SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Kebun Binatang Surabaya (KBS) dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi destinasi wisata edukasi berbasis pengalaman (experiential tourism), tidak hanya mengandalkan pendapatan dari penjualan tiket masuk. Pengembangan konsep wisata yang lebih interaktif dinilai dapat meningkatkan pengalaman pengunjung sekaligus membuka peluang sumber pendapatan baru bagi pengelola.
Pandangan tersebut disampaikan Program Coordinator Creative Tourism Universitas Kristen Petra, Devi Destiani Andilas. Menurutnya, sebagai salah satu destinasi wisata ikonik di Surabaya yang telah berdiri sejak 1916, KBS memiliki potensi besar untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lebih beragam sehingga pengunjung memiliki alasan untuk datang kembali.
“Kebun binatang konvensional umumnya memang hanya mengandalkan tiket dan atraksi sederhana. Tetapi KBS tidak boleh mengandalkan hal ini saja. Jika dilihat dari experiential tourism, ada banyak potensi yang bisa dieksplorasi agar pengunjung tidak merasa monoton,” ujarnya.
Salah satu konsep yang diusulkan adalah behind the scene tour, yakni mengajak pengunjung melihat langsung aktivitas di balik pengelolaan kebun binatang. Melalui konsep tersebut, masyarakat tidak hanya melihat satwa dari balik kandang, tetapi juga mengenal proses perawatan, pemberian pakan, hingga profesi para pengelola satwa.
“Pengunjung bisa diajak tur behind the scene. Seperti di Jakarta Aquarium ada show mermaid, lalu pengunjung diberi kesempatan masuk ke balik tabung untuk melihat aktivitas staf memberikan makan dan perawatan. Nah, di KBS hal ini bisa menjadi edukasi profesi pengelola satwa yang memorable,” jelasnya.
Selain itu, Devi juga menilai pengalaman memberi makan satwa dapat dikembangkan menjadi kegiatan edukatif yang lebih mendalam. Misalnya, pelajar dan mahasiswa tidak hanya memberi makan satwa, tetapi juga diajak mempelajari penyusunan nutrisi, proses penyiapan pakan, hingga simulasi live feeding bersama petugas.
“Kalau mau memberikan experience, pengunjung bisa diajak terlibat dalam prosesnya. Misalnya khusus pelajar dan mahasiswa, diajak melihat proses penyiapan nutrisi (meal plan), menyusun variasi makanan satwa bahkan melihat dan mensimulasikan secara langsung proses penyiapan pakan live-feeding bersama petugas. Kegiatan ini pasti diminati,” katanya.
Untuk memperkuat segmen wisata edukasi, Devi mengusulkan agar KBS mengembangkan paket kunjungan berbasis kurikulum sekolah melalui sistem membership. Menurutnya, materi pembelajaran di sekolah dapat diintegrasikan dengan tema kunjungan ke KBS sehingga siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih kontekstual.
“Tim pemasaran KBS harus jeli membedah kurikulum sekolah. Apa yang dipelajari di kelas, itu yang diintegrasikan dengan aktivitas di KBS. Misalnya, materi kelas 2 SD semester satu tentang metamorfosis atau ganti kulit ular, lalu semester dua tentang rantai makanan. KBS bisa menyediakan paket lima kali kunjungan dalam setahun dengan topik berbeda yang disesuaikan dengan pelajaran sekolah. Kalau dipaketkan, harganya bisa lebih terjangkau,” paparnya.
Di sisi lain, Devi menilai pengembangan KBS tidak harus dilakukan melalui penambahan lahan maupun wahana baru. Optimalisasi area yang sudah ada melalui penyelenggaraan acara tematik, wisata edukasi musiman, hingga penyewaan area untuk kegiatan perusahaan maupun komunitas dinilai dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan pendapatan di luar penjualan tiket masuk.
“Lewat inovasi kemasan produk dan wisata berbasis pengalaman, KBS diharapkan tak hanya bangkit dari masalah tata kelola, tetapi juga bertransformasi menjadi destinasi edukasi modern yang mandiri secara finansial,” tutupnya. (feb, tama dini)












