Peristiwa

IFI Surabaya Tutup Pekan Francophonie 2026 dengan Kolaborasi Seni Lintas Budaya

96
×

IFI Surabaya Tutup Pekan Francophonie 2026 dengan Kolaborasi Seni Lintas Budaya

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Rangkaian Pekan Francophonie 2026 resmi ditutup di Surabaya pekan lalu dengan pertunjukan seni yang menggabungkan unsur budaya Prancis dan Indonesia. Kegiatan ini menjadi bagian dari perayaan global komunitas penutur bahasa Prancis yang tidak hanya menyoroti bahasa, tetapi juga keberagaman budaya dan kolaborasi lintas negara.

Direktur Institut Français Indonesia Surabaya, Vincent Padere, mengatakan bahwa Pekan Francophonie bukan sekadar festival budaya, melainkan ruang dialog yang mempertemukan berbagai ekspresi seni dan perspektif dari negara-negara francophone.

“Francophonie itu bukan hanya tentang bahasa Prancis, tetapi tentang nilai keberagaman, pertukaran budaya, dan kerja sama. Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang pertemuan antara budaya Indonesia dan dunia francophone,” ujarnya.

Pekan Francophonie 2026 digelar di berbagai kota di Indonesia dengan lebih dari 100 kegiatan yang melibatkan kedutaan besar negara-negara berbahasa Prancis, lembaga budaya, serta institusi pendidikan.

Program yang dihadirkan mencakup beragam aktivitas, mulai dari konser musik, pemutaran film, pameran, hingga lokakarya dan kompetisi bahasa Prancis. Kegiatan ini juga terbuka untuk masyarakat luas sebagai upaya memperkenalkan budaya francophone secara lebih dekat.

Di Surabaya, penutupan Pekan Francophonie menghadirkan pertunjukan musik bertajuk “Avec le temps” yang dibawakan oleh duo musisi Tunisia–Prancis, Dorsaf Hamdani dan Zied Zouari. Pertunjukan diawali dengan penampilan musik tradisional Indonesia oleh pelajar SMKN 12 Surabaya melalui alat musik seruling dan siter, membawakan lagu Jali-Jali dan Walang Kekek.

Dorsaf tampil sebagai vokalis sekaligus pemain tambour, sementara Zied memainkan biola dan piano. Mereka membawakan lagu-lagu klasik Prancis yang dipadukan dengan nuansa Arab dan Mediterania, menciptakan pengalaman musikal yang unik.

Salah satu momen menarik dalam penutupan acara adalah ketika para musisi mengajak penonton berkolaborasi menyanyikan lagu bertema Kartini sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh emansipasi perempuan Indonesia.

Menurut Vincent, momen tersebut mencerminkan semangat Francophonie yang mengedepankan inklusi dan dialog budaya. “Kolaborasi seperti ini menunjukkan bahwa seni bisa menjadi jembatan yang menghubungkan budaya yang berbeda, sekaligus menyampaikan nilai-nilai universal seperti kesetaraan dan kebebasan,” jelasnya.

Tak hanya di dalam auditorium, rangkaian penutupan juga merambah ruang publik dengan menghadirkan pertunjukan marionette raksasa di area luar IFI Surabaya. Pertunjukan ini menampilkan pertemuan unik antara tokoh sepak bola Prancis dengan karakter wayang Indonesia, Srikandi. Kolaborasi visual ini menjadi simbol pertemuan dua budaya yang berbeda namun saling melengkapi.

Atraksi tersebut diiringi oleh penampilan drumband kontemporer Grobak Kletek yang membawakan komposisi musik populer dari Prancis dan Indonesia, menciptakan suasana yang meriah dan interaktif.

Kehadiran wayang dan marionette di ruang terbuka ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga upaya mendekatkan seni kepada masyarakat luas. Dengan menghadirkan pertunjukan di ruang publik, Pekan Francophonie menunjukkan bahwa seni dapat dinikmati secara inklusif oleh berbagai kalangan.

Melalui Pekan Francophonie, IFI berharap dapat terus memperkuat hubungan antara Indonesia dan negara-negara francophone, baik dalam bidang budaya, pendidikan, maupun kerja sama internasional. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan peluang belajar bahasa Prancis sekaligus membuka akses terhadap jaringan global yang lebih luas. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *