BisnisNasionalPeristiwa

BEI Dorong Pasar Modal Syariah Indonesia Go Global di Momentum 15 Tahun Kebangkitan

74
×

BEI Dorong Pasar Modal Syariah Indonesia Go Global di Momentum 15 Tahun Kebangkitan

Sebarkan artikel ini

JAKARTA (Suarapubliknews) ~ PT Bursa Efek Indonesia bersama PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia terus memperkuat pengembangan pasar modal syariah nasional melalui edukasi, kampanye publik, hingga penguatan kolaborasi internasional.

Momentum tersebut bertepatan dengan peringatan 15 tahun kebangkitan pasar modal syariah Indonesia sejak peluncuran Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI), penerbitan Fatwa DSN-MUI Nomor 80, serta implementasi Sistem Online Trading Syariah (SOTS) pada 2011 lalu.

Berdasarkan data AB-SOTS, jumlah investor saham syariah tercatat tumbuh signifikan hingga 158 persen dalam lima tahun terakhir, dari 85.891 investor pada 2020 menjadi 221.714 investor per Maret 2026.

Dalam rangka memperingati 15 tahun kebangkitan pasar modal syariah, BEI bersama KPEI dan KSEI dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan akan menggelar kegiatan Elevate 2026 yang terdiri dari: IFN Indonesia Forum, dan Sharia Investment Week (SIW) 2026. Kegiatan tersebut akan berlangsung pada 20–23 Mei 2026 di Main Hall BEI dengan mengusung tema “15 Years Rising – Heading Worldwide”.

Sebagai bagian dari penguatan branding internasional, BEI juga bekerja sama dengan Redmoney Group untuk menghadirkan IFN Indonesia Forum 2026 sebagai pembuka rangkaian acara. Sementara SIW 2026 kembali hadir sebagai flagship event pasar modal syariah BEI yang rutin digelar sejak 2019 melalui berbagai kegiatan talkshow, edukasi, hingga expo investasi syariah.

Kepala Divisi Pasar Modal Syariah BEI, Irwan Abdalloh, mengatakan pasar modal syariah kini semakin relevan sebagai pilihan investasi masyarakat Indonesia. “Pasar modal syariah bukan sekadar alternatif, tetapi telah menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang ingin berinvestasi secara halal, transparan, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Irwan, seluruh aktivitas di pasar modal syariah dijalankan berdasarkan prinsip Islam yang melarang unsur riba, gharar (ketidakpastian), dan maysir (spekulasi).

Selain itu, instrumen investasi yang diperdagangkan juga wajib berasal dari kegiatan usaha halal dan diawasi regulator serta fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). “Investor tidak perlu ragu, karena seluruh proses sudah melalui pengawasan ketat regulator dan mengacu pada fatwa syariah yang berlaku,” jelasnya.

BEI mencatat perkembangan pasar modal syariah Indonesia terus menunjukkan tren positif. Per Maret 2026, jumlah efek syariah tercatat mencapai 673 saham atau sekitar 70 persen dari total saham yang tercatat di BEI. Selain saham syariah, pasar modal syariah Indonesia juga menghadirkan berbagai instrumen investasi lain seperti: reksa dana syariah, sukuk, hingga ETF syariah.

Irwan menambahkan pasar modal syariah juga memiliki dimensi sosial melalui inovasi seperti wakaf saham, zakat saham, dan sukuk berbasis wakaf. “Pasar modal syariah menggabungkan aspek investasi dan nilai sosial. Ini yang menjadi kekuatan utama dalam mendorong ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Penguatan pasar modal syariah Indonesia juga mendapat pengakuan internasional melalui berbagai penghargaan Global Islamic Finance Awards (GIFA). BEI tercatat pernah meraih: The Best Supporting Institution for Islamic Finance (2016–2018), The Best Emerging Islamic Capital Market of the Year (2018), hingga The Best Islamic Capital Market pada 2019–2022.

Terbaru, pasar modal syariah Indonesia juga memperoleh GIFA Championship Award for Islamic Capital Market 2025 yang mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu pasar modal syariah terbesar dan paling berkembang di dunia. “Edukasi adalah fondasi. Ketika masyarakat paham, maka kepercayaan akan tumbuh, dan pada akhirnya pasar modal syariah akan berkembang lebih pesat,” tutupnya. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *