SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Nilai tukar rupiah yang sempat menembus angka Rp17.600 per dolar Amerika Serikat pada Senin (18/5/2026) memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha hingga masyarakat luas. Menanggapi kondisi tersebut, pakar ekonomi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember memaparkan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Dosen Departemen Studi Pembangunan ITS, Muhammad Ubaidillah Al Mustofa, menjelaskan bahwa depresiasi rupiah dapat menjadi early warning indicator terhadap kondisi perekonomian nasional, terutama jika ketergantungan terhadap produk impor masih tinggi.“Jika rupiah terus terdepresiasi sedangkan kebutuhan konsumsi masih didominasi produk impor, maka kondisi ini dapat merugikan perekonomian dalam jangka panjang,” ujarnya.
Menurutnya, pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, konflik geopolitik di Timur Tengah hingga potensi penutupan Selat Hormuz dinilai berdampak terhadap kenaikan harga minyak dan energi dunia. Kondisi tersebut ikut mendorong kenaikan harga komoditas global, termasuk bahan baku industri.
Sementara dari sisi internal, sentimen investor terhadap kebijakan industri dan investasi pemerintah juga memengaruhi stabilitas nilai tukar. “Ketika investor menarik investasinya dalam bentuk dolar AS, maka permintaan dolar meningkat dan nilai rupiah semakin tertekan,” jelasnya.
Meski demikian, Ubaid menilai kondisi ekonomi Indonesia di level akar rumput masih relatif kuat karena ditopang sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Ia menyebut kekuatan konsumsi domestik dan aktivitas UMKM dapat menjadi bantalan ekonomi nasional di tengah tekanan global. Namun, menurutnya, UMKM perlu terus ditingkatkan kapasitasnya agar mampu menembus pasar ekspor dan bersaing secara internasional. “UMKM perlu naik kelas, memiliki pasar ekspor, dan mampu bersaing secara global,” tegasnya.
Selain penguatan UMKM, ITS juga menyoroti pentingnya hilirisasi sumber daya alam untuk meningkatkan ketahanan ekonomi nasional. Selama ini Indonesia dinilai masih banyak mengekspor bahan mentah dan mengimpor kembali produk olahannya dengan harga lebih mahal. “Fokus pengembangan komoditas menjadi barang setengah jadi atau barang jadi dapat meningkatkan nilai tambah ekspor Indonesia,” tambahnya.
Dalam sektor industri, pelemahan rupiah diperkirakan akan meningkatkan biaya impor berbagai komoditas yang masih bergantung pada bahan baku luar negeri. Dampaknya, harga barang dan kebutuhan pokok berpotensi ikut meningkat sehingga memengaruhi daya beli masyarakat.
Karena itu, Ubaid mengimbau masyarakat untuk lebih bijak mengelola keuangan di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif. Ia menyarankan masyarakat mengurangi pengeluaran konsumtif, menghindari pola belanja berlebihan, serta tidak mengambil pinjaman berbunga tinggi karena fluktuasi ekonomi dapat memengaruhi tingkat suku bunga.
Sebagai bentuk kontribusi terhadap penguatan ekonomi nasional, ITS disebut terus mendorong pengembangan ekonomi berbasis inovasi dan penguatan UMKM agar lebih adaptif menghadapi tantangan global. (feb, tama dini)












