Peristiwa

Dua Dekade Lumpur Sidoarjo, Pakar ITS Soroti Pentingnya Biomonitoring Ekosistem Sungai Porong

357
×

Dua Dekade Lumpur Sidoarjo, Pakar ITS Soroti Pentingnya Biomonitoring Ekosistem Sungai Porong

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Tepat 20 tahun sejak semburan lumpur melanda sebagian wilayah Kabupaten Sidoarjo pada 29 Mei 2006, dampak ekologis terhadap Sungai Porong dan kawasan sekitarnya masih menjadi perhatian para peneliti.

Pakar ekotoksikologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember menilai pemantauan biologis atau biomonitoring perlu terus dilakukan sebagai dasar mitigasi dan pemulihan lingkungan jangka panjang.

Guru Besar Departemen Biologi ITS, Dewi Hidayati, menjelaskan selama dua dekade terakhir Sungai Porong menerima aliran material lumpur dalam jumlah besar yang mengubah karakteristik ekosistem perairan secara signifikan.

Menurutnya, sedimentasi lumpur secara terus-menerus telah mengubah dasar sungai yang semula didominasi pasir dan kerikil menjadi hamparan lumpur, sekaligus meningkatkan tingkat kekeruhan air atau Total Suspended Solids (TSS). “Sedimentasi masif ini memicu lonjakan kekeruhan air secara ekstrem di sepanjang aliran sungai dan perubahan komposisi substrat secara nyata,” ujarnya.

Dewi mengungkapkan tingginya kandungan partikel lumpur di dalam air berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup biota perairan. Berdasarkan hasil analisis mikroskopik, partikel lumpur berukuran sangat kecil terbukti menempel dan menyumbat filamen insang ikan sehingga memicu kerusakan jaringan. “Paparan ini memicu kerusakan jaringan insang yang parah, seperti hiperplasia dan nekrosis sel,” jelasnya.

Tidak hanya insang, penelitian menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) juga menemukan kerusakan pada struktur sisik ikan. Menurut Dewi, deformasi pada sel penempel sisik menyebabkan sisik menjadi abnormal, mudah terlepas, dan meningkatkan risiko infeksi mikroorganisme.

Meski menghadapi tekanan lingkungan yang besar, hasil biomonitoring menunjukkan adanya proses adaptasi alami pada ekosistem Sungai Porong. Dewi menjelaskan beberapa spesies ikan yang sensitif terhadap kondisi keruh perlahan menghilang dan digantikan oleh jenis ikan yang lebih toleran terhadap habitat berlumpur.

“Ekosistem hilir kini mulai didominasi oleh spesies tangguh yang mampu beradaptasi di habitat berlumpur seperti ikan keting (Mystus gulio), belanak (Mugil cephalus), dan beloso (Saurida tumbil),” ungkapnya.

Fenomena tersebut menjadi indikator terjadinya perubahan komposisi biologis akibat tekanan lingkungan yang berlangsung dalam jangka panjang. Untuk sektor perikanan budidaya di sekitar muara Sungai Porong, Dewi menyebut kondisi tambak udang dan sejumlah komoditas perikanan lainnya masih relatif aman.

Hal tersebut dipengaruhi keberadaan bentang alam alami yang berfungsi sebagai penyaring material lumpur sebelum mencapai area tambak masyarakat. “Keberadaan bentang alam ini menjaga komoditas pangan masyarakat yang berada agak jauh dari titik semburan tetap higienis,” katanya.

Selain pencemaran air, penelitian juga menemukan adanya potensi pencemaran udara akibat emisi gas yang mengandung metana dan belerang di sekitar kawasan semburan lumpur. Analisis kualitas air turut menunjukkan tingginya kandungan logam berat seperti aluminium dan besi yang berpotensi membahayakan ekosistem perairan. “Tingkat racun dari logam aluminium ini sangat berbahaya jika derajat keasaman air berubah menjadi asam,” ujarnya.

Menurutnya, perbedaan kondisi lingkungan antara wilayah hulu dan hilir Sungai Porong kini semakin terlihat jelas. Kawasan hulu masih memiliki kualitas habitat yang baik, sedangkan sejumlah wilayah hilir mengalami degradasi lingkungan yang cukup berat sehingga hanya dapat dihuni spesies tertentu.

Dewi menegaskan biomonitoring memiliki fungsi penting sebagai sistem peringatan dini untuk mendeteksi perubahan kondisi lingkungan secara berkelanjutan.

Data biologis yang dihasilkan dari berbagai penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pemulihan kawasan terdampak lumpur Sidoarjo. “Upaya ini sangat penting untuk merancang langkah nyata guna mencegah dampak buruk kerusakan lingkungan yang berkelanjutan,” tandasnya.

Sebagai salah satu sumber air utama bagi masyarakat Sidoarjo dan sekitarnya, keberlanjutan kualitas Sungai Porong dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor perikanan dan sumber daya perairan. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *