BisnisJatim Raya

ICMI Jatim Serukan Penguatan Peran Intelektual Hadapi Disrupsi dan Polarisasi

78
×

ICMI Jatim Serukan Penguatan Peran Intelektual Hadapi Disrupsi dan Polarisasi

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) – Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Jawa Timur menegaskan pentingnya mengembalikan peran kaum intelektual sebagai penuntun arah peradaban di tengah tantangan polarisasi sosial, disrupsi teknologi, krisis etika publik, dan menurunnya kualitas ruang dialog kebangsaan.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) ICMI Jawa Timur 2026 yang digelar di Gedung Plaza Airlangga Lantai 5, Kampus C Universitas Airlangga, Surabaya, Sabtu (4/7), mengusung tema “Meneguhkan Peran Intelektual Muslim sebagai Suluh Peradaban Inklusif dan Transformatif.”

Rangkaian Muswil diawali dengan Seminar Nasional yang mempertemukan akademisi, kepala daerah, tokoh agama, dan cendekiawan lintas iman sebagai ruang dialog untuk membahas berbagai tantangan kebangsaan serta merumuskan solusi berbasis ilmu pengetahuan.

Seminar menghadirkan Ketua ICMI Pusat, Prof. Arief Satria, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Prof. Nafik Hadi Ryandono, serta Ketua Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) Jawa Timur Dr. Daniel Rohi, dengan moderator Prof. Hesti Arimulan. Para narasumber menyoroti pentingnya membangun kepemimpinan berbasis ilmu pengetahuan, memperkuat budaya riset, mendorong ekonomi yang berkeadilan, serta memperluas dialog lintas iman sebagai fondasi kehidupan kebangsaan yang damai.

Dalam paparannya, Prof. Arief Satria mengatakan ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti sebagai kajian akademik, tetapi harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Ilmu pengetahuan kehilangan maknanya apabila hanya berhenti di ruang akademik. Ilmu harus menjadi kekuatan yang membebaskan manusia dari kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, dan berbagai bentuk dehumanisasi. Karena itu, ilmu harus diabdikan bagi kesejahteraan manusia,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya membangun kembali tradisi berpikir rasional agar Indonesia mampu menjadi bangsa yang maju dan berdaya saing.

Sementara itu, Dr. Daniel Rohi menilai berbagai konflik sosial berakar dari sikap eksklusif yang menutup ruang dialog. Menurutnya, kehadiran tokoh lintas agama dalam Seminar Nasional ICMI menjadi bukti bahwa peradaban hanya dapat dibangun melalui keterbukaan, saling menghormati, dan kerja sama.

Usai seminar, Muswil dilanjutkan dengan agenda organisasi yang meliputi penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus periode 2021–2026, penyusunan arah kebijakan organisasi lima tahun ke depan, serta pemilihan Ketua Umum ICMI Jawa Timur periode 2026–2031.

Melalui Muswil ini, ICMI Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk mengembalikan marwah kaum intelektual sebagai penjaga akal sehat bangsa, penuntun arah peradaban, dan penggerak transformasi sosial.

Di tengah derasnya arus disrupsi dan polarisasi, ICMI menilai Indonesia membutuhkan lebih banyak intelektual yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berintegritas, inklusif, berani menyuarakan kebenaran, serta mengabdikan ilmu pengetahuan bagi kemajuan bangsa dan kemanusiaan.

“Peradaban tidak lahir dari kekuasaan semata, tetapi dari keberanian intelektual yang mengabdikan ilmu bagi kemanusiaan,” menjadi pesan utama yang ditegaskan dalam Muswil ICMI Jawa Timur 2026. Organisasi ini berharap dapat terus menjadi kekuatan moral dan intelektual dalam menjawab berbagai tantangan zaman. (q cox, War)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *