Peristiwa

Dari Mendengarkan hingga Menerima Kegagalan, Anak Muda Diajak Memahami Cerita dan Perspektif

61
×

Dari Mendengarkan hingga Menerima Kegagalan, Anak Muda Diajak Memahami Cerita dan Perspektif

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Di tengah derasnya arus informasi dan tuntutan untuk bergerak cepat, kemampuan memahami pengalaman diri maupun orang lain menjadi bagian penting dalam proses bertumbuh. Cerita, perspektif, hingga kegagalan dapat menjadi sumber pembelajaran ketika seseorang memiliki keberanian untuk mendengarkan dan merefleksikannya.

Gagasan tersebut mengemuka dalam rangkaian sesi IdeaFest SUB 2026 melalui perspektif Pancatera, Dipa Andika, dan Theo Derick. Ketiganya melihat pengalaman bukan sekadar sesuatu yang dilewati, tetapi dapat menjadi ruang untuk memahami diri, orang lain, sekaligus menentukan langkah berikutnya.

Mendengarkan untuk Memahami

Dalam sesi In Her View by Pancatera, Caroline Soerachmat menekankan bahwa kemampuan bercerita perlu berjalan bersama keberanian untuk mendengarkan. Menurutnya, di era ketika setiap orang memiliki alat dan platform untuk membagikan cerita, banyaknya suara yang muncul belum tentu membuat orang semakin memahami satu sama lain. “Bercerita bukan hanya tentang berbicara, tetapi tentu saja agar kita memiliki keterampilan mendengarkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, mendengarkan membutuhkan keberanian untuk menunda penilaian terhadap cerita, pendapat, pengalaman, maupun sudut pandang orang lain. Termasuk menahan diri untuk tidak langsung memotong pembicaraan dengan pengalaman pribadi.

Menurut Caroline, seseorang perlu membuka ruang untuk memahami cerita orang lain sebelum membandingkannya dengan pengalaman sendiri. Sikap tersebut juga dapat membuat percakapan menjadi lebih bermakna.

Rasa ingin tahu menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Alih-alih langsung menghakimi, seseorang dapat bertanya lebih jauh untuk memahami mengapa orang lain memiliki pengalaman atau hasil yang berbeda. “Jangan menghakimi, tetapi lebih penasaran dengan wawasan mereka,” katanya.

Bagi Caroline, mendengarkan cerita orang lain juga dapat menjadi ruang refleksi. Pengalaman seseorang mungkin memberikan perspektif baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Karena itu, ia menekankan bahwa hubungan antarmanusia tidak cukup dibangun dengan sekadar menunggu giliran untuk memberikan respons. “Kita di sini mendengarkan bukan untuk menjawab, kita mendengarkan untuk memahami,” terangnya.

Membangun Ruang Aman melalui Cerita

In Her View by Pancatera mempertemukan empat perempuan dengan pengalaman dan perspektif berbeda, yakni Caroline Soerachmat, Kai Soerja, Karina Bastewari, dan Marissa Anita, dengan Melon Lemon sebagai produser.

Dalam sesi tersebut, Caroline menilai ruang percakapan seperti In Her View tidak hanya menjadi tempat berbagi cerita, tetapi juga membuka kesempatan bagi orang lain untuk merasa menjadi bagian dari percakapan. “Space like this, we’re together, not only us, you guys as well, to start a movement, like a discussion, helping each other,” katanya.

Menurutnya, keberanian untuk berbagi cerita juga perlu berjalan bersama kemampuan untuk saling mendengarkan. Dengan begitu, percakapan tidak berhenti sebagai pertukaran pengalaman, tetapi dapat berkembang menjadi ruang untuk saling memahami dan memberikan perspektif baru.

Bagi Pancatera, cerita juga tidak harus menjadi ajang membandingkan pengalaman. Setiap orang memiliki perjalanan sendiri dan dukungan terhadap satu sama lain menjadi bagian penting ketika menghadapi tantangan kehidupan.

Pendekatan tersebut kemudian menjadi bagian dari upaya membangun komunitas. Hubungan dengan audiens tidak hanya dibangun melalui perhatian, tetapi melalui rasa didengar, dipahami, dan dipercaya.

Anak Muda Perlu Mendengarkan Dirinya Sendiri

Perspektif mengenai memahami diri juga disampaikan Dipa Andika. Ia melihat generasi muda saat ini memiliki keberanian lebih besar untuk menciptakan sesuatu. Menurut Dipa, banyaknya pilihan yang tersedia saat ini menjadi peluang sekaligus tantangan. Pilihan pendidikan, pekerjaan, hingga berbagai bidang kreatif berkembang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya.

Namun, banyaknya pilihan tersebut tidak selalu membuat seseorang lebih mudah menentukan jalan. Menurutnya, anak muda terkadang justru mengikuti pilihan lingkungan atau teman meski pilihan tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan keinginan mereka. Karena itu, ia mengingatkan generasi muda untuk kembali mendengarkan dirinya sendiri ketika menentukan arah. “Dengarkan intuisimu. Dengarkan dirimu sendiri,” ujarnya.

Ia juga melihat potensi anak muda Surabaya yang telah berkembang di berbagai kota, khususnya Jakarta. Menurutnya, sudah saatnya keberhasilan tersebut turut digunakan untuk membangun dan memperbesar potensi di kota asal.

Bagi Dipa, perkembangan tidak harus selalu berarti meninggalkan Surabaya. Mereka yang telah memiliki pengalaman dan kemampuan dapat membawa kembali pengetahuan tersebut untuk mengembangkan ekosistem di kota sendiri.

Kegagalan Bukan Berarti Hidup Gagal

Sementara itu, Theo Derick mengajak anak muda melihat kegagalan dari perspektif berbeda. Menurutnya, kegagalan merupakan fase yang dapat membentuk seseorang agar berkembang. “Kegagalan hidup itu tidak sama dengan hidup yang gagal,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini adalah knowledge overload. Informasi tersedia dalam jumlah sangat besar, sementara pengalaman yang dimiliki seseorang mungkin belum cukup untuk mengolah seluruh informasi tersebut. Persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana memperoleh informasi, tetapi bagaimana menemukan pengetahuan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi diri.

Theo melihat IdeaFest dapat menjadi salah satu ruang bagi anak muda untuk menemukan informasi yang lebih relevan melalui berbagai perspektif praktisi dan pengalaman langsung dari dunia industri.

Ia juga mendorong generasi muda untuk tidak terlalu mengejar hasil instan. Proses, menurutnya, tetap penting untuk membentuk pengalaman dan kemampuan seseorang. Pemanfaatan berbagai sumber daya yang tersedia, mulai dari media sosial, AI hingga akses informasi, dapat dilakukan secara optimal untuk mendukung proses tersebut.

Pada akhirnya, perspektif Pancatera, Dipa, dan Theo bertemu pada satu hal: pengalaman perlu dipahami, bukan sekadar dilewati. Mendengarkan cerita orang lain dapat membuka perspektif baru. Mendengarkan diri sendiri membantu seseorang menentukan pilihan yang lebih sesuai.

Sementara menerima kegagalan sebagai bagian dari proses memberi ruang untuk terus belajar dan berkembang. Di tengah dunia yang semakin ramai oleh suara dan informasi, kemampuan untuk berhenti sejenak, mendengarkan, dan memahami perspektif yang berbeda justru menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menentukan langkahnya sendiri. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *