Peristiwa

Mahasiswa ITS Kembangkan SUBTRACK untuk Petakan Zona Prioritas Penanganan Banjir dan Penurunan Tanah

118
×

Mahasiswa ITS Kembangkan SUBTRACK untuk Petakan Zona Prioritas Penanganan Banjir dan Penurunan Tanah

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Fenomena penurunan tanah yang terjadi di sejumlah kawasan pesisir Surabaya menjadi perhatian mahasiswa Departemen Teknik Geomatika (DTG) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Melalui program Kemah Kerja Tematik, mereka mengembangkan inovasi bernama SUBTRACK, sebuah sistem pemetaan berbasis Web Geographic Information System (WebGIS) yang dirancang untuk mengidentifikasi zona prioritas infrastruktur permukiman yang terdampak banjir dan penurunan tanah.

Ketua Kelompok 9 Kemah Kerja Tematik DTG ITS, Jalesveva Ananda Khozin, menjelaskan bahwa penurunan tanah atau subsidens dipengaruhi oleh berbagai faktor. Di Kelurahan Tanjung Perak, Surabaya, fenomena tersebut dipicu oleh konsolidasi tanah akibat curah hujan serta tekanan mekanis dari lalu lintas kendaraan bermuatan berat. “Dari data InSAR, laju penurunan tanah di Kota Surabaya mencapai sekitar 6,1 milimeter per tahun yang terkonsentrasi di wilayah barat dan utara kota,” ujarnya.

Dalam pengembangannya, tim memanfaatkan citra deformasi permukaan tanah dari satelit Sentinel-1 yang dilengkapi sensor Synthetic Aperture Radar (SAR) C-band. Teknologi tersebut memungkinkan pengukuran deformasi permukaan tanah hingga skala milimeter dalam berbagai kondisi cuaca dan waktu pengamatan.

Analisis deformasi tanah dilakukan menggunakan perangkat lunak LiCSBAS dengan metode Small Baseline Subset (SBAS) yang memanfaatkan interferogram dari portal LiCSAR. Data yang digunakan mencakup periode 2016 hingga 2025 sehingga mampu menggambarkan pola perubahan permukaan tanah dalam jangka panjang.

Selain menganalisis penurunan tanah, tim juga melakukan pemodelan banjir dua dimensi menggunakan perangkat lunak HEC-RAS 2D. Data curah hujan diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sedangkan data elevasi permukaan berasal dari Digital Surface Model (DSM) hasil teknologi Light Detection and Ranging (LiDAR).

Tidak hanya mengandalkan data sekunder, tim mahasiswa ITS juga melakukan survei lapangan dengan menghitung jumlah kendaraan berat yang melintas di kawasan Kelurahan Tanjung Perak. “Pengambilan data jumlah kendaraan dilakukan selama dua jam per hari dalam kurun waktu tujuh hari,” jelasnya.

Seluruh data yang terkumpul kemudian diintegrasikan menggunakan metode weighted overlay dan Analytical Hierarchy Process (AHP) melalui perangkat lunak ArcGIS Pro. Hasilnya berupa tiga produk utama, yakni peta laju subsidens Kota Surabaya, peta risiko banjir Kelurahan Tanjung Perak, serta aplikasi peta interaktif berbasis WebGIS yang dapat digunakan untuk menentukan wilayah prioritas penanganan infrastruktur permukiman.

Menurut Veva, keberadaan sistem SUBTRACK diharapkan dapat membantu masyarakat memahami risiko penurunan tanah dan banjir yang ada di lingkungan mereka. Selain itu, hasil pemetaan juga dapat menjadi referensi bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan infrastruktur yang lebih tepat sasaran. “Rekomendasi yang bisa dilakukan antara lain perbaikan sistem drainase dan penguatan infrastruktur jalan pada zona dengan laju subsidens tinggi,” katanya.

Melalui inovasi tersebut, mahasiswa ITS berharap upaya mitigasi banjir dan penanganan penurunan tanah dapat dilakukan secara lebih terukur dan berbasis data. Pengembangan SUBTRACK sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta poin ke-11 mengenai Kota dan Permukiman Berkelanjutan. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *