BisnisPeristiwaPolitik

Di Tengah Kesibukan sebagai Legislator, Herlina Harsono Njoto Sukses Menyandang Gelar Doktor Psikologi

80
×

Di Tengah Kesibukan sebagai Legislator, Herlina Harsono Njoto Sukses Menyandang Gelar Doktor Psikologi

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) – Anggota DPRD Kota Surabaya, Herlina Harsono Nyoto, S.Psi., M.Psi., Psikolog, resmi menyandang gelar Doktor Psikologi setelah berhasil menyelesaikan pendidikan Strata Tiga (S3) di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR). Pencapaian tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan akademik sekaligus pengabdiannya sebagai legislator.

Keberhasilan meraih gelar doktor tidak hanya menjadi prestasi pribadi, tetapi juga menghadirkan kontribusi ilmiah bagi pengembangan demokrasi dan politik di Indonesia melalui riset disertasi yang diangkatnya.

Dalam penelitian tersebut, Herlina menyoroti tantangan besar yang dihadapi partai politik dalam mempertahankan eksistensi dan relevansinya di tengah perubahan perilaku pemilih yang semakin kritis dan rasional.

Salah satu temuan penting dalam risetnya adalah semakin tingginya kesadaran masyarakat dalam menentukan pilihan politik. Pemilih dinilai tidak lagi mudah dipengaruhi oleh faktor material semata, melainkan mempertimbangkan berbagai aspek yang lebih substantif.

“Tantangan di luar sana sangat luar biasa. Fenomena saat ini menunjukkan bahwa pemilih itu pintar. Ada kalanya mereka diberikan materi atau uang, tetapi pada saat di bilik suara mereka tetap memilih opsi yang lain,” ujar Prof. Dr. Suryanto, M.Si., Psikolog, saat memberikan tanggapan dalam sidang doktoral.

Berangkat dari fenomena tersebut, Herlina menawarkan konsep Komitmen Afektif (Affective Commitment) sebagai salah satu strategi penting dalam memperkuat kelembagaan partai politik. Menurutnya, loyalitas dan keterikatan emosional tidak cukup dibangun hanya di kalangan kader internal partai, tetapi juga harus ditumbuhkan di tengah masyarakat sebagai konstituen.

Ia menilai kegagalan membangun dan menjaga komitmen afektif menjadi salah satu faktor yang menyebabkan sejumlah partai politik kehilangan basis dukungan hingga akhirnya tersingkir dari kontestasi politik nasional.

Selain menampilkan gagasan ilmiah yang relevan dengan dinamika politik modern, perjalanan akademik Herlina juga menyimpan kisah perjuangan yang inspiratif. Di tengah kesibukannya sebagai anggota DPRD Surabaya, ia sempat mengalami masa stagnasi studi selama hampir tiga semester.

Namun, dorongan dari berbagai pihak, termasuk pimpinan Program Doktor Psikologi UNAIR, membangkitkan kembali semangatnya untuk menyelesaikan pendidikan hingga tuntas.

“Drama itu akhirnya resmi berhenti di titik ujian terbuka ini,” ungkap Herlina mengenang perjalanan panjangnya menuntaskan studi doktoral.

Berdasarkan data Program Doktor Psikologi UNAIR, Herlina tercatat sebagai lulusan ke-8 dari angkatannya sekaligus doktor ke-116 yang dilahirkan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Menariknya, sepanjang proses pendidikan doktoral tersebut ia harus melewati tujuh tahapan ujian akademik sebelum akhirnya dinyatakan lulus pada sidang terbuka.

“Keberhasilan itu bukan hanya milik mereka yang berjalan paling cepat. Keberhasilan adalah milik mereka yang tidak pernah berhenti berjalan. Kalau lelah, beristirahatlah sejenak, tetapi jangan pernah berhenti berjalan untuk meraih cita-cita,” pesan Herlina.

Pada momen penuh haru tersebut, Herlina juga menyampaikan apresiasi kepada promotor, dewan penguji, keluarga, kolega, serta seluruh pihak yang mendukung perjuangannya selama menempuh pendidikan doktoral.

Baginya, gelar doktor bukanlah akhir dari sebuah pencapaian, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan menghadirkan kebijakan yang berbasis riset serta kebutuhan masyarakat.

Dengan bekal keilmuan psikologi yang semakin mendalam, Herlina berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam penyusunan kebijakan publik, penguatan demokrasi, serta pembangunan masyarakat yang lebih berdaya dan berkeadilan.

“Ilmu yang saya peroleh akan saya dedikasikan sepenuhnya untuk masyarakat, bangsa, dan negara. Karena pada akhirnya, pendidikan harus memberi manfaat yang nyata bagi kehidupan bersama,” pungkasnya. (q cox)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *