NasionalPeristiwa

Dari Limbah hingga Jejak Kehidupan, Tujuh Seniman Raih Penghargaan MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026

73
×

Dari Limbah hingga Jejak Kehidupan, Tujuh Seniman Raih Penghargaan MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026

Sebarkan artikel ini

JAKARTA (Suarapubliknews) ~ Tema Strength & Resilience diterjemahkan dengan cara yang beragam oleh para seniman dalam MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026. Dari limbah tali plastik, debu semen, karung goni, hingga kusen pintu tua, berbagai material dan pengalaman sehari-hari diolah menjadi karya yang berbicara tentang ketangguhan manusia, lingkungan, identitas, dan perubahan hidup.

Kompetisi yang digelar PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MR.D.I.Y. Indonesia) bersama IndoArtNow tersebut memasuki tahun kedua penyelenggaraan. Tahun ini, lebih dari 1.500 karya dari 32 provinsi ikut berkompetisi, menunjukkan semakin luasnya minat masyarakat terhadap ruang ekspresi seni.

Dari proses kurasi dan penilaian yang mempertimbangkan ide, kreativitas, komposisi, serta teknik, terpilih tujuh seniman sebagai penerima penghargaan utama dari kategori Profesional, Umum, serta Pelajar dan Mahasiswa.

R.E. Hartanto, seniman sekaligus dewan juri, melihat adanya perkembangan menarik dalam kualitas karya peserta. Menurutnya, tema Strength & Resilience tidak diterjemahkan secara seragam, melainkan melalui pengalaman personal, isu sosial, hingga refleksi terhadap budaya dan lingkungan.

“Yang paling menonjol bukan hanya kemampuan teknis, tetapi bagaimana para peserta mampu membangun narasi yang kuat dan autentik melalui pilihan medium, visual, maupun konsep yang mereka hadirkan,” ujarnya.

Pada kategori Profesional, Ari Bayuaji meraih Grand Prize melalui karya The Storms that Unified Us. Seniman asal Mojokerto, Jawa Timur, yang berdomisili di Bali dan Kanada tersebut menggunakan benang plastik/nilon, benang katun, manik-manik batu alam, dan tembaga.

Karyanya berawal dari proyek Weaving the Ocean, yang mengolah limbah tali tambang plastik yang ditemukan di kawasan bakau Mertasari, Bali, menjadi karya tenun melalui kolaborasi dengan komunitas lokal yang terdampak pandemi.

Karya tersebut memadukan teknik tenun tradisional Bali dengan material daur ulang. Bagi Bayuaji, material yang sebelumnya menjadi limbah justru dapat menjadi medium untuk mempertemukan persoalan lingkungan, tradisi kriya, sekaligus pemberdayaan masyarakat.

Sementara pada kategori Umum, Veronica Liana menjadi peraih Grand Prize melalui Rupa Tan Mantra. Karya instalasi berbahan kain dan dakron itu lahir dari perubahan praktik berkarya setelah dirinya menjadi seorang ibu. Instalasi berupa mesin jahit berbahan kanvas digunakan untuk merefleksikan perubahan identitas serta kerja-kerja perawatan yang kerap tersembunyi di balik rutinitas domestik.

Masih dari kategori Umum, Haidar Ammar meraih Judge’s Award lewat Holding the Self Together. Ia menggunakan tinta di atas limbah plastik dengan teknik sublimation. Karya tersebut memanfaatkan limbah plastik sebagai medium untuk membicarakan kekuatan dan resiliensi dalam menghadapi krisis sosial dan ekologis. Komposisinya mempertemukan manusia, satwa, bunga, dan lanskap sebagai gambaran keterhubungan berbagai makhluk hidup.

Sementara Angela Sunaryo memperoleh President Director’s Award melalui XELOTEXAN, sebuah instalasi bunyi interaktif elektro-mekanis berbasis ESP32 dan sensor pijakan. Terinspirasi dari bunyi “kelotekan”, Angela mengubah sejumlah material rumah tangga yang umum ditemukan di gerai MR.D.I.Y. menjadi sumber bunyi.

Setiap hentakan kaki pengunjung dapat membentuk dan menggabungkan ritme dengan peserta lain sehingga menghasilkan komposisi yang terus berkembang. Di sini, konsep kekuatan dan ketangguhan diterjemahkan melalui pengalaman kolaboratif. Karya tidak hanya dilihat, tetapi juga dimainkan dan dibentuk bersama oleh pengunjung.

Menariknya, pendekatan serupa juga muncul dari kategori Pelajar dan Mahasiswa. Muhammad Ragib Noer Khasyi meraih Grand Prize melalui Yang Tersisa Sepulang Kerja (1). Mahasiswa Seni Grafis Institut Seni Indonesia Surakarta tersebut menggunakan kertas dan sisa debu semen mentah yang terkumpul pada rompi kerja sebagai medium.

Debu semen yang biasanya dianggap sebagai residu produksi justru digunakan untuk merekam kedekatan antara tubuh manusia dan lingkungan industri. Karya ini sekaligus mengajak melihat bagaimana polusi udara dapat perlahan melekat dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitar kawasan industri.

M. Nashrul Rizqil Akbar dari Pasuruan, Jawa Timur, yang kini menempuh pendidikan Seni Murni di ISI Yogyakarta, mendapatkan Judge’s Award melalui Tjap TANGGOEH. Menggunakan goni dan sekam sebagai medium, Nashrul menghadirkan representasi para pekerja yang dilukis di atas karung berisi padi.

Karya tersebut berangkat dari gagasan bahwa kekuatan dan ketangguhan tidak memiliki ukuran yang sama bagi setiap orang. Ketangguhan dapat dimaknai melalui kemampuan untuk terus bertahan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Adapun Nadiva Nuriftitah meraih President Director’s Award lewat The Doorframe. Mahasiswa Teknik Elektronika asal Cikarang, Bekasi, tersebut menggunakan cat air, pensil warna, wax crayon, dan kertas untuk menghadirkan gambaran sebuah kusen pintu tua.

Kusen tersebut menjadi metafora perjalanan hidup—mulai dari tumbuh dewasa, merantau hingga membangun keluarga. Tanpa menampilkan sosok manusia, Nadiva meninggalkan jejak kehidupan melalui tanda tinggi badan anak, bekas bingkai foto, lapisan cat, lubang paku, hingga ambang pintu yang aus oleh waktu.

Menariknya, dunia yang dijalani Nadiva tidak hanya berada di ranah seni. Ia merupakan mahasiswa Teknik Elektronika, penerima beasiswa Erasmus Mundus melalui program RADMEP, sekaligus bekerja sebagai Electrical Engineer. Ia juga memiliki ketertarikan pada pengembangan web, automasi, teknologi kuantum, hingga post-quantum cryptography.

Bagi MR.D.I.Y. Indonesia, kompetisi ini tidak berhenti pada pemberian penghargaan. Seluruh karya pemenang akan dipamerkan dalam MR.D.I.Y. Indonesia Art Exhibition pada 7–23 Agustus 2026 di MR.D.I.Y. Store, Lotte Mall Jakarta. Pameran tersebut terbuka untuk masyarakat tanpa biaya.

Lebih jauh, tahun ini Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026. Para pemenang kategori Umum serta Pelajar dan Mahasiswa akan mewakili Indonesia untuk berkompetisi bersama para pemenang dari Malaysia dan Thailand. Total hadiah yang disiapkan dalam rangkaian kompetisi mencapai Rp370 juta.

Direktur Utama MR.D.I.Y. Indonesia Edwin Cheah menilai meluasnya partisipasi hingga 32 provinsi menunjukkan bahwa semangat berkarya masyarakat terus berkembang. “MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition bukan sekadar kompetisi. Ini adalah bukti bahwa semangat berkarya masyarakat Indonesia terus tumbuh, dari kota besar hingga daerah dengan jangkauan platform seni yang belum optimal,” katanya.

Sementara itu, Pendiri IndoArtNow Tom Tandio melihat penyelenggaraan kompetisi tingkat regional di Indonesia sebagai kesempatan untuk memperkenalkan kualitas seniman Tanah Air kepada publik yang lebih luas di Asia Tenggara.

Pada akhirnya, tujuh karya yang terpilih memperlihatkan bahwa gagasan tentang strength dan resilience tidak selalu harus hadir melalui gambaran yang besar atau dramatis. Ia dapat muncul dari limbah yang diselamatkan, pekerjaan yang dijalani setiap hari, pengalaman menjadi ibu, suara dari benda-benda rumah tangga, hingga sebuah kusen pintu yang menyimpan jejak perjalanan sebuah keluarga. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *