Jatim RayaPeristiwa

Tradisi Lestari di Tengah Modernisasi, Kirab 1 Suro Sri Aji Joyoboyo Tarik Perhatian Dunia

135
×

Tradisi Lestari di Tengah Modernisasi, Kirab 1 Suro Sri Aji Joyoboyo Tarik Perhatian Dunia

Sebarkan artikel ini

KAB KEDIRI (Suarapubliknews) – Suasana sakral dan penuh khidmat menyelimuti Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, pada peringatan malam 1 Suro, Selasa (16/6/2026).  Ratusan peserta dari berbagai kalangan berjalan tanpa alas kaki mengikuti Kirab Ziarah menuju Petilasan Sri Aji Joyoboyo, salah satu situs bersejarah yang menjadi simbol kejayaan peradaban Kediri pada masa lampau.

Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut tidak hanya menarik antusiasme masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara yang hadir untuk menyaksikan secara langsung kekayaan budaya dan spiritualitas masyarakat Jawa yang tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Kirab dimulai dari Balai Desa Menang menuju kawasan Pamuksan Sri Aji Joyoboyo. Dengan mengenakan busana adat Jawa, para peserta berjalan khidmat menyusuri rute kirab. Sejumlah pelajar mendapat kehormatan membawa pusaka dan perangkat kirab sebagai simbol estafet pelestarian budaya kepada generasi penerus.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kapolres Kediri AKBP Bramastyo Priaji, S.H., S.I.K., M.Si., Ketua DPRD Kabupaten Kediri Murdi Hantoro, S.E., M.M., unsur Forkopimcam Pagu, perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, tokoh budaya, tokoh masyarakat, serta tamu undangan dari berbagai daerah.

Bagi masyarakat Jawa, malam 1 Suro bukan sekadar pergantian tahun dalam penanggalan Jawa. Momentum ini menjadi waktu untuk melakukan introspeksi diri, memperkuat hubungan spiritual kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus mengenang nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Di kawasan petilasan, para peserta mengikuti rangkaian ritual budaya dan doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada Sri Aji Joyoboyo, raja besar Kerajaan Kadiri yang dikenal bijaksana dan memiliki pengaruh besar dalam sejarah Jawa. Prosesi kemudian dilanjutkan menuju Sendang Tirto Kamandanu, lokasi yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan spiritual dan sejarah Sri Aji Joyoboyo.

Kapolres Kediri AKBP Bramastyo Priaji mengatakan, tradisi budaya yang tetap bertahan di tengah arus modernisasi memiliki nilai penting dalam menjaga identitas daerah sekaligus memperkuat karakter generasi muda.

“Tradisi yang bertahan selama puluhan tahun seperti ini memiliki nilai yang jauh lebih besar dari sebuah seremoni. Ada sejarah, pendidikan, dan identitas daerah yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” ungkapnya.

Menurut Kapolres, keterlibatan para pelajar dalam prosesi kirab menjadi bagian penting dalam upaya mengenalkan sejarah dan budaya secara langsung kepada generasi muda. “Pengalaman seperti ini memberi ruang bagi generasi muda untuk memahami nilai-nilai yang hidup di masyarakat, bukan hanya mengenalnya dari cerita atau buku,” tambahnya.

Kirab Ziarah 1 Suro di Desa Menang telah menjadi salah satu agenda budaya yang paling dinantikan masyarakat setiap tahunnya. Selain menjadi sarana pelestarian tradisi, kegiatan ini juga berkembang menjadi magnet wisata budaya yang memperkenalkan sejarah dan kearifan lokal Kediri kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan mancanegara.

Di tengah derasnya perkembangan zaman, tradisi ini tetap berdiri kokoh sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Langkah kaki tanpa alas yang menapaki jalan menuju petilasan menjadi simbol kerendahan hati manusia di hadapan Sang Pencipta, sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bagian dari jati diri bangsa.

“Kirab Budaya 1 Suro bukan hanya tentang mengenang sejarah Sri Aji Joyoboyo, tetapi juga tentang merawat nilai-nilai kebijaksanaan, persatuan, dan spiritualitas yang terus hidup dalam denyut kehidupan masyarakat Kediri hingga hari ini,” pungkasnya.
(q cox, Iwan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *