BisnisPeristiwa

Pelaku F&B Dorong Inovasi, dari Pemanfaatan AI hingga Penguatan Produk dan Wellness  

64
×

Pelaku F&B Dorong Inovasi, dari Pemanfaatan AI hingga Penguatan Produk dan Wellness  

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Industri makanan dan minuman (F&B) menghadapi perubahan seiring berkembangnya teknologi, pergeseran perilaku konsumen, serta meningkatnya perhatian terhadap gaya hidup sehat. Sejumlah pelaku industri yang hadir dalam IdeaFest SUB 2026 melihat inovasi, pemahaman pasar, dan penguatan produk menjadi bagian penting dalam menjaga pertumbuhan industri.

Presiden Direktur PT Pangan Lestari sekaligus Penasehat Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Jawa Timur, Tjahjono Haryono, yang hadir sebagai pembicara dari perusahaan dan asosiasi, menilai perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI) mulai memberikan perubahan nyata dalam industri F&B.

Menurutnya, AI tidak lagi sebatas teknologi untuk menghasilkan konten hiburan, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan dan dapat dimanfaatkan untuk memahami kebutuhan konsumen.

Ia mencontohkan penerapan teknologi di Jepang yang mulai mengintegrasikan AI dalam pengalaman pelanggan di restoran. Teknologi tersebut antara lain dapat membantu mengenali konsumsi pelanggan, pengeluaran, hingga menyiapkan informasi yang relevan berdasarkan kebutuhan konsumen. “AI itu sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan. Banyak manfaatnya yang bisa kita pakai,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi salah satu hal yang perlu mulai diperhatikan pelaku F&B di Surabaya. Ia menilai kesiapan Surabaya dalam pemanfaatan AI masih perlu terus ditingkatkan, salah satunya melalui lebih banyak seminar dan workshop yang membahas penerapan teknologi secara lebih mendalam dan praktis. “Kalau kita bicara apakah Surabaya sudah siap? Ya di tengah-tengah lah,” katanya.

Jamu Bergeser Menjadi Bagian dari Lifestyle

Perubahan industri F&B juga terlihat dari berkembangnya produk yang tidak hanya menawarkan fungsi konsumsi, tetapi dikaitkan dengan gaya hidup dan kesehatan.

CEO sekaligus Direktur Utama PT Jamu Iboe Jaya, Stephen Walla, melihat jamu memiliki peluang untuk berkembang menjadi bagian dari lifestyle dan wellness, terutama di kalangan generasi muda.

Menurutnya, konsumsi jamu perlu didorong agar tidak hanya muncul ketika seseorang mengalami masalah kesehatan. Jamu dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari dengan pendekatan promotif dan preventif. “Jamu itu bisa menjadi produk lifestyle dan wellness yang bisa terus menjadi lebih luas,” ujarnya.

Untuk mendekatkan jamu dengan generasi muda, Jamu Iboe antara lain melakukan kolaborasi dengan kampus serta duta wisata seperti Cak dan Ning Surabaya serta Raka Raki Jawa Timur. Pendekatan tersebut dilakukan sekaligus untuk mengenalkan jamu sebagai bagian dari budaya dan kebiasaan masyarakat Indonesia.

Kehadiran produk jamu juga diperluas ke berbagai tempat yang menjadi bagian dari keseharian dan gaya hidup generasi muda. Dengan demikian, jamu diharapkan tidak lagi dipandang sebatas produk tradisional, tetapi dapat diterima sebagai salah satu pilihan dalam gaya hidup wellness.

Di sisi lain, pemanfaatan teknologi juga mulai dilakukan Jamu Iboe. Stephen mengatakan AI digunakan antara lain untuk membantu melakukan survei pasar, memperoleh data, membaca kondisi pasar, serta melihat kemungkinan pengembangan produk.
 
Produk Tetap Menjadi Fondasi

Sementara itu, Founder dan CEO Toko Kopi Tuku, Andanu Prasetyo menekankan pentingnya membangun produk sebelum terlalu jauh mengejar strategi pemasaran. Dalam sesi IdeaFest SUB 2026, ia melihat banyak pelaku usaha yang ingin melakukan scaling.

Namun, menurutnya, proses tersebut perlu diawali dengan pemahaman yang kuat terhadap produk dan pasar. “Produk yang lebih kuat dulu, memahami pasar yang lebih kuat, tapi juga perlu memahami vision atau scaling-nya dari awal,” katanya.

Setelah produk dan pasar dipahami, strategi seperti marketing, investasi, maupun model operasional dapat dikembangkan dengan arah yang lebih jelas. Baginya, product-market fit menjadi salah satu fondasi penting sebelum bisnis memperbesar skala. > Pers SPN Tama Dinie: Pandangan tersebut juga berlaku dalam menghadapi persaingan di industri kopi. Andanu menilai kehadiran kompetitor merupakan bagian dari dinamika bisnis yang tidak perlu ditakuti selama pelaku usaha memahami karakter dan posisi bisnisnya. “Kalau kita tahu karakter kita, kita tahu kita siapa, di mana mainnya, mau ada kompetitor berapa pun, itu bagian dari dinamika,” ujarnya.

Meski AI semakin banyak digunakan dalam bisnis, Andanu melihat teknologi tersebut tetap memiliki batas. Di Toko Kopi Tuku, AI memang dapat digunakan sebagai teman untuk melakukan brainstorming, tetapi pengalaman langsung di toko dinilai jauh lebih penting.

Menurutnya, teknologi dapat membantu menstrukturkan proses kerja, tetapi pelaku usaha tetap perlu memahami apa yang benar-benar terjadi dalam interaksi dengan konsumen. “Yang enggak boleh hilang adalah rasa itu sendiri,” tegasnya.

Pandangan tersebut juga berkaitan dengan cara bisnis membangun pemasaran. Andanu mengingatkan bahwa viral dan strategi marketing yang menarik belum tentu cukup apabila produk tidak mampu menjawab kebutuhan konsumen.

Sebaliknya, produk yang kuat dan relevan dapat membantu membangun pemasaran secara lebih alami. “Kalau produknya menjawab, harusnya mereka akan lebih murah secara marketing karena produknya sudah bisa me-marketing-kan dirinya sendiri,” tutupnya.

Perkembangan F&B tersebut menunjukkan bahwa inovasi industri tidak hanya ditentukan oleh teknologi. AI dapat membuka peluang baru dalam membaca konsumen dan pasar, sementara tren wellness menawarkan ruang bagi produk seperti jamu untuk menjangkau generasi baru. Di saat yang sama, fondasi bisnis tetap berada pada kemampuan pelaku usaha memahami pasar dan menghadirkan produk yang benar-benar dibutuhkan konsumen. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *