JAKARTA (Suarapubliknews) ~ Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai fundamental ekonomi nasional yang tetap kuat serta berbagai reformasi di pasar modal menjadi faktor utama yang menjaga daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi jangka panjang, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami koreksi sepanjang tahun ini.
Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia dinilai memiliki sejumlah keunggulan struktural, mulai dari besarnya pasar domestik, bonus demografi, hingga kekayaan sumber daya alam strategis seperti nikel, tembaga, emas, gas alam cair (LNG), dan minyak kelapa sawit. Kondisi tersebut turut didukung posisi Indonesia sebagai anggota G20, BRICS, dan salah satu pendiri ASEAN.
Kinerja ekonomi nasional juga masih menunjukkan ketahanan. Pada kuartal I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen, ditopang konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, belanja pemerintah, serta meningkatnya aktivitas investasi. Selain itu, aktivitas manufaktur masih berada pada zona ekspansif, surplus neraca perdagangan berlanjut, dan realisasi investasi terus meningkat.
Di pasar modal, meski IHSG mengalami fluktuasi, aktivitas perdagangan dinilai tetap solid. Koreksi yang terjadi justru membuat valuasi saham Indonesia semakin kompetitif. Per 8 Juni 2026, IHSG diperdagangkan pada Price Earnings Ratio (PER) sekitar 12,85 kali, sementara 434 saham tercatat memiliki Price to Book Value (PBV) di bawah satu kali, sehingga dinilai menarik bagi investor jangka panjang yang mengedepankan analisis fundamental.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan kondisi pasar saat ini perlu dilihat secara menyeluruh dengan mempertimbangkan fundamental ekonomi nasional, kinerja perusahaan tercatat, serta berbagai reformasi yang terus dilakukan regulator dan Self-Regulatory Organizations (SRO).
“Berbagai langkah reformasi yang dilakukan regulator dan SRO merupakan bagian dari komitmen untuk meningkatkan transparansi, memperkuat tata kelola, dan membangun pasar modal yang semakin kredibel. Dengan fundamental ekonomi dan korporasi yang tetap kuat, kami optimistis pasar modal Indonesia akan terus menjadi pilihan investasi yang menarik bagi investor domestik maupun global dalam jangka panjang,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (17/7).
Optimisme tersebut juga tercermin dari meningkatnya jumlah investor domestik. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Juni 2026, jumlah investor pasar modal telah mencapai 28,9 juta Single Investor Identification (SID). Dari jumlah tersebut, investor saham dan surat berharga lainnya mencapai 9,9 juta SID, meningkat 15,1 persen dibandingkan akhir 2025 yang tercatat sebanyak 8,6 juta SID.
Selain jumlah investor yang terus bertambah, investor domestik kini menguasai 61 persen kepemilikan saham di pasar modal Indonesia, sedangkan investor asing memiliki porsi 39,1 persen. Dari sisi transaksi, investor domestik juga menyumbang 65,5 persen dari total nilai perdagangan di BEI, menunjukkan semakin kuatnya peran investor dalam negeri dalam menjaga stabilitas pasar.
Untuk semakin meningkatkan kepercayaan investor, BEI bersama Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terus mempercepat reformasi pasar modal yang berfokus pada peningkatan transparansi dan kualitas informasi.
Sejumlah kebijakan yang telah diterapkan sepanjang 2026 meliputi publikasi data kepemilikan saham di atas 1 persen, peningkatan ketentuan minimum free float perusahaan tercatat menjadi 15 persen, perluasan klasifikasi investor menjadi 39 kategori, serta implementasi mekanisme High Shareholding Concentration (HSC). Reformasi tersebut ditujukan untuk memberikan akses informasi yang lebih komprehensif sehingga investor dapat melakukan analisis dan pengambilan keputusan investasi secara lebih baik.
BEI juga terus memperluas keterbukaan informasi melalui penyelenggaraan Public Expose Live, publikasi data free float dan kepemilikan saham terkonsentrasi, serta layanan IDX Hotdesk sebagai kanal komunikasi bagi pelaku pasar.
Menurut BEI, kombinasi antara fundamental ekonomi yang tetap kuat, kinerja emiten yang resilien, pertumbuhan investor domestik, serta reformasi transparansi yang berjalan konsisten menjadi modal penting bagi Indonesia untuk terus menarik investasi jangka panjang sekaligus memperkuat daya saing pasar modal nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global. (feb, tama dini)












