas tubuh untuk menangkal Virus Corona.

Lurah Nginden Jangkungan, Kecamatan Sukolilo Surabaya, Erna Sri Wulandari mengatakan, budidaya tanaman toga yang dilakukan warganya sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Tetapi, mulai aktif pada tahun 2015. Warga di sana, memanfaatkan tanah aset pemkot yang dulu merupakan rawa dan kemudian disulap menjadi Taman Herbal.

“Karena memang dulu awalnya rawa-rawa dan dihuni banyak hewan, sehingga banyak yang kena DB (demam berdarah). Nah, kemudian sama warga dimanfaatkan untuk budidaya berbagai jenis tanaman herbal,” kata Erna.

Perempuan yang telah menjabat Lurah sejak pertengahan Juli 2014 ini mengungkapkan, setidaknya ada 172 jenis tanaman herbal yang dibudidayakan oleh warganya. Diantara tanaman herbal tersebut, ada jahe, kunyit, dan juga temulawak yang bermanfaat untuk menambah imunitas tubuh.

“Jadi Taman Herbal (Kampung Herbal) ini bukan sulapan atau baru-baru saja dibuat, tetapi sudah lama sebelum ada Virus Corona,” terangnya.

Sistemnya, Erna menyebut, warga melakukan pembibitan secara swadaya di lahan yang dahulu merupakan bekas rawa. Warga pun berbagi tugas satu dengan yang lain dalam proses budidaya. Selain dibuat produk minuman, hasil bibit tanaman herbal itu ternyata juga dijual warga untuk menambah income pendapatan.

“Banyak warga dari luar juga yang membeli bibit tanaman herbal di sini. Selain itu, hasil tanaman herbal ini juga diolah warga menjadi produk minuman, seperti sinom, temulawak dan dititip-titipkan ke warung-warung untuk dijual,” ungkap dia.

Lambat laun, ternyata banyak warga luar Surabaya yang tertarik untuk berkunjung ke Taman Herbal tersebut. Bahkan, seringkali turis asing juga berkunjung untuk belajar pembibitan tanaman herbal.

Ketika berkunjung ke lokasi ini, pengunjung akan didampingi oleh guide atau pemandu yang akan menjelaskan berbagai jenis tanaman herbal di sana. Kini, Taman Herbal yang berada di wilayah Kelurahan Nginden Jangkungan ini menjadi salah satu daya tarik wisata Kota Surabaya.

Namun begitu, perempuan berkerudung ini mengungkapkan, ada hal menarik yang bisa dijumpai ketika berkunjung di Taman Herbal Nginden Jangkungan ini. Warga di sana, rupanya telah memanfaatkan sistem barcode untuk memudahkan pengunjung belajar berbagai jenis dan manfaat tanaman herbal di lokasi tersebut. D

engan menerapkan sistem barcode, pengunjung bisa mengetahui berbagai jenis nama dan manfaat tanaman toga yang ditanam.

“Sementara ini ada 60 jenis tanaman yang bisa dicek menggunakan barcode. Dari barcode itu bisa diketahui mulai jenis tanaman, nama latin, manfaat tanaman hingga cara pengolahannya,” pungkas Erna. (q cox)

Reply