Jatim RayaPemerintahanPeristiwa

Ruh Budaya Jawa Tetap Menyala, Sumberejo Sambut Suro dengan Doa dan Wayang Kulit.

154
×

Ruh Budaya Jawa Tetap Menyala, Sumberejo Sambut Suro dengan Doa dan Wayang Kulit.

Sebarkan artikel ini

KAB KEDIRI (Suarapubliknews) – Bagi masyarakat Jawa, Bulan Suro bukan sekadar pergantian tahun dalam penanggalan Jawa. Suro merupakan ruang perenungan dan momentum spiritual untuk menyelaraskan kembali hubungan manusia dengan Sang Pencipta, alam semesta, serta para leluhur yang telah mewariskan kehidupan.

Menyambut datangnya Bulan Suro 2026, Pemerintah Desa Sumberejo bersama seluruh elemen masyarakat menggelar rapat koordinasi guna mempersiapkan rangkaian kegiatan bersih desa yang akan diisi dengan panjatan doa bersama dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung di Pasar Desa Sumberejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri.

Kepala Desa Sumberejo, Dwi Santosa, mengatakan tradisi bersih desa yang dipadukan dengan doa bersama dan pagelaran wayang kulit merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas limpahan berkah yang selama ini diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

“Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat untuk nguri-uri kabudayan Jawi, menjaga serta melestarikan warisan budaya leluhur agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman,” ujar Dwi Santosa kepada reporter Suarapubliknews.net, Senin (8/6/2026).

Menurutnya, kegiatan tahunan tersebut juga menjadi wujud bakti dan penghormatan kepada para leluhur, khususnya Eyang Kakung yang diyakini sebagai sosok pembabat alas dan perintis Desa Sumberejo hingga menjadi kawasan pemukiman yang berkembang sampai saat ini.

“Kita bisa menikmati hasil bumi, bertani, mencari nafkah, dan hidup berdampingan dengan alam karena perjuangan para leluhur yang dahulu membuka wilayah ini. Karena itu, sudah sepatutnya kita tidak melupakan sejarah dan jasa mereka,” katanya.

Dwi menambahkan, di tengah kehidupan modern saat ini, masyarakat Desa Sumberejo masih memegang teguh falsafah Jawa tentang sangkan paraning dumadi, yakni pemahaman mengenai asal-usul kehidupan dan tujuan akhir perjalanan manusia.

Karena itu, malam Suro dipandang sebagai momentum sakral untuk menundukkan hati, memanjatkan doa, melakukan introspeksi diri, serta mengenang jasa para pendahulu.

Selain sebagai simbol pelestarian budaya dan spiritualitas, pagelaran wayang kulit kembali dipilih untuk mengiringi malam Suro karena memiliki nilai filosofis yang mendalam. Dalam pandangan masyarakat Jawa, wayang bukan sekadar tontonan, melainkan juga tuntunan kehidupan.

“Setiap lakon wayang mengandung pitutur luhur tentang kebijaksanaan, kejujuran, pengabdian, serta perjuangan manusia dalam menaklukkan hawa nafsu demi mencapai kesempurnaan budi,” tuturnya.

Di akhir keterangannya, pria yang akrab disapa Mas Dwi itu menjelaskan bahwa di balik temaram lampu malam dan alunan gamelan yang syahdu, wayang kulit menjadi media pengingat bahwa budaya Jawa mengajarkan keseimbangan antara lahir dan batin.

Budaya Jawa juga mengajarkan harmonisasi hubungan manusia dengan sesama, manusia dengan alam, serta manusia dengan Gusti Kang Murbeng Dumadi.

“Selama masih ada doa yang dipanjatkan bersama, selama gamelan masih berbunyi mengiringi wayang kulit, maka ruh budaya Jawa akan tetap hidup di tengah masyarakat,” pungkasnya. (q cox, Iwan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *