BisnisNasionalPeristiwa

SIG Percepat Transformasi Hijau, Manfaatkan Limbah Jadi Energi hingga Reklamasi Tambang

88
×

SIG Percepat Transformasi Hijau, Manfaatkan Limbah Jadi Energi hingga Reklamasi Tambang

Sebarkan artikel ini

JAKARTA (Suarapubliknews) ~ Upaya transisi menuju industri yang lebih ramah lingkungan semakin diperkuat oleh PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) melalui berbagai inisiatif berbasis keberlanjutan. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan mulai mengoptimalkan pemanfaatan limbah sebagai sumber energi hingga mempercepat reklamasi lahan pascatambang.

Langkah ini menjadi bagian dari penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang kini semakin menjadi perhatian di sektor industri berat, khususnya di tengah tekanan global terkait perubahan iklim.

Salah satu fokus utama SIG adalah pemanfaatan bahan bakar alternatif yang berasal dari limbah industri, biomassa, hingga sampah perkotaan yang diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF). Sepanjang 2025, penggunaan bahan bakar alternatif ini meningkat signifikan hingga 681 ribu ton, atau naik 24 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pemanfaatan tersebut setara dengan pengurangan konsumsi batu bara hingga 467 ribu ton. Langkah ini tidak hanya berkontribusi pada penurunan emisi, tetapi juga menjadi solusi pengelolaan limbah yang selama ini menjadi tantangan di berbagai sektor.

Selain limbah, SIG juga memperluas pemanfaatan energi terbarukan melalui pemasangan panel surya di sejumlah fasilitas produksi. Perusahaan juga mengembangkan teknologi Waste-Heat Recovery Power Generation (WHRPG), yang memanfaatkan panas buang dari proses produksi untuk diubah menjadi listrik.

Upaya tersebut berkontribusi pada penurunan emisi gas rumah kaca, dengan penurunan emisi cakupan 1 sebesar 21 persen dibandingkan baseline 2010, serta cakupan 2 turun 15 persen dibandingkan baseline 2019.

Di sektor pertambangan, SIG juga menjalankan program pemulihan lingkungan melalui reklamasi lahan pascatambang. Hingga 2025, total lahan yang telah direklamasi mencapai 628 hektare di berbagai wilayah operasional. Program ini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus meminimalkan dampak lingkungan dari aktivitas industri.

Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menyebut bahwa keberlanjutan kini tidak lagi sekadar kewajiban, tetapi telah menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing perusahaan. “Keberlanjutan dapat berjalan seiring dengan kinerja bisnis dan bahkan memperkuat ketahanan operasional,” ujarnya.

Pernyataan ini mencerminkan perubahan paradigma di sektor industri, di mana aspek lingkungan mulai menjadi bagian dari strategi bisnis jangka panjang.

Langkah SIG juga mendapat pengakuan melalui penghargaan PROPER Hijau 2025 dari pemerintah, yang menunjukkan penerapan standar lingkungan yang dinilai baik. Ke depan, transformasi menuju industri bahan bangunan yang lebih efisien dan ramah lingkungan diperkirakan akan terus berlanjut, seiring meningkatnya tuntutan terhadap praktik bisnis berkelanjutan. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *