SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Ketergantungan Indonesia terhadap material impor masih menjadi tantangan dalam mewujudkan kemandirian industri nasional. Menjawab persoalan tersebut, Guru Besar Departemen Teknik Material dan Metalurgi (DTMM) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Eng. Hosta Ardhyananta ST MSc, mengembangkan material komposit polimer hibrida berbasis sumber daya lokal, termasuk limbah tandan kosong kelapa sawit.
Inovasi tersebut dikembangkan untuk menghasilkan material yang ringan, kuat, dan berkelanjutan sehingga dapat dimanfaatkan pada berbagai sektor strategis, mulai dari transportasi, dirgantara, energi, konstruksi, kesehatan, hingga industri pertahanan.
Hosta menjelaskan material komposit polimer terbentuk dari kombinasi matriks polimer dengan material penguat atau filler. Menurutnya, matriks dapat berasal dari berbagai sumber, baik berbasis minyak bumi maupun bahan alami seperti tumbuhan dan hewan. “Sementara itu, serat alami, biomassa, selulosa, hingga serat mikro memiliki potensi besar sebagai filler dengan performa yang menjanjikan,” ujarnya.
Dalam penelitiannya, Hosta mengembangkan material komposit hibrida yang menggabungkan dua atau lebih komponen pengisi, yakni partikel mikro berbentuk bulat (spherical) dan serat mikro. Kombinasi tersebut menghasilkan material baru dengan karakteristik ringan, namun memiliki kekuatan mekanik yang tinggi.
Salah satu keunggulan inovasi tersebut adalah pemanfaatan serat selulosa yang diekstraksi dari limbah tandan kosong kelapa sawit. Menurut Hosta, Indonesia memiliki sumber bahan baku tersebut dalam jumlah melimpah, namun pemanfaatannya masih belum optimal. “Padahal filler dari limbah serat alam memiliki nilai tinggi karena mampu membentuk ikatan yang kuat dengan matriks epoksi,” katanya.
Berdasarkan hasil pengujian, material komposit yang dikembangkan mampu meningkatkan kekuatan tarik dan kekuatan lentur tanpa meningkatkan densitas material secara signifikan. “Serat selulosa berperan sebagai jembatan yang memperkuat interaksi antarkomponen sehingga transfer beban tegangan menjadi lebih baik,” jelas Guru Besar ke-248 ITS tersebut.
Selain menghasilkan material berkinerja tinggi, penelitian ini juga membuka peluang pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk bernilai tambah. Hosta menilai tandan kosong kelapa sawit tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku material komposit ringan, tetapi juga berpotensi diolah menjadi berbagai produk lain, termasuk biogasoline. “Pemanfaatan sumber daya lokal ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap material impor,” tegasnya.
Ia berharap sinergi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah terus diperkuat agar hasil riset material komposit berbasis sumber daya lokal dapat dihilirisasi dan dimanfaatkan secara luas oleh industri nasional.
Pengembangan material komposit berbasis limbah sawit tersebut menjadi salah satu kontribusi ITS dalam mendorong kemandirian teknologi nasional sekaligus mendukung pengembangan industri yang lebih berkelanjutan melalui pemanfaatan sumber daya lokal. (feb, tama dini)












