Peristiwa

Alumnus ITS Kembangkan Teknologi Tambak Cerdas Berbasis AIoT untuk Tingkatkan Produktivitas Petambak

29
×

Alumnus ITS Kembangkan Teknologi Tambak Cerdas Berbasis AIoT untuk Tingkatkan Produktivitas Petambak

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Inovasi teknologi berbasis Artificial Intelligence of Things (AIoT) yang dikembangkan alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan solusi baru bagi sektor budidaya perikanan.

Melalui perusahaan rintisan Crustea Indonesia, teknologi tambak cerdas tersebut dirancang untuk membantu petambak meningkatkan kualitas air, menekan konsumsi energi, serta mengurangi risiko gagal panen. Inovasi ini juga mengantarkan pendirinya meraih Juara 1 pada ajang 13th World Bank Group Youth Summit di Washington DC, Amerika Serikat.

Founder dan CEO Crustea Indonesia, Roikhanatun Nafi’ah, alumnus Departemen Teknik Sistem dan Industri ITS, menjelaskan bahwa inovasi tersebut lahir dari persoalan yang selama ini dihadapi petambak, seperti rendahnya kadar oksigen terlarut di tambak, tingginya biaya operasional, serta keterbatasan akses listrik di sejumlah wilayah. “Jadi kami membangun solusi dari masalah yang kami alami sendiri sebagai petambak,” ujarnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Crustea Indonesia mengembangkan Eco-Aerator bertenaga surya yang mampu menghasilkan kadar oksigen lebih stabil dengan konsumsi energi lebih rendah. Teknologi ini juga dapat dimanfaatkan di kawasan tambak yang belum terjangkau jaringan listrik sehingga mengurangi ketergantungan terhadap listrik PLN maupun bahan bakar minyak. “Aerator cerdas ramah lingkungan ini menghasilkan oksigen secara stabil dan lebih tinggi, sekaligus mengurangi ketergantungan pada listrik PLN maupun BBM,” ungkapnya.

Selain itu, Crustea Indonesia menghadirkan sistem AIoT yang mampu memantau kondisi tambak secara real-time dengan mengukur kadar oksigen, suhu, pH, dan salinitas air. Sistem tersebut secara otomatis mengaktifkan atau menghentikan aerator sesuai kondisi tambak sehingga penggunaan energi menjadi lebih efisien.

Perusahaan juga mengembangkan sistem manajemen energi pintar yang memungkinkan pemantauan konsumsi listrik, pengendalian perangkat dari jarak jauh, hingga pemberian peringatan dini apabila terjadi gangguan.

Sejak mulai dikomersialkan pada September 2022, teknologi Crustea Indonesia telah dimanfaatkan oleh lebih dari 1.000 petambak di berbagai daerah di Indonesia. Pada tahun ini, perusahaan menargetkan dapat menambah sekitar 2.000 petambak baru yang memanfaatkan teknologi tersebut.

Selain menyediakan perangkat, Crustea Indonesia juga menyelenggarakan sekolah lapang tahan iklim, pelatihan adopsi teknologi, serta program pemberdayaan perempuan di sektor budidaya sebagai bagian dari pengembangan ekosistem akuakultur yang lebih inklusif.

Berdasarkan implementasi di lapangan, teknologi tersebut mampu menurunkan tingkat kematian ikan dan udang hingga 50 persen, memangkas biaya operasional pengguna diesel hingga 80 persen, serta membantu mencegah emisi karbon lebih dari 23 ribu ton CO₂e. Saat ini, Crustea Indonesia juga mulai memperluas adopsi teknologi ke sejumlah negara, seperti Afrika, Filipina, India, dan beberapa negara lainnya.

Bagi Nafi’, penghargaan dari World Bank menjadi pengakuan atas kemampuan inovasi anak bangsa dalam menghadirkan solusi bagi sektor perikanan. Ia berharap teknologi yang dikembangkan dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung budidaya yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *