Peristiwa

Fotografer Cilik Pamerkan Cara Pandang Mereka terhadap Dunia Lewat “What We See” di Wisma Jerman

97
×

Fotografer Cilik Pamerkan Cara Pandang Mereka terhadap Dunia Lewat “What We See” di Wisma Jerman

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Sebanyak 16 siswa anggota Klub Fotografi SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo memamerkan karya terbaik mereka dalam pameran fotografi bertajuk “What We See” di Wisma Jerman Surabaya. Pameran yang berlangsung pada 7–9 Juni 2026 tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk menampilkan cara mereka memandang dunia melalui lensa kamera.

Berbeda dengan karya fotografi pada umumnya, foto-foto yang ditampilkan menghadirkan perspektif khas anak-anak. Mulai dari ekspresi teman sebaya, sudut ruang yang sederhana, permainan cahaya, hingga berbagai momen kecil yang sering kali luput dari perhatian orang dewasa.

Kurator pameran, Idealita Ismanto, menjelaskan bahwa seluruh karya yang ditampilkan merupakan hasil arsip pembelajaran para siswa selama hampir tiga tahun mengikuti kegiatan fotografi.

“Pameran ini merupakan ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan karyanya. Dari arsip karya selama hampir tiga tahun belajar, karya-karya yang terpilih menjadi pengingat bahwa fotografi bisa dilakukan oleh siapa pun, termasuk anak-anak, tentu dengan bimbingan yang tepat,” ujarnya.

Sebanyak 16 fotografer cilik terlibat dalam pameran tersebut, yakni Rafardan Abhinara Atmaja, Brian Delta Ramadhan, Muhammad Rayyan Firdaus, Celine Justopo, Nicole Arno Priyono, Nelson Arno Priyono, Muhammad Ammar Faqih, Giannino Arkananta Byan, Helsa Emunahope, Estrella Dya Kumaralalita, Leona Sarah Emyra, Jasmine Alyka Fernanda, Deandra Rahmi Davintio, Keanu Pramono Dewa, Ibrahim Maliq Parsa, serta peserta lainnya yang tergabung dalam klub fotografi sekolah.

Kepala SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo, Ririn Indriyanti, mengaku bangga melihat karya-karya yang dihasilkan para siswanya. Menurutnya, setiap foto tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis, tetapi juga menjadi media bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri.

“Melalui pameran What We See, anak-anak menunjukkan bahwa mereka mampu mengamati, merasakan, dan menceritakan dunia di sekitar mereka dengan cara yang unik dan penuh makna. Setiap foto bukan hanya hasil jepretan kamera, tetapi juga cerminan kreativitas, kepekaan, dan keberanian mereka dalam mengekspresikan diri,” katanya.

Sementara itu, Management Advisor Wisma Jerman, Mike Neuber, menilai pameran tersebut memberi kesempatan bagi orang dewasa untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. “Sebagai orang dewasa, mungkin kita tidak pernah melihat sesuatu dari perspektif anak-anak beserta pemahaman mereka. Kita juga bisa belajar dari cara mereka melihat dunia. Karena itu pameran seperti ini sangat berharga karena dapat membuka wawasan kita,” ujarnya.

Menurut Mike, karya-karya yang ditampilkan membuktikan bahwa hal-hal sederhana dapat memiliki makna yang berbeda ketika dilihat melalui perspektif anak-anak. “Saya berharap pameran fotografi What We See dapat memberikan inspirasi untuk melihat sesuatu yang biasa dengan cara yang luar biasa seperti yang dilakukan anak-anak ini,” tambahnya.

Salah satu peserta pameran, Celine Justopo, mengaku senang dapat belajar fotografi sekaligus memamerkan hasil karyanya kepada publik. “Seru banget dan asyik. Aku bisa motret dan membuat foto yang menarik. Ilmu fotografi yang didapat juga aku pakai di rumah untuk membantu memotret produk jualan papa,” ujarnya.

Selain menampilkan karya fotografi, pameran juga menghadirkan sesi diskusi bersama pendiri Disabilitas Berkarya, Leo Arif Budiman. Dalam kesempatan tersebut, ia berbagi pengalaman mengenai proses belajar fotografi sekaligus tantangan yang dihadapi dalam berkarya.

Melalui “What We See”, para fotografer cilik tidak hanya memamerkan hasil belajar mereka, tetapi juga mengajak publik memahami bahwa anak-anak memiliki cara pandang yang jujur, segar, dan sering kali menghadirkan makna baru dari hal-hal yang dianggap biasa. Pameran ini sekaligus menjadi ruang pertemuan antara dunia pendidikan, seni visual, dan masyarakat untuk mengapresiasi kreativitas sejak usia dini. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *