SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Peningkatan kualitas kopi Indonesia mulai membuka peluang pasar yang lebih luas di tingkat internasional. Hal tersebut terlihat dalam gelaran Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026, di mana hasil evaluasi mutu kopi menunjukkan tren positif sekaligus menarik minat buyer mancanegara dengan potensi permintaan ekspor mencapai Rp64 miliar.
Kompartemen Hulu Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) 2024–2029, Andi Widjaja, mengatakan kualitas kopi yang mengikuti sesi cupping pada JCFF tahun ini mengalami peningkatan dibanding penyelenggaraan sebelumnya. “Dari hasil cupping, kualitas kopi peserta tahun ini jauh lebih baik. Karakter rasanya lebih bersih (clean), lebih seimbang, dan menunjukkan peningkatan dibanding tahun lalu,” ujarnya.
Dalam sesi penilaian tersebut, sembilan sampel kopi dievaluasi berdasarkan berbagai atribut cita rasa. Salah satu yang menarik perhatian berasal dari kawasan Wanoja yang dinilai menghadirkan karakter buah (fruity) lebih kuat dengan profil rasa yang lebih bersih dibanding karakter kopi dari daerah tersebut pada umumnya.
Menurut Andi, peningkatan kualitas tersebut tidak terlepas dari pembenahan di sektor hulu, mulai dari pengelolaan kebun, pemilihan buah kopi, hingga proses pascapanen. “Bisa dikatakan sekitar 90 persen kualitas kopi ditentukan di hulu. Kalau pohonnya sehat, tanahnya baik, dan buah yang dipanen berkualitas, maka proses pengolahan sederhana pun tetap menghasilkan kopi yang baik,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui perubahan iklim masih menjadi tantangan serius bagi industri kopi nasional. Cuaca ekstrem menyebabkan produktivitas di sejumlah daerah menurun sehingga diperlukan peremajaan tanaman menggunakan varietas yang lebih adaptif. Selain peningkatan kualitas Arabika dan Robusta, Andi menilai Liberika menjadi salah satu varietas yang memiliki prospek besar di masa depan.
Menurutnya, Liberika memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap perubahan iklim, produktivitas tinggi, serta karakter cita rasa yang unik. “Kalau Robusta unggul dari sisi volume dan Arabika unggul dari sisi nilai ekonomi, maka Liberika memiliki peluang besar karena karakter rasanya unik sekaligus lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Ini bisa menjadi kopi masa depan,” katanya.
Ia menjelaskan, Liberika memiliki perpaduan karakter Arabika dan Robusta dengan dominasi rasa manis serta aroma yang kuat. Di sejumlah negara seperti Malaysia, kopi tersebut bahkan mulai dimanfaatkan sebagai campuran (house blend) untuk memperkaya karakter cita rasa.
Namun demikian, Liberika memerlukan penanganan pascapanen yang lebih spesifik karena memiliki daging buah lebih tebal sehingga proses fermentasinya harus dilakukan secara tepat agar tidak menimbulkan aroma yang kurang diinginkan.
Peningkatan kualitas kopi tersebut mulai berdampak terhadap tingginya minat pasar internasional. Dalam kegiatan business matching JCFF 2026, petani kopi asal Bondowoso berhasil menjalin komitmen kerja sama ekspor dengan perusahaan asal Singapura.
Perwakilan KUB Doa Kopi Bondowoso, Dani Firsada, mengatakan perusahaan PT Bayan Coffee Singapura menyatakan minat membeli tiga jenis kopi sekaligus, yakni Arabika, Robusta, dan Liberika. “Buyer mengambil ketiga jenis kopi tersebut masing-masing satu lot. Satu lot setara satu kontainer 20 feet dengan kapasitas sekitar 19,4 ton,” ujarnya.
Secara keseluruhan, transaksi tersebut diperkirakan mencapai nilai hampir Rp5 miliar, menjadikannya salah satu komitmen dagang terbesar dalam rangkaian JCFF 2026.
Menurut Dani, keberhasilan tersebut tidak lepas dari reputasi kopi Jawa Timur yang sejak lama dikenal dunia melalui istilah Java Coffee, khususnya kopi yang berasal dari kawasan Pegunungan Ijen.
“Di Eropa, nama Java Coffee sudah lama dikenal sebagai kopi berkualitas. Sekarang kami ingin mengembalikan kejayaan itu melalui peningkatan kualitas dan perluasan pasar ekspor,” katanya.
Ia menambahkan, dengan luas areal perkebunan kopi di Bondowoso yang mencapai puluhan ribu hektare, daerah tersebut dinilai mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional. Meski demikian, petani kini mulai menerapkan strategi penyimpanan stok agar pasokan tetap tersedia sepanjang tahun sekaligus memberikan nilai jual yang lebih baik.
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ridzky Prihadi Tjahyanto, mengatakan komoditas kopi menjadi salah satu sektor prioritas dalam mendorong peningkatan ekspor nasional.
Menurutnya, Pulau Jawa saat ini memproduksi sekitar 111 ribu ton kopi setiap tahun, dengan kontribusi terbesar berasal dari Jawa Timur sebanyak 49 ribu ton, disusul Jawa Tengah 32 ribu ton, dan Jawa Barat 28 ribu ton.
“Tingginya potensi tersebut terlihat dari permintaan ekspor para buyer internasional yang telah mencapai sekitar Rp64 miliar. Namun tantangan terbesar saat ini adalah kapasitas produksi domestik dan pelaku UMKM yang masih terbatas untuk memenuhi lonjakan permintaan tersebut. Oleh karena itu, dukungan pembiayaan dari sektor perbankan maupun instrumen surat berharga menjadi sangat penting untuk meningkatkan kapasitas produksi,” jelasnya.
Ridzky mengatakan, peningkatan kapasitas produksi harus diiringi dengan strategi peningkatan nilai tambah. Untuk itu, Bank Indonesia bersama kementerian terkait, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, serta pemerintah kabupaten dan kota terus mendorong pelaku usaha agar tidak hanya mengekspor green bean, tetapi mulai mengembangkan processed bean maupun produk olahan kopi lainnya yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan UMKM, Bank Indonesia juga menghadirkan pameran produk unggulan serta kegiatan business matching yang mempertemukan puluhan UMKM binaan dari berbagai daerah di Pulau Jawa dengan pembeli dari dalam maupun luar negeri.
Ridzky berharap penguatan sektor hulu, peningkatan kualitas kopi, perluasan akses pasar, hingga pengembangan produk olahan dapat semakin memperkuat daya saing kopi Indonesia di pasar internasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Melalui sinergi antara petani, pelaku usaha, lembaga keuangan, pemerintah, dan Bank Indonesia, potensi besar kopi Indonesia diharapkan tidak hanya tercermin dari meningkatnya permintaan global, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi para petani dan UMKM melalui hilirisasi serta ekspor produk olahan. (feb, tama dini)












