SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Dua mahasiswa Program Magister Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember menghadirkan inovasi robot edukasi tanpa layar bernama Kakarobot sebagai solusi pembelajaran teknologi bagi anak-anak di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Danya Deluca bersama rekannya Muhammad Azriel Rizqifadhiilah untuk membantu anak-anak mengenal robotika tanpa harus bergantung pada akses gawai dan teknologi digital yang masih terbatas di sejumlah daerah.
Deluca yang juga menjadi Chief Executive Officer (CEO) sekaligus penemu Kakarobot mengungkapkan ide tersebut lahir dari pengalaman pribadinya saat mengalami kesulitan mempelajari robotika ketika kuliah.
Ia menilai tantangan tersebut tentu akan jauh lebih berat dirasakan anak-anak di wilayah 3T yang memiliki keterbatasan akses pembelajaran teknologi. “Dengan adanya robot edukasi yang sudah dilengkapi dengan sistem operasi internal, bisa menjadi pintu masuk untuk anak-anak mengenal teknologi dengan aksesibilitas tanpa gawai,” ujarnya.
Lebih dari sekadar alat pengenalan teknologi, Kakarobot dirancang untuk membantu anak-anak membangun pola pikir komputasi dan kemampuan pemecahan masalah secara sistematis sejak dini.
Menurut Deluca, pembelajaran logika dan teknologi menjadi penting agar generasi muda di daerah 3T mampu menghadapi disrupsi teknologi di masa depan. “Dengan bekal logika yang kuat, mereka diharapkan mampu bersaing dan meningkatkan taraf ekonomi di daerahnya masing-masing,” ungkap penerima Beasiswa Indonesia Maju tersebut.
Kakarobot juga dikembangkan dengan pendekatan interaktif dan menyenangkan agar materi robotika yang kompleks dapat dipahami anak-anak melalui aktivitas eksploratif yang lebih natural.
Inovasi Kakarobot berhasil mendapat pengakuan internasional setelah meraih juara pada ajang Hult Prize yang digelar di Institut Teknologi Bandung pada 10 Mei 2026. Kemenangan tersebut membuat tim Kakarobot akan mewakili Indonesia pada ajang Hult Prize Global Final yang rencananya berlangsung di Inggris.
Keberhasilan tersebut dinilai menjadi bukti bahwa inovasi teknologi berbasis pendidikan sosial dari mahasiswa Indonesia memiliki daya saing global sekaligus relevan untuk menjawab tantangan kesenjangan akses teknologi.
Melalui inovasi Kakarobot, ITS menegaskan komitmennya dalam mendorong pemerataan akses pendidikan teknologi bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur digital.
Inovasi ini juga dinilai sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya: poin 1 tentang Tanpa Kemiskinan, poin 4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta poin 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan. (feb, tama dini)












