Jatim RayaPeristiwa

Kisah Haru Pak Budiono, Pencari Rosok yang Tak Pernah Menyerah Demi Sang Buah Hati

174
×

Kisah Haru Pak Budiono, Pencari Rosok yang Tak Pernah Menyerah Demi Sang Buah Hati

Sebarkan artikel ini

KABUPATEN KEDIRI (Suarapubliknews) – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang terus berjalan, masih tersimpan kisah perjuangan sederhana yang mampu mengetuk hati siapa saja. Kisah itu datang dari Budiono, warga Dusun Sambirobyong RT 03/RW 03, Desa Sambirobyong, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri.

Pria yang akrab disapa Pak Budi tersebut setiap hari mengayuh sepeda pancal tuanya menyusuri jalan demi mencari barang-barang bekas atau rosok untuk dijual kembali. Pekerjaan itu dilakoninya sebagai cara bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kepada Suarapubliknews, Budiono mengaku penghasilan yang diperolehnya dari memulung rosok tidak menentu. Dalam sehari, ia terkadang hanya membawa pulang Rp7 ribu hingga Rp20 ribu.

“Yang penting kita sudah ikhtiar. Yang penting bisa untuk menyambung hidup. Soal hasil, kita pasrahkan kepada Gusti Allah,” ucap Pak Budi dengan nada lirih, Selasa (9/6/2026).

Di balik kerasnya perjuangan hidup, Budiono memiliki sumber semangat yang selalu menguatkannya, yakni putri kecilnya yang setia menemani setiap langkah perjuangannya. Kehadiran sang buah hati menjadi alasan terbesar baginya untuk terus bertahan menghadapi berbagai keterbatasan.

“Anak perempuan saya ini motivator dan semangat hidup saya,” ujarnya sambil menatap sang putri dengan penuh kasih sayang.

Sementara itu, Kamsi, mantan Ketua RT setempat, menuturkan bahwa saat ini Budiono tinggal di sebuah rumah sederhana milik almarhum Suyono. Rumah tersebut masih berstatus kontrakan yang ditempati Budiono bersama putri bungsunya tanpa didampingi seorang istri.

“Sewaktu saya masih menjadi RT, Pak Budi saya upayakan mendapatkan bantuan dari pemerintah seperti beras dan minyak. Beliau orang baik dan mudah bergaul dengan warga sekitar,” kata Kamsi.

Menurutnya, Budiono dikenal sebagai sosok pendiam, ramah, dan tidak pernah mengeluhkan keadaan meski hidup dalam keterbatasan.

“Pak Budiono orangnya pendiam, baik, dan mudah bergaul dengan tetangga. Warga di sini mengenalnya sebagai pribadi yang tidak banyak mengeluh meski hidupnya penuh keterbatasan,” tuturnya.

Kamsi juga menjelaskan bahwa sebelum menjadi pencari rosok, Budiono pernah berjualan es degan. Namun, karena usaha tersebut tidak berkembang dan persaingan semakin ketat, ia akhirnya beralih profesi demi tetap bisa menghidupi keluarganya.

“Pak Budiono memiliki tiga orang anak. Namun saat ini ia tinggal bersama putri bungsunya. Kehidupannya tidak menentu. Kadang tidur di tempat kontrakannya, tetapi tidak jarang juga harus bermalam di luar saat mencari nafkah,” jelasnya.

Di balik sepeda tua yang dikayuh setiap hari, tersimpan kisah tentang seorang ayah yang tak pernah menyerah pada keadaan. Meski penghasilannya hanya cukup untuk membeli makanan seadanya, Budiono tetap berusaha memberikan kasih sayang, perlindungan, dan harapan bagi anaknya.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa di sekitar kita masih banyak saudara yang berjuang dalam senyap. Mereka tidak meminta belas kasihan, melainkan kesempatan untuk hidup lebih layak dan memperoleh masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.

Semoga kepedulian dan semangat gotong royong masyarakat dapat menjadi cahaya harapan bagi Pak Budiono dan keluarga kecilnya, sehingga mereka tidak merasa berjalan sendiri menghadapi kerasnya kehidupan. (q cox, Iwan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *