Tanpa Bertarung, Hafid Suadi Terpilih jadi Ketua DPD PAN Surabaya

SURABAYA (Suarapubliknews.net) – Proses pemilihan di Musda Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Surabaya 2016 memang berlangsung tanpa gejolak, alias adem ayem. Karena kondisi ini memang sengaja diciptakan untuk menghindari konflik intern dan pengaruh dari luar.

Seperti yang diperkirakan sebelumnya, bahwa paket formatur yang terdiri dari empat orang milik kelompok Hafid Suadi bakal lolos menjadi formatur. Nama-nama pendamping Hafid Suadi adalah Endras Heru, Sudirjo, dan HM Arsyad.

Jahja Sholahudin Ketua Steering comittee (SC) atau panitia pelaksana Musda PAN Surabaya, mengatakan, Musda telah dilaksanakan dengan azas musyawarah mufakat bersama wakil dari DPW, dan berhasil mendapatkan kesepakatan susunan pengurus inti untuk DPD PAN Kota Surabaya masa bakti 2016 2021.

“Hasilnya, Ketua Hafid Suadi, Sekretaris Endras Heru, Bendahara Sudirjo, Ketua Bappilu HM Arshad, dan untuk ketua MPP adalah H Surat yang merupakan wakil dari DPW,” ucap.

Jahja dengan tegas menolak isu soal nepotisme yang mengaitkan hubungan dekat Hafid Suadi yang ternyata adalah saudara dekat dengan status ipar dengan Masfuk ketua DPW PAN Jatim.

“Alasan kenapa Hafid, dia sudah teruji dengan tiga kali maju Caleg, terbukti mendapatkan suara yang besar meski akhirnya tidak jadi anggota dewan, dia ini memang petarung, bukan karena iparnya pak Masfuk,” jelasnya kepada para pewarta.

Menurut Jahja, peserta Musda tercatat berjumlah 230, dan acara berlangsung kondusif. Meskipun ada beberapa protes dan pertanyaan dari peserta, namun sifatnya hanya soal teknis pemilihan, bukan lontaran pernyataan penolakan.

“Tidak ada penolakan, tetapi kalau dinamika disaat proses berlangsung memang ada, namun tidak terlalu tajam, intinya berjalan dengan lancar,” jawabnya dengan normatif.

Dia juga mengatakan bahwa pengurus yang baru saja terpilih sudah sah dan bisa segera menyusun struktural organinasi dengan waktu satu minggu. “Setelah ini diberikan waktu satu minggu untuk menyusun kepengurusan, dan hasil Musda ini sah, karena telah dilalui dengan proses penandatanganan,” tandasnya.

Sebelumnya, Masfuk Ketua DPW PAN Jatim menyampaikan kepada sejumlah wartawan bahwa mekanisme pemilihan pengurus inti untuk tingkat DPD saat ini terbilang baru, yakni menggunakan azas musyawarah dan mufakat, sesuai hasil Rakernas

“Mekanisme ini memang baru, sebelum Musda ini digelar, masing-masing dipersilahkan untuk melakukan Muscab, dengan maksud untuk menghindari konflik saat Musda sekaligus pengaruh dari luar, dasarnya adalah AD/ART dan hasil Rakernas terbaru, yakni kembali ke sila ke empat Pancasila yaitu mengedepankan azas Musyawarah dan Mufakat,” terang mantan Bupati Lamongan ini.

Menanggapi soal isu nepotisme, Masfuk dengan enteng mengatakan bahwa hal itu sudah biasa dalam proses politik, apapun bisa dikaitkan, namun dirinya tetap otimis bahwa Musda untuk DPD Surabaya akan berlangsung dengan baik dan kondusif.

“Untuk mendapatkan empat formatur memang menjadi hak DPW, namun itu dilakukan oleh pengurus harian, bukan saya, jadi saya tetap berusaha untuk netral, yang terpenting, siapapun yang akan terpilih harus bisa membesarkan partai di masa mendatang dengan sejumlah target,” tegasnya.

Dalam pidatonya, Masfuk menyampaikan jika sejak dirinya terpilih menjadi ketua DPW PAN Jatim, sudah mencanangkan target perolehan kursi untuk wilayah Kabupaten/Kota dan provinsi.

“Target saya sejak menjadi ketua DPW, harus bisa menyumbangkan kursi untuk DPR RI sejumlah 11 yang sebelumnya hanya 7, untuk prov 11, khusu untuk kota Surabaya minimal 6 supaya bisa merebut kursi ketua,” katanya. (q cox)

Reply